Earth Hour Jogja

Oleh
Sri Nugraheni (144214046) & Putu Ayumi (144214047)

 

Earth Hour merupakan suatu kegiatan global yang diadakan oleh World Wide Fund for Nature ( WWF ). Organisasi ini merupakan konservasi terbesar di dunia yang mengajak individu, komunitas, korporasi, dan pemerintah di seluruh dunia untuk memadamkan lampu selama 1 jam pada setiap hari sabtu di minggu ketiga bulan Maret setiap tahunnya. Kegiatan memadamkan lampu bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya tindakan serius menghadapi perubahan iklim. Earth Hour pertama kali dicetuskan oleh Leo Burnett yang diselenggarakan pada tanggal 31 Maret 2007. Pada saat itu 2,2 juta penduduk Sydney berpartisipasi dalam kegiatan pemadaman lampu tersebut.

Earth Hour diadakan secara global untuk pertama kalinya pada tanggal 28 Maret 2008 mulai pukul 20.00-21.00 waktu setempat. Ada 35 negara yang berpartisipasi dalam keikutsertaan dalam kegiatan ini dan didukung oleh 400 kota lainnya di seluruh dunia. Earth Hour 2008 ini berhasil diselenggarakan di semua benua di dunia. 36 juta orang berpartisipasi dalam mengikuti kegiatan ini dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim setiap tahunnya naik sebesar 4%. Earth hour dilaksanakan setiap bulan maret, karena dibeberapa bagian dunia mengalami perubahan musim dari musim semi ke musim gugur yang membuat cuaca tersebut paling kondusif bagi negara yang berpartisipasi, karena beberapa negara tida perlu menggunakan pendingin atau pemanas ruangan.

IMG_20150328_210434.jpg

Earth Hour memiliki logo khusus yaitu, “60+”, 60 menunjukan menit mematikan lampu di Earth Hour sebagai awal aksi gaya hidup energi dan tanda ‘+’ menunjukan komitment untuk bersama-sama gaya hidup yang hemat energi. Setiap komunitas Earth Hour di seluruh dunia menggunakan logo yang sama. Tanda ‘+’ juga memilik arti yang lain, yaitu perubahan gaya hidup semakin lebih baik mulai dari penggunaan transportasi publik, bersepeda, hemat air, tidak membuang sampah dengan sembarangan, hemat kertas, sikap mendaur ulang serta berkebun atau menanam pohon.

“Ini aksiku! Mana Aksimu?” merupakan slogan utama setiap pelaksanaan Earth Hour di Indonesia. Slogan ini dipilih untuk mendorong semua orang untuk ikut berpartisipasi dalam gerakan pemadaman lampu, karena satu aksi kecil dapat memberikan dampak yang besar terhadap bumi terkhususnya. Selain memberi dukungan masyarakat juga dapat menunjukan aksinya dalam melakukan perubahan gaya hidup menjadi lebih baik dan ramah lingkungan.

Indonesia untuk pertama kalinya membuka peluang dalam terbentuknya komunitas Earth Hour pada tahun 2009, kota-kota yang ikut menyertakan diri dalam pelaksanaan kegiatan Earth Hour di Indonesia antara lain, Aceh, Padang, Medan, Palembang, Pekanbaru, Lampung, Serang, Tangerang, Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi, Bandung, Cimahi, Yogyakarta, Solo, Kediri, Malang, Sidoarjo, Surabaya, Kota Batu, Denpasar, Mataram, Pontianak, Samarinda, Balikpapan, Palangkaraya, Banjarmasin, Palu, dan Makassar. Banyak kota-kota yang menyertakan dirinya untuk bergabung dalam komunitas ini dalam kuantitas yang besar, karna mereka mengetahui banyak sekali dampak yang bisa didapat untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global maupun perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia. Kegiatan ini di latar belakangi karena polusi yang disebabkan oleh asap kendaraan, maupun aktivitas pembuangan zat kimia dari pabrik yang merusak, maupun keadaan bumi yang semakin panas tidak ada lagi ruang hijau yang dapat menyeimbangkan suhu bumi sekarang ini.

Earth Hour di Indonesia lebih fokus di laksanakan di bagian daerah Jawa dan Bali karena 78% penggunaan listrik di Indonesia terpusat di daerah Jawa dan Bali. Distribusi penggunaan listrik terbagi menjadi Rumah Tangga 33%, Bisnis dan Perkantoran serta Gedung Komersial 30%, Sektor Industri 30%, Gedung Pemerintahan 3% dan Fasilitas Publik 4%.

Berbagai kampanye telah yang di lakukan oleh komunitas Earth Hour seperti, melanjutkan target perubahan gaya hidup dengan efisiensi penggunaan energi dan bisa meningkatkan potensi sumber energi baru yang dapat diperbaharui agar berdampak minilal terhadap lingkungan, selain itu juga mengajak dan mengedukasi masyarakat dalam pemanasan global dan dapat terbentuknya kegiatan cinta lingkungan oleh komunitas-komunitas di berbagai kota di Indonesia. Karena dari lingkungan bisa didapat manfaat untuk tubuh itu sendiri.

Komunitas Earth Hour Indonesia pertama kali di cetuskan di DKI Jakarta pada tahun 2009, kemuadian pada tahun 2010 diikui 2 kota lain yaitu Bandung dan Yogyakarta. Pada tahun 2011 keikutsertaan bertambah menjadi 7 kota yaitu, Semarang, Surabaya, Pontianak, Banjarmasin, Manado, Makassar, dan Sorowako. Di tahun 2012 beberapa kota lainnya pun ambil bagian dalam keikutsertaan dalam komunitas Earth Hour Indonesia di kota masing-masing.

Komunitas Earth Hour di Yogyakarta ini berdiri pada tahun 2010 dan masih dilaksanakan hingga saat ini. Earth Hour Jogja saat ini di ketuai oleh Ikhsan Martasuwita yang saat ini tercatat sebagai salah satu mahasiswa di Fisip UGM. Anggota dari komunitas Earth Hour Jogja merupakan mahasiswa-mahasiwa aktif dari bermacam-macam Universitas yang ada di kota Yogyakarta. Untuk menjadi anggota atau pengurus Komunitas Earth Hour Jogja tidak di butuhkan syarat-syarat tertentu, cukup dengan mengisi data diri, administrasi serta motivasi ingin bergabung sebagai anggota atau pengurus komunitas. Motivasi di tanyakan sebagai salah satu pertimbangan untuk memetakan anggota barunya pantas masuk di bagian apa dalam komunitas tersebut atau pantas mengatur kegiatan dan event seperti apa. Setiap tahun sekali biasanya pada bulan November di adakan open recruitment bagi mahasiswa yang tertarik untuk bergabung. Saat ini anggota Earth Hour Yogya yang terdaftar sekitar 200 orang. Tetapi, karena sifat komunitas ini sukarela atau voluntary dan tidak bersifat memaksa maka tidak semua anggota bisa hadir dan ikut serta dalam kegiatan rutin maupun regular secara bersamaan, sehingga anggota aktif Earth Hour Yogya saat ini hanya berjumlah 35 orang termasuk dengan anggota intinya.

Komunitas Earth Hour Jogja berdiri dengan harapan untuk mengubah gaya hidup dan kebiasaan masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan Jogja itu sendiri agar bisa beralih dan membuat bumi ini menjadi lebih baik. Komunitas Earth Hour Jogja mendapatkan sambutan yang baik dari masyarakat karena dewasa ini orang-orang semakin sadar bahwa kegiatan-kegiatan yang berbasis ke lingkungan sangatlah penting. Saat mengajukan berbagai kegiatan dan acara kesekolah-sekolah maupun instansi pendidikan, komunitas Earth Hour Jogja mendapat sambutan hangat dan baik dari guru-guru dan sekolah itu sendiri sudah sangat terbuka dengan menyediakan waktu untuk mengisi dan memberikan fasilitas bagi komunitas tersebut. Pengajaran yang diberikan untuk siswa-siswa sekolah dasar tidak lain adalah mengajarkan untuk lebih peduli, merawat bumi dan melestarikan alam sekitar yang ada sehingga tidak hilang maupun rusak akibat adanya pemanasan global maupun perubahan iklim yang semakin sering terjadi.

Selain mendekati masyarakat umum Earth Hour Jogja juga mendekati pemerintahan dan korporasi serta instansi pemerintahan dengan cara mengadakan audiensi dengan pemerintah Kabupaten, Kota dan Provinsi. Adapun sambutan dari ruang lingkup pemerintah sangatlah baik pula, sehingga pemerintah terkadang mau mengintegrasikan dan menyediakan tempat untuk merancangkan program dinas dengan program Earth Hour Jogja. Komunitas ini juga menjalin kerjasama dengan korporasi seperti hotel atau unit bisnis lainnya. Sehingga kegiatan ini di dukung positif oleh unit kerja dan pelaku bisnis yang mengaku bahwa kegiatan ini sangatlah bermanfaat dengan hanya memadamkan listrik selama 1 jam dapat membantu lingkungan dan bumi menjadi lebih baik.

Salah satu program kerja regular yang dilakukan oleh komunitas Earth Hour Jogja adalah SESAMI ( Sekolahku Sayang bumi ). SESAMI merupakan kegiatan mengedukasi atau mengisi kelas di Sekolah Dasar yang ada di Jogja. Program ini mengajak teman-teman Sekolah Dasar sejak dini bagaimana mereka bisa lebih hemat energi, lebih bijak menggunakan kertas, menyayangi tanaman dan peduli lingkungan sekitar. Program kerja SESAMI pertama kali di selanggarakan pada tahun 2013 dan mendapatkan respon yang sangat baik dari murid dan guru-guru dari berbagai Sekolah Dasar. Sehingga, SESAMI dijadikan sebagai program regular Earth Hour Yogya. Perencanaan program SESAMI dilakukan 2 kali setiap bulan di Sekolah Dasar- Sekolah Dasar yang ada di Jogja dari pukul 10.30-12.00.

Selain SESAMI, kegiatan rutin setiap tahun yang dilakuan komunitas ini adalah Jogja Malam Petengan yang dilakukan setiap minggu ketiga pada bulan maret. Pada tanggal 28 Maret 2015 yang lalu telah dilaksanakan kegiatan Jogja Malam Petengan di Panggung Realino Universitas Sanata Dharma yang di hadiri oleh perwakilan WWF dari Papua, Wakil Rektor IV Universitas Sanata Dharma, komunitas Indorunner regional Yogyakarta atau Komunitas Pelayon Jogjs serta mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai universitas negeri maupun swasta yang ada di Yogyakarta ikut mengisi acara dan menghibur para hadirin. Kegiatan Yogya Malam Petengan ini memiliki tujuan utama untuk mengajak orang-orang untuk memadamkan lampu bersamaan selama 1 jam. Selama pemadaman lampu dilaksanakan para tamu yang hadir di panggung realino di hibur dengan berbagai pentas seni yang dilakukan oleh para mahasiswa dan mahasiswi antara lain, Tarian, Stand Up Comedy, Acoustic Band, dan Pelukis dari ISI Yogyakarta ( Institut Seni ). Ikhsan sebagai ketua juga membagikan informasi dan menceritakan pengalamannya mengenai komunitas Earth Hour Jogja. Dana yang di dapatkan dari kegiatan ini di tujukan untuk Konservasi Penyu. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Earth Hour Jogja bersifat terbuka dan dapat di hadiri oleh masyarakat umum. Selain pentas seni komunitas Indorunner juga berpartisipasi untuk mengisi dan merayakna acara Jogja Malam Petengan dengan lari malam sejauh 7km mengelilingi kota Yogyakarta. Rute lari malam tersebut di mulai dari Sanata Dharma – UGM – Jembatan Sarcito – Tugu – Empire – dan kembali ke lagi Panggung Realino Sanata Dharma untuk merayakan bersama-sama Jogja Malam Petengan dalam pemadaman lampu untuk bumi yang lebih baik. Lari 7km diangkat sebagai tema sekaligus perayaan Earth Hour Indonesia yang ke-7.

20150328_191439.jpg

Suasana persiapan acara Jogja Petengan di Panggung Realino Universitas Sanata Dharma.

IMG_20150328_210508.jpg

Suasana Panggung Realino saat listrik di padamkan.

 

IMG_20150328_210439.jpg

Suasana sesaat sebelum pemadaman listrik. Para panitia menyalakan lilin di Panggung Realino.

 

20150328_191915.jpg

Tarian yang di tampilkan oleh mahasiswi-mahasiswi UNY

 

 

20150328_193634.jpg

Sambutan dari Wakil Rektor IV Universitas Sanata Dharma dan Ketua Komunitas Earth Hour Jogja Ikhsan MartaSuwita.

 

 

20150328_202601.jpg

 

IMG_20150329_083210.jpg

Komunitas Indo runner regional Jogja saat hendak memulai lari malam.

 

 

20150328_195529.jpg

Para peserta yang hadir di acara Jogja Petengan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

20150328_195529.jpg

Suasana di daerah Tugu saat pemadaman listrik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

20150328_195529.jpg

 

Jogja Malam Petengan diambil dari bahasa Jawa yang artinya Jogja Gelap. Pihak pemerintah ikut serta dalam pemadaman lampu ini dengan cara mematikan ikon kota Yogyakarta yaitu, Tugu Jogja dan 0km. Earth Hour Jogja juga berhasil mengajak para pihak pemerintah kabupaten Sleman, Pemerintah Kota Yogyakarta, Pemerintah Kota Kulon Progo, Kapolda DIY, dan Barrahmus. Dengan harapan pemerintah dapat menghimabu masyarakat untuk kedepanya juga turut ikut serta dalam pemadaman lampu ini.

Jumlah kuantitas dan kegiatan terbilang stabil karna sumber daya manusia yang ada kadang kala menghilang dan muncul seiring dengan kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas tersebut. Banyak sekali visi dan misi yang dirancangkan anggota terkadang mendapatkan kendala yang besar jika sumber daya manusianya kurang dari yang diharapkan untuk mendukung kegiatan tersebut bisa terlaksana.

Prestasi yang didapatkan oleh Komunitas Earth Hour Jogja tidak hanya dari sertifikat yang di dapat namun banyaknya dukungan dari pemerintah Yogyakarta itu sendiri maupun dari tingkat Provinsi. Dan tahun ini sudah melebar ke kabupaten yang lainnya, seperti Sleman, Kulon Progo dan Gunung Kidul. Komunitas Earth Hour Jogja ini memasuki tahun ke-7. Awal berdirinya komunitas ini tidak seperti sekarang, dibutuhkan proses dan usaha yang cukup agar mendapatkan dukungan dari pemerintah maupun korporasi. Komunitas Earth Hour Jogja pertama kali menawarkan kegiatan yang bersifat kelingkungan kepada pemerintah dan korporasi karena dengan melakukan hal itu, maka pemerinta dan korporasi akan mendapatkan citra yang baik didalam masyarakat. Citra yang baik adalah peduli terhadap lingkungan itu secara otomatis dapat membantu penyelanggaraan kegiatan ini.

Komunitas Earth Hour Jogja menjalin kerjasama dengan berbagai komunitas lain dan seirng kali di undang dalam seminar meskipun tidak selalu menjadi pembicara seminar melainkan lebih sering menjadi peserta seminar. Earth Hour Jogja biasanya lebih menjadi pembicara di acara talkshow, antusias para peserta atau pendengar talkshow baik karena komunitas ini merupakan komunitas global. Jadi, dalam acara talkshow tersebut Earh Hour Jogja menampilkan video-video dari komunitas Earth Hour dari berbagai negara sebagai media promosi Earth Hour Jogja di dalam masyarakat luas. Para pendengar atau peserta biasanya terpukau dan ingin lebih tau lebih lanjut mengenai komunitas tersebut. Halangan yang sering didapat para anggota ialah, dimana ketertarikan para peserta atau voluntary dalam mengikuti kegiatan seringkali mengalami pasang surut.

Program kerja biasanya di rencanakan di awal tahun dan di lakukan oleh anggota baru yang baru bergabung di Earth Hour Jogja dan memiliki banyak visi dan misi untuk merancang kegiatan maupun event dan aksi dari kegiatan yang sudah direncanakan. Tujuannya adalah untuk mengarahkan para anggota baru untuk berkreasi sendiri, dari hasil dan kampanye sudah dapat di lihat hasilnya sudah sesuai daripada harapan komunitas Earth Hour Jogja. Setiap tahunnya, banyak ide maupun gagasan baru yang muncul dan terkadang menjalin kerjasama untuk melaksanakan suatu kegiatan atau event dengan berbagai komunitas lainnya yang tidak hanya berbasis pada lingkungan. Kegiatan yang melibatkan komunitas lain di anggap menarik dan dapat mengembangkan potensi, apalagi jika kegiatan tersebut berhasil.

Tantangan yang di hadapi oleh komunitas ini terkadang menyangkut masalah internal, seperti keberadaan sumber daya manusia atau anggota yang timbul dan tenggelam. Terkadang, membuat rencana yang sudah di tentukan tidak berjalan sesuai yang diinginkan, karena kurangnya anggota untuk mengorganisir kegiatan tersebut. Pandangan publik juga masih menjadi tantangan lainnya, masih banyak masyarakat yang memandang Komunitas Earth Hour Yogya sebelah mata, dengan mengganggap hanya dengan memadamkan lampu selama 1 jam tidak memberi manfaat bagi mereka maupun lingkungan. Tantangan lainnya adalah saat event atau kerjasama di tolak namun jarang terjadi dengan komunitas ini. Pengajuan kegiatan sering mengandalkan teman-teman dekat maupun jaringan-jaringan yang dikenal atau sudah memiliki chanel agar bisa mengangkat kegiatan tersebut menjadi menarik. Di samping itu komunitas ini juga memberikan informasi dan mengingatkan masyarakat bahwa Earth Hour Jogja bukan tentang pemadaman lampu saja, melainkan tentang dampak yang di berikan dan bagaimana menyelamatkan bumi dari pemanasan global. Para anggota Earth Hour Jogja ingin menggeser pandangan umur yang masih tidak mengetahui tentang komunitas Earth Hour Jogja ini.

 

Feature ini di kutip dari hasil wawancara bersama ketua Earth Hour Jogja, Ikhsan Martasuwita (FISIP UGM) dan beberapa anggota Earth Hour Jogja yaitu: Randika Priyatma (TI AMIKOM), Ofi Engga (Akuntansi UNY) dan Nurahsifa (Teknologi Pangan UGM) pada tanggal 24 Maret 2015. Serta beberapa informasi penting juga di dapatkan dari situs resmi Earth Hour Indonesia http://earthhour.wwf.or.id/f-a-q/

About Sastro Sukamiskin