Cerpen Dua Dunia Nh. Dini: Ulasan singkat

Nh. Dini merupakan sosok pengarang yang kompeten. Ia berusaha menampilkan karya-karya unggulan dengan segala kerendahan hatinya. Dua Dunia merupakan salah satu karyanya yang menarik perhatian masyarakat pecinta sastra. Hal yang menarik yang terdapat dalam cerpen yang berisi tentang aspirasi feminis ini adalah segi tema di dalam karakteristik penokohan yang dibangun oleh pengarang yang seolah-olah sebagai pencerminan atas diri pengarang itu sendiri, yakni Nh. Dini yang peduli akan hak-hak perempuan (feminis).

Dua dunia

Cerita pendek Dua Dunia menceritakan kisah perjuangan Iswanti, seorang janda muda dengan satu anak. Dalam keadaan sakit, dia harus berjuang untuk mencari nafkah dan mempertahankan putri semata wayangnya, Kanti, agar tidak jatuh ke tangan bekas suaminya, Darwo. Penderitaan Iswanti sudah bermula ketika dia masih di bawah tanggung jawab orang tuanya, yaitu ketika dia harus mengerjakan tugas-tugas berat yang bukan menjadi tanggung jawabnya. Didikan dan perlakuan dari orang tuanya yang menganut paham patriarki membawanya dari penderitaan hidup yang satu ke penderitaan hidup yang lain. Perbuatan ibunya yang tidak bertanggung jawab dan suami hasil pilihan orang tuanya, membuat kesengsaraannya semakin berkepanjangan. Semenjak awal kehamilannya, dia harus menghadapi kenyataan bahwa suaminya berselingkuh di depan matanya sementara ibu mertua selalu menistanya. Sebagai wanita, bukan hanya dari orang tua tetapi juga dari suami dan ibu mertua yang menganut paham patriarki, Iswanti menuai penderitaan.

Dalam cerita pendek Dua Dunia, Nh. Dini mengajukan protes terhadap pendidikan orang tua terhadap anak perempuannya yang mengacu pada ajaran adat Jawa yang dinilainya hanya berorientasi pada kepentingan laki-laki. Menurut Nh. Dini tujuan orang tua mendidik anak perempuannya menjadi manusia yang berarti bagi keluarganya atau membawa kebesaran bagi nama keluarga adalah bukan mendidik anak untuk menuruti semua perkataan orang tua dan tanpa mempunyai pendapat sendiri atau tidak memberi kesempatan anak menentukan pilihannya sendiri karena orang tua juga bisa melakukan kesalahan. Dengan didikan yang salah tersebut akhirnya anak yang mengetahui apa yang benar tidak bisa berbuat apa-apa untuk meluruskan kesalahan karena diajarkan untuk selalu menuruti perkataan orang tua atau diajarkan untuk tidak membantah perkataan orang tua.

Dalam Dua Dunia, si anak perempuan yang bernama Iswanti tidak berani berbuat sesuatu untuk menyadarkan ibunya dari kesalahannya, yaitu berjudi dan menelantarkan keluarganya atau melaporkan perbuatan ibunya kepada ayahnya karena mungkin saja ibunya melarangnya untuk berbuat demikian. Karena ingin menjadi anak yang berbakti maka diapun menurut perintah ibunya. Pernikahan Iswanti dengan suami pilihan orang tuanya dapat saja dilandasi dengan kebutuhan orang tuanya akan uang akibat terbelit hutang di sana-sini. Pemikiran demikian didasari oleh perbuatan orang tuanya yang bersedia menerima uang tunjangan anak dari bekas suami Iswanti tanpa berkonsultasi dengannya atau memikirkan kebahagiaan cucu perempuan mereka. Jika demikian, maka kesalahan kembali dibuat oleh kedua orang tuanya, yaitu menikahkan anak perempuan mereka karena desakan ekonomi bukan karena memikirkan kebahagiaan anak.

Dari penokohan dan alur cerita yang disusun terlihat bahwa Nh. Dini menegasikan kebudayaan asli, yang menjadi tempat ia lahir dan dibesarkan, sebagai kebudayaan yang menindas wanita (Darwo bekas suaminya), mengejar kesenangan (Ibunya yang penjudi), tidak mempedulikan kesengsaraan orang lain (orang tua), dan patriarkhal.Nh. Dini mencoba berargumentasi bahwa mempersiapkan anak perempuan menjadi manusia yang berarti bagi keluarganya atau membawa kebesaran bagi nama keluarga juga bukan berarti hanya mempersiapkan anak perempuan untuk menjadi istri dan ibu yang baik saja karena tujuan hidup perempuan bukan hanya untuk melayani suami dan menjadi ibu yang baik saja. Ada tujuan yang lebih mulia selain daripada itu. Definisi istri yang baik bukanlah istri yang bersedia menerima semua perkataan dan perlakuan suami walaupun menyakitkan hati. Sebaliknya istri juga perlu memikirkan kebahagiaannya sendiri. Dengan kata lain, istri berhak untuk mengajukan pendapatnya sendiri, tidak asal menurut suami demi mempertahankan perkawinan yang serasi. Pendapat Nh. Dini ini tentu saja berlawanan dengan definisi istri yang baik versi masyarakat yang menganut paham patriarki dalam Perempuan di Titik Nol, yaitu bahwa istri yang baik harus dapat menyenangkan suami tanpa memedulikan kesenangan dan hak-hak pribadinya. Dari perspektif ini, Nh. Dini mengarahkan pembacanya untuk mengikuti kebudayaan Barat yang dipandangnya jauh lebih baik.

Menurut Nh. Dini sejalan dengan pemikiran Djajanegara dalam Kritik Sastra Feminis, Sebuah pengantar, membawa kebesaran bagi nama keluarga juga bukan berarti bahwa istri tidak boleh bercerai jika dia tidak tahan dengan sikap suaminya karena menurut Saadawi, perkawinan bukanlah penjara bagi wanita. Ditambahkannya, laki-laki tidak dapat menggunakan perkawinan sebagai alat untuk mengikat wanita sehingga laki-laki dapat menindas mereka.

Dalam Dua Dunia, Nh. Dini mencoba menunjukkan dampak dari didikan orang tua yang salah, yaitu: Iswanti menjadi korban kesewenang-wenangan orang lain, dalam hal ini ibu kandung, suami dan ibu mertuanya. Dia tidak berani berbuat apa-apa untuk melepaskan diri dari intimidasi orang lain dan dia tidak dapat menunjukkan kemarahannya melihat perselingkuhan suami di depan mata. Dapat dikatakan, memberi didikan yang salah kepada anak sama dengan mengkebiri anak sehingga menjadi korban cemoohan dan hinaan orang lain. Anak akan menjadi pasif dan tidak dapat menghargai dirinya sendiri. Dia dapat mengahargai orang tua, suami dan orang lain tetapi dia sulit menghargai dirinya sendiri. Lalu apakah definisi manusia yang berarti bagi keluarganya? Dalam kamus Nh.Dini, manusia yang berarti bagi keluarganya adalah manusia yang dapat menghargai dirinya sendiri dan orang lain. Tidak mau diperlakukan dan memperlakukan keluarganya dengan sewenang-wenang. Manusia yang berarti bagi keluarga adalah juga manusia yang dapat berguna bagi dirinya sendiri dan keluarganya sehingga kebahagiaan bersama dapat terwujud.

SUMBER: http://gebbymaulansyah.blogspot.com

sastrosukamiskin@yahoo.com'

About Mbah Sastro