Fungsi Sejarah

control the past

Pertanyaan yang paling sering muncul adalah, “Apa untungnya mempelajari sejarah?”. Tidak sedikit anak muda yang mencap pelajaran sejarah bagaikan menghidupkan zombi, sehingga sama sekali tidak ada fungsinya. Atau dengan mengutip ungkapan “nasi telah menjadi bubur”, orang menyatakan pandangannya bahwa sejarah adalah peristiwa yang telah berlalu, tidak bisa diubah apalagi diperbaiki. Jadi lupakan saja…

Pada tulisan ini, akan dicoba untuk mengkaji fungsi sejarah. Pertama, oleh karena sejarah selalu bicara tentang asal muasal sesuatu, maka salah satu kegunaan sejarah adalah untuk mengetahui asal muasal. Secara akademik sejarawan bertugas untuk seobyektif dan selengkap mungkin menjelaskan berbagai peristiwa penting di masa lampau. Dari sudut pandang ini, historiografi merupakan rekaman tentang masa lampau yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pola kerja seperti di atas dikenal sebagai “sejarah demi sejarah”, karena untuk menjaga keilmiahan karyanya, sejarawan sama sekali tidak memperhitungkan pihak lain di luar ilmu sejarah, seperti masyarakat umum dan pelajar.

Salah satu ciri yang menunjukkan historiografi akademik, adalah gaya bahasa yang digunakan. Meski menggunakan bahasa yang dikenal luas oleh masyarakat, tetapi kata-kata yang dipilih banyak mengandung istilah teknis dan menghindari kata-kata yang bermakna lebih dari satu. Contoh kata teknis dari ilmu sejarah antara lain: rekonstruksi, interpretasi dan ekskavasi. Pada pemilihan kata, sejarawan akan memilih untuk menggunakan kata “dapat” dari pada “bisa” dengan pertimbangan bahwa kata “bisa” mengandung makna ganda, yaitu “dapat” dan “racun”.

Pertanyaan selanjutnya adalah, “Dengan mengetahui asal muasal, masyarakat untungnya apa?” Jawabannya bisa banyak, antara lain:

  1. Untuk mengetahui jati diri suatu masyarakat. Dengan mempelajari tentang masa lampau, masyarakat sekarang dapat memahami berbagai nilai, norma, organisasi dan prasarana fisik yang telah dikembangkan dan dibanggakan oleh nenek moyangnya.
    Masyarakat menjadi paham tentang betapa tingginya semangat nenek moyang mereka dalam mengembangkan hidup agar lebih sesuai dengan tata nilai yang dianut. Dari sudut pandang ini, sejarah menjadi alat penting untuk melestarikan dan sekaligus mewariskan berbagai hal dari masa lampau. Di lain pihak, dengan membaca sejarah masyarakat menjadi paham tentang siapa diri mereka dan sekaligus kemana tujuan hidup diarahkan. Sebagai contoh, dengan mempelajari batu kubur (prasarana fisik), kita dapat memetik pelajaran bahwa nenek moyang kita pada jaman pra sejarah mengembangkan dan membanggakan nilai penghormatan terhadap orangtua dan leluhur. Bertitik tolak dari fenomena sejarah itu, masyarakat sekarang dapat mengatakan bahwa menghormati orangtua dan leluhur merupakan jatidiri mereka.
  2. Terkait dengan point 1, sejarah juga menjadi bahan refleksi masyarakat sekarang tentang tepat tidaknya jalan yang selama ini telah ditempuh. Dalam arti tertentu, sejarah menjadi alat penting bagi masyarakat sekarang untuk mendekonstruksi diri dan sekaligus merekonstruksi ulang jatidiri mereka. Sebagai contoh, “tepatkah kita mencemooh ziarah kubur sebagai musyrik sesuai pandangan Agama Islam yang berkonteks Arab?”; “Tepatkah kita memandang sederajad dengan orangtua sesuai dengan slogan equality dalam demokrasi yang berkonteks Barat?”. Pertanyaan-pertanyaan itu (bisa ditambah sendiri) membuka peluang bagi masyarakat sekarang untuk merekonstruksi ulang diri mereka sendiri tentang nilai, norma, organisasi dan prasarana fisik yang paling cocok untuk mereka dalam menuju ke masa depan.

 

REFLEKSI: Kematian Sejarah

Sebagai ilmu, sejarah menempatkan masa lampau sebagai obyek. Soekarno, presiden pertama Indonesia, menganalogikan peristiwa sejarah seorang puteri nan cantik jelita yang telah mati. Meski kecantikannya tiada banding, tetapi telah menjadi mayat. Meski kecantikannya enak untuk diperbincangkan, tetapi tidak ada manfaatnya bagi kehidupan sekarang. Sejarah Indonesia hanya akan ada manfaatnya untuk dipelajari apabila didasari keyakinan bahwa apabila tidak ada tekanan asing, perjalanan bangsa Indonesia akan sampai ke kejayaan:

Kita harus mempeladjarinja dan mengkagoemkannja, hanja soepaja mengetahoei bahwa feodalisme kita di zaman doeloe itoe adalah feodalisme jang hidoep, feodalisme jang tidak sakit-sakitan, feodalisme jang gezond dan boekan feodalisme jang ziekelijk – satoe feodalisme jang penoeh dengan ontwikkelings kansen, dan jang oempama tidak ada interruptie dari loearan, nistjaja bisa “meneroeskan perdjalanan procesnja”,… ja’ni bisa melahirkan satoe pergaoelan hidoep jang modern dan sehat di zaman sekarang. (DBR, hlm 623)

Dewasa ini narasi sejarah Indonesia tidak seperti yang diharapkan Soekarno, tetapi justru memuja segala sesuatu dari asing dan memojokkan peradaban lokal pada sudut yang gelap. Hasilnya dapat diperkirakan sebelumnya bahwa segala sesuatu yang dianggap penting oleh generasi baru Indonesia adalah tentang kedatangan unsur asing ke Indonesia yang mampu mengeliminasi unsur asli.

Narasi sejarah tidak mampu memainkan fungsinya dalam memberikan sumbangan bagi masyarakat sekarang untuk penemuan jatidiri dan sekaligus media untuk dekonstruksi dan rekonstruksi ulang. Bahkan sejarah, entah sadar atau tidak, justru membangun benteng yang menutup pintu bagi masyarakat sekarang untuk menemukan jatidiri mereka. Pernyataan bahwa “Kebudayaan asli Indonesia tidak mungkin ditemukan” atau “Sebaiknya kita mengembangkan budaya hibrid” merupakan ekspresi keputusasaan dan kebingungan akan hilangnya jatidiri masyarakat.

Kegagalan sejarah dalam memainkan fungsinya selain merusak masyarakat sekarang dan menyuramkan masa depan mereka, secara tidak langsung juga membunuh ilmu sejarah sendiri. Oleh karena tidak mampu memberikan media untuk menemukan jatidiri dan sarana dekonstruksi, masyarakat memandang sejarah sebagai ilmu yang tidak bermanfaat. Sesuatu yang tidak berguna akan dikubur dan kalau beruntung menjadi fosil. Begitu halnya dengan sejarah. Pertanyaannya adalah bagaimana mengubah narasi sejarah sehingga mampu bangkit dan kembali memainkan perannya secara baik?

komentar

About Sastro Sukamiskin