Folk Mataram Institute: Meraba Seni Menyentuh Yogyakarta

Meraba Seni Menyentuh Yogyakarta

Budaya dan seni adalah dua hal yang saling berkaitan erat satu sama lain. Budaya dan seni di sebuah kota tertentu dapat menjadikan sebuah kota tampak memiliki suatu ciri khas tertentu di mata orang yang berada di luar daerah tersebut. Yogyakarta sangat terkenal dengan jiwa seni yang dimiliki oleh mayoritas penduduknya dan jiwa seni tersebut dirasa cukup tinggi. Jiwa seni yang tinggi harus benar-benar ditumbuhkan disetiap generasi muda Yogyakarta sebagai sisi yang dapat dibanggakan ketika ada pihak luar yang berkunjung ke Yogyakarta. Dunia seni membawa daya tarik tersendiri bagi sebagian besar orang. Bagi mereka yang pertama kali berkunjung ke kota Yogyakarta, hal pertama yang membuat mereka terpukau adalah keindahan budaya dan karya seni yang disuguhkan. Folk Mataraman Institute merupakan sebuah komunitas yang memberi ruang bagi siapa saja untuk berekspresi dan berkreasi. Komunitas Folk Mataraman Institute ini dibentuk atas dasar kesamaan minat dan tujuan dari masing-masing anggota untuk membangun Yogyakarta menjadi kota yang berbudaya. Komunitas Folk Mataraman Institute ini juga mengajak setiap orang untuk mengembangkan bakat seni yang terdapat dalam diri mereka serta mengajak mereka untuk menerapkan bakat seni yang mereka miliki tersebut dalam bentuk nyata seperti seni rupa, pembuatan design grafis, dan lain-lain. Tujuan yang mereka harapkan, upayakan dan lakukan bersama merupakan dasar dari sikap persaudaraan.

Komunitas ini memiliki tempat di jalan Langenarjan Lor no. 29, Yogyakarta. Pada awal mula terbentuknya komunitas ini di tahun 2009, komunitas Folk Mataraman Institute hanya bergerak di bidang sosial, dan awalnya hanya beranggotakan sekitar 10 orang yang berprofesi sebagai seniman seni rupa dan pelukis. Seiring berjalannya waktu, jumlah anggota yang bergabung dengan komunitas ini terus bertambah. Dari komunitas yang bergerak di bidang sosial tersebut, mereka selalu mencoba membuat sesuatu yang bermanfaat, kreatif, dan tidak terjebak dalam suatu bidang profesi. Komunitas Folk Mataraman Institute dibentuk tanpa adanya paksaan, kekerasan atau kepentingan pribadi dalam hal apapun. Komunitas ini merupakan komunitas yang bersifat terbuka, yang juga dimaksudkan bagi siapa saja yang ingin ikut bergabung, maka dapat langsung bergabung tanpa adanya pengkotak-kotakkan berdasarkarkan profesi atau tingkat pendidikan seseorang. Seni tidak dapat dihubungkan dengan tingkat pendidikan setiap orang karena seni adalah milik semua orang tanpa terkecuali. Seni tidak bisa dipaksa sebab seni muncul dari pribadi seseorang tanpa paksaan, maka jiwa seni seseorang dapat tumbuh dengan bebas.

Meskipun diprakarsai oleh kalangan yang berprofesi sebagai seniman, namun komunitas ini tetap bersifat universal. Komunitas Folk Mataraman Institute ini memiliki karakteristik anggota yang berasal dari berbagai profesi. Mulai dari politikus, aparat kepolisian, rektor, sarjana, dokter hewan, mahasiswa atau pelajar, seniman, pemuka agama, pedagang asongan bahkan pembantu rumah tangga. Fakta ini membuktikan bahwa mereka sangat terbuka dalam menerima anggota baru, tanpa memandang status sosial ataupun bidang pendidikan seseorang. Sikap keterbukaan mereka dapat terlihat pula dari sikap mereka yang ramah dalam menyambut dan menerima kami sebagai pewawancara. Sikap mereka yang ramah dalam menerima orang baru itu juga yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para calon anggota komunitas ini yang ingin bergabung dan ingin mengetahui lebih mengenai komunitas Folk Mataraman Institute tersebut.

Komunitas Folk Mataraman Institute adalah komunitas yang berhubungan dengan budaya. Mereka menjelaskan bahwa budaya yang berlaku di wilayah Yogyakarta adalah budaya timur atau budaya mataraman, dan sebagai orang jawa mereka memiliki semboyan ”Kamu adalah teman, musuh adalah kawan, menakhlukkan musuh tidak dengan peperangan tetapi dengan berteman”. Semboyan tersebut diartikan oleh mereka bahwa musuh terbesar yang setiap orang miliki saat ini merupakan sesuatu yang sulit untuk di sentuh karena sesungguhnya musuh tersebut adalah diri orang tersebut sendiri. Folk Mataraman Institute berperan sebagai komunitas yang memberikan ruang gerak bagi para anggotanya untuk melawan hal tersebut karena sebenarnya semua orang mampu dan bisa untuk berkembang. Sebagai contoh, politikus tidak harus selalu dicap sebagai orang yang “busuk” atau jahat, pedagang asongan bukan berarti tidak bisa apa-apa, musisi yang sudah lama tidak memiliki karya belum tentu tidak dapat menghasilkan karya lagi, seniman seni rupa yang tidak bisa membuat pameran tidak selamanya tidak akan bisa membuat pameran, dan sebagainya. Di komunitas ini, melalui kreatifitas dan banyaknya dukungan dari berbagai macam profesi, kekerabatan, pertemanan, persaudaraan, menyakinkan bahwa setiap orang tanpa terkecuali memiliki kesempatan untuk bisa dan mampu mewujudkan apa yang mereka miliki. Folk Mataraman Institute menyediakan wadah bagi mereka yang dikatakan sudah tidak bisa berkarya menjadi bisa menelurkan atau menghasilkan karya kembali.

Mereka menjaring pertemanan melalui berbagai media, salah satunya adalah Facebook. Mereka mempunyai forum Facebook dengan ID Folk Mataraman Institute. Anggota yang telah bergabung dalam komunitas ini sudah mencapai sekitar 5.900 hampir 6.000 orang. Di forum tersebut semua anggota bebas menulis apapun dan membaginya satu sama lain tanpa ada batasan waktu. Misalnya, ada yang membahas tentang sosial-budaya, design, audio, audio visual, dan lain-lain. Tetapi, mereka bergabung tidak hanya untuk berbagi tautan, tetapi juga membaca tautan dan kemudian dapat pula berkomentar via personal message. Bahkan ada yang sampai meminta soft copy untuk di cetak sendiri. Awalnya, tautan-tautan pada forum Facebook komunitas ini hanya berisi candaan. Misalnya pagi-pagi sudah mendapat surat gadai, yang artinya adalah Indonesia sedang mengalami keterpurukan dalam bidang ekonomi dan pada akhirnya saham dan semua surat-surat penting Indonesia digadaikan terlebih dahulu untuk membangkitkan perekonomian.

Komunitas Folk Mataraman Institute ini sangat berperan aktif dalam mendorong dan memajukan setiap anggota dari komunitas ini. Siapapun yang ingin berkembang dan maju, maka komunitas ini akan siap untuk membantu dan mendukung apapun keinginan yang akan mereka wujudkan. Namun, jika terdapat anggota yang tidak ingin maju dan justru membatasi diri mereka untuk berkembang meskipun telah didorong dalam berbagai hal oleh komunitas, maka dari pihak komunitas Folk Mataraman Institute akan membebaskan orang tersebut untuk berkembang sendiri sesuai dengan cara mereka masing-masing.

Folk Mataraman Institute berkarya pula melalui sindiran. Sindiran yang mereka buat, mereka tujukan kepada pemerintah dengan menggunakan bahasa yang halus. Jadi, mereka membuat semacam “Sanepo Basa” atau dalam istilah bahasa Jawa yaitu sindiran tetapi tidak dengan kekerasan. Mereka mengunggahnya di Facebook dan kemudian para pembaca memberikan komentar. Dalam hal ini Folk Mataraman Institute juga berperan sebagai wadah untuk berekpresi atau mengeluarkan uneg-uneg mereka. Dari hal itu, mereka menarik banyak anggota baru. Semakin banyak yang tertarik untuk bergabung dengan komunitas Folk Mataraman Institute ini. Kemudian mereka memiliki gagasan untuk membuat pameran perdana yang bernama Pameran Pasar Kencrung di Bentara Budaya Yogyakarta dan mereka membuat banyak alat musik kencrung dengan berbagai bentuk yang unik. Sejak pameran perdana mereka, komunitas ini terbentuk semakin besar dan semakin menarik banyak anggota baru.

Dalam ulang tahun Folk Mataraman Institute yang pertama, mereka memiliki semboyan “From Nothing to be Something”, yang artinya adalah dari yang bukan apa-apa menjadi sesuatu yang lebih baik dan berguna. Menurut mereka pula, orang-orang yang telah berada di atas, tidak akan selamanya mereka berada di atas. Ada kalanya mereka akan berada di bawah untuk mengajak saudara yang lain dan bersama-sama hidup selo dalam karya. Komunitas Folk Mataraman Intitute ini memberikan kesan bahwa kita tidak harus selalu berambisi untuk mendapatkan posisi atas, tetapi yang terpenting adalah menjadi manusia yang berguna melalui karya. Mereka juga sering mengatakan “Urip Selo” dengan urip selo maka ide akan muncul, kreatifitas akan tercipta dengan begitu seseorang dapat menjadi manusia yang produktif. Semboyan “Urip Selo” juga berarti hidup yang santai, tidak terikat, tapi fokus. Kita harus menikmati setiap jengkal dari pekerjaan kita.

Selain kegiatan dalam dunia maya atau online, ada pula kegiatan yang mereka lakukan diluar dunia maya. Pada 2013, 2014 dan 2015 mereka berkonsentrasi dalam dunia wayang. Wayang yang mereka buat dengan tangan sendiri tersebut memiliki sebutan masing-masing. Yang pertama adalah Wayang Rock n’ Roll, yang kedua Wayang Kencrung dan yang terakhir adalah Way;ang Prasmanan. Wayang-wayang tersebut sempat dipentaskan dan menuai banyak apresiasi positif dari berbagai kalangan. Mereka sempat mementaskan Wayang Rock n’ Roll sebanyak dua kali pementasan. Pertama, pementasan tersebut dilakukan di Rollingstone café, di daerah Kemang Raya, Jakarta dan kedua, dilakukan di daerah Kemang Selatan di sebuah café bernama DiaLoeGue Art Space Café. Wayang Prasmanan pernah mereka pentaskan di Gamelan saat ada acara Bung Landung Simatupang. Di acara pementasan-pementasan tersebut, mereka mendapat sambutan yang sangat baik. Pada tanggal 08 Februari 2015, mereka diminta untuk melakukan pementasan dengan wayang yang sama, namun cerita yang berbeda di acara Indonesia Kaya yang bertempat di daerah Jakarta. Dalam mementaskan seni perwayangan tersebut, mereka menyajikan konsep modern dengan mengangkat cerita dari kehidupan sehari-hari. Mereka mengangkat budaya lokal dengan kemasan yang lebih modern, misalnya dalam pementasan wayang tersebut mereka tidak lagi menggunakan gamelan sebagai pengiringnya. Namun, mereka menggunakan alat musik modern sebagai pengiringnya, seperti drum, keyboard, gitar dan gitar listrik. Dalam hal ini, mereka menyajikan budaya local dengan suguhan modern yang khas.

Selain dalam bidang perwayangan, mereka juga membuat karya yang berupa audio dan audio visual. Pada bidang audio dan audio visual, mereka membuat karya yang terinspirasi dari karya Bung “Cik” Sri Krisna, seorang seniman yang telah menghasilkan tiga album yang berjudul Ayu Lawang, Garuda Nusantara dan yang terakhir adalah Mimpi. Sekarang beliau sedang dalam proses mengeluarkan album yang keempat yang berkolaborasi dengan Pak Joko Pekik, yang merupakan seorang pelukis maestro. Seseorang yang biasa mereka panggil Bung Olsi pun banyak menciptakan karya audio visual yang bisa diakses di Youtube.

Pada dasarnya sebagian besar anggota Folk Mataraman Institute adalah orang-orang yang non-profile, namun mereka selalu berusaha untuk merangkul sesama. Komunitas ini sering mengadakan kegiatan yang berbentuk ekspresi seni yang bergaya bebas, namun tetap disajikan dengan gaya yang unik. Bahkan, para sastrawan sempat berpendapat bahwa komunitas ini mendobrak tatanan sastra yang ada karena anggotanya bebas untuk berekspesi melalui karya sastra tanpa harus terpaku pada aturan penulisan yang ada (misalnya puisi), namun para sastrawan tersebut malah menganggap bahwa hal itu unik dan hal tersebut menjadi salah satu ciri khas dari komunitas Folk Mataraman Institute dalam berkarya. Komunitas ini banyak mengadakan pertunjukan dan pementasan dibeberapa tempat. Hingga saat ini, peralatan yang mereka gunakan untuk pementasan adalah karya seni yang mereka ciptakan sendiri. Untuk masalah keuangan dalam pembuatan karya seni, khususnya untuk karya yang akan dipentaskan, mereka memperoleh dana dari hasil karya-karya seni yang juga mereka ciptakan sendiri. Ada karya yang mereka jual dan hasilnya mereka simpan. Ada juga hasil penjualan karya ciptaan Sri Krisna yang hasilnya lumayan besar. Ikatan persaudaraan di dalam komunitas ini pun sangat erat. Mereka saling mendukung satu sama lain dan memiliki rasa persaudaraan yang tinggi antar sesama anggota. Mereka meyakini pula bahwa bentuk dukungan tidak harus dalam bentuk uang ataupun materi, tetapi juga saling memberi semangat dan membangun semangat tersebut terhadap sesama.

Saat semakin berkembangnya komunitas Folk Mataraman Institute, mereka sempat dimintai tolong untuk ikut membantu penyelenggaraan beberapa acara yang diadakan oleh badan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka diminta untuk menjadi rekan kerja dalam bidang kreatifitas dibeberapa acara tersebut. Salah satu contohnya, mereka membantu membuat design stiker untuk acara sosialisasi pada festival Hari Anti Korupsi Sedunia yang sempat diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kata-kata yang terdapat dalam stiker-stiker tersebut pun merupakan kata-kata dari para anggota komunitas Folk Mataraman Institute.

Komunitas ini juga beberapa kali melakukan kegiatan sosial yang bersifat membantu, bagi mereka yang membutuhkan bantuan tetapi kurang mendapat perhatian. Pada tahun 2014, mereka mengadakan kunjungan ke salah satu panti asuhan yang terletak di daerah Bantul. Mereka membentuk keluarga kecil di panti asuhan tersebut. Keluarga kecil tersebut mereka beri nama Folk Mataraman Institute Kids (FMI Kids). Kegiatan tersebut memiliki tujuan untuk menanamkan sikap baik kepada anak-anak, terutama dalam hal kehidupan sosial mereka. Misalnya, bila ada orang yang tidak seberuntung keadaan kita saat ini, kita tidak boleh merendahkan atau meremehkan orang lain, namun kita harus tetap merangkulnya mereka sebagai saudara. Pada saat ulang tahun Folk Mataraman Institute yang pertama, mereka juga melakukan kegiatan sosial yang berupa bantuan untuk seorang bapak pedagang mainan anak-anak yang biasa berjualan menggunakan sepeda yang sudah tidak layak pakai. Beliau merupakan salah satu anggota dari Folk Mataraman Institute. Komunitas ini memberikan sebuah sepeda sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap beliau. Selain itu, mereka memberikan sepeda tersebut sebagai penghargaan atas kerja keras yang beliau lakukan meskipun beliau berkekurangan. Kegiatan sosial yang lain adalah pada saat mereka membantu salah satu komunitas yang diprakarsai oleh Rumah Sakit Mata Dr. Yap. Komunitas yang diprakarsai oleh Dr. Yap ini merupakan komunitas bagi kaum tunanetra. Komunitas tunanetra ini teridri dari orang-orang yang memiliki bakat hebat dalam kesenian, salah satunya adalah bidang musik. Maka, komunitas Folk Mataraman Institute memberikan kesempatan kepada mereka dengan memberi bantuan. Bantuan tersebut berupa uang serta panggung untuk mereka melakukan pementasan. Hal ini bertujuan supaya mereka mendapat kepercayaan diri dan keyakinan bahwa mereka juga bisa berkreasi seperti orang lain yang lebih beruntung.

Peta Lokasi :

Jalan Langenarjan Lor No. 29, Yogyakarta

Referensi :

Rustaman, Erwin Duta. 2015. Wawancara “Komunitas Folk Mataraman Institute” di Jalan Langerarjan Lor No. 29 Yogyakarta.

Setiaji, Agung. 2015. Wawancara “Komunitas Folk Mataraman Institute” di Jalan Langenarjan Lor No. 29 Yogyakarta.

About Sastro Sukamiskin