Distorsi dalam Penelitian Sejarah

Distorsi

Secara leksikal distorsi dapat diartikan sebagai pengurangan atau penciutan. Dalam ilmu sejarah, distorsi terjadi pada hampir setiap tahap penelitian yang dilakukan. Saat suatu peristiwa terjadi, semua sumber pendukung kejadian itu secara lengkap ada. Akan tetapi, berbagai sumber kemudian hilang bersama berakhirnya suatu peristiwa sejarah, terutama sumber-sumber yang berupa mindfacts atau alam pikiran. Sumber sejarah yang tertinggal adalah berupa ingatan kolektif dan berbagai bukti fisik. Ingatan kolektif bangsa Indonesia biasanya direproduksi dalam bentuk cerita, baik berupa legenda maupun cerita rakyat lainnya.

Sebanyak apapun sumber yang tertinggal dari sebuah peristiwa sejarah tidak akan mampu menggambarkan kejadian yang sesungguhnya secara lengkap. Dengan kata lain, ketika peristiwa sejarah berubah menjadi sumber sejarah secara alamiah telah terjadi distorsi.

Ketika sejarawan melakukan pengumpulan data, hampir dapat dipastikan bahwa tidak semua sumber sejarah yang ditinggalkan oleh suatu peristiwa dapat dikumpulkan sekaligus memperoleh perhatian yang semestinya. Dengan kata lain, entah kecil atau besar, distorsi terjadi saat pengumpulan sumber dilakukan. Terlewatkannya berbagai sumber sejarah oleh peneliti dapat disebabkan oleh tempat penyimpanan yang tidak terjangkau ataupun perbedaan tata nilai antara pelaku sejarah dengan sejarawan sehingga suatu sumber yang seharusnya sangat penting menjadi kurang diperhatikan atau bahkan diabaikan. Sebaliknya, tidak tertutup kemungkinan juga benda/sumber yang tidak terkait dengan peristuwa, tetapi oleh sejarawan dipandang sebagai sumber penting. Mengapa demikian? Karena sampai sekarang belum ada mesin seleksi yang mampu memilah sumber berdasar keterkaitannya pada peristiwa historis. Seleksi hanya berdasar hitung-hitungan pribadi sejarawan yang bagaimanapun hebatnya tetap manusia yang mungkin salah.

Fenomena terbukanya ruang untuk terjadinya distorsi pada tahap pengumpulan sumber, melahirkan ungkapan bahwa “sejarawan lah yang membuat fakta sejarah”. Ungkapan itu sekali-kali bukan bermaksud memojokkan profesi sejarawan, tetapi hanya hendak menjelaskan bahwa suatu sumber menjadi fakta atau tidak merupakan hak prerogatif sejarawan.

Distorsi berlanjut ketika ketika sejarawan melakukan interpretasi terhadap berbagai sumber sejarah yang berhasil dikumpulkan. Sebaik apapun seorang sejarawan tidak akan mampu menangkap seluruh “suasana” yang terdapat pada suatu peristiwa sejarah dengan tepat. Ada kemungkinan suatu simbol/sumber dimaknai dengan berlebihan, sedang simbol/ sumber yang lain diinterpretasi dengan kurang “penghayatan”.

Saat narasi sejarah disusun, sejarawan dibatasi dengan berbagai peraturan dan keterbatasan. Agar narasinya dikategorikan sebagai karya ilmiah, seorang sejarawan diharuskan hanya menggunakan kata-kata denotatif dan sejauh mungkin menghindari kata-kata yang bermakna ganda, bersifat provokatif dan bombastis. Selain itu sejarawan juga dibatasi dengan konvensi bahasa. Ungkapan “perasaanku tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata” mengindikasikan bahwa dalam kenyataannya banyak nuansa yang tidak dapat dijelaskan secara tepat dengan kata atau kalimat. Permasalahan tersebut menjadikan narasi sejarah selalu mengalami distorsi apabila dibandingkan dengan jumlah sumber yang berhasil diinterpretasi.

Meminjam pemikiran Munslow, narasi sejarah paling tidak memiliki dua model, yaitu rekonstruksi dan konstruksi.

The reconstructionist, or as it is sometimes called the contextualist, approach refers to the established consensus or ‘commonsense’ empiricist tradition handed down from the nineteenth century (18).

Constructionismrefers to the ‘social theory’ schools that appeal to general laws in historical explanation, as exemplified, for example, in the French Annalistes, attempt at all-encompassing total explanations, and other sociologically inspired case-study and biographical work of historians like Norbert Elias, Robert Darnton, Marshal Sahlins and Anthony Giddens. Modernisation theory is yet another variety of constructionism which found favour, especially in theUSA, in the early 1960s. This theory looks to the past for models that might be applied today as a means of studying the present development of the Third World (19).

Dengan adanya distorsi yang dialami pada setiap tahap penelitian sejarah, barangkali pertanyaan yang muncul adalah “apakah semua hasil rekonstruksi sejarah adalah salah?”. Apabila ukuran yang dipakai adalah harus menggambarkan dan menjelaskan keseluruhan nuansa dari suatu peristiwa sejarah, jawabnya tentu saja “Ya”. Tidak akan ada satu narasi sejarahpun yang mampu menggambarkan seluruh nuansa dari peristiwa sejarah yang direkonstruksi. Dengan kata lain, narasi sejarah hanya akan mampu “menangkap” sebagian nuansa dari sebuah peristiwa sejarah.

Ketidaksempurnaan narasi sejarah kalau dibandingkan dengan peristiwa sejarah seringkali menimbulkan pertanyaan besar tentang kebenaran. Bagaimana untuk membedakan narasi sejarah yang salah dengan narasi sejarah yang benar?

Untuk menguji kebenaran narasi, biasanya digunakan dua ukuran, yaitu korelasi dan koherensi. Korelasi digunakan untuk menguji apakah narasi sejarah didukung fakta-fakta yang memadai dan valid. Sebagai ilmu tentang fakta, setiap pernyataan yang disampaikan harus dibuktikan kebenarannya dengan dukungan fakta. Sedang koherensi digunakan untuk menguji apakah antara satu kalimat dengan kalimat lain, antara satu alinea dengan alinea lain memiliki hubungan yang koheren. Apabila antara satu kalimat dengan kalimat lainnya tidak memiliki hubungan atau justru isinya saling bertentangan, maka narasi sejarah akan dikategorikan sebagai salah.

komentar

About Sastro Sukamiskin