Diskusi dan Pemutaran Film “Sebelum Serangan Fadjar”

UNDANGAN

Dalam rangka memperingati peristiwa bersejarah “Serangan Umum 1 Maret 1949”, Program Studi Sejarah Universitas Sanata Dharma bekerjasama dengan Pusat Studi Dokumentasi Sejarah Indonesia (PSDSI), akan menyelenggarakan acara yang akan dilaksanakan:

Hari : Jumat, 27 Februari 2015
Pukul : 14.00-16.00 WIB
Acara : Pemutaran Film “Sebelum Serangan Fajar” dan Diskusi Sejarah

Pembicara :
Drs. Umar Priyono, M.Pd (Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta )
Triyanto Hapsoro (Sanggit Citra Production)
Dr. Yerry Wirawan (PSDSI)

Tempat : Ruang LPPM Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Untuk konfirmasi pendaftaran dan penulisan sertifikat bisa menghubungi Sekretariat Prodi Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dengan bpk Tri, dengan telpon. (0274) 515352, 518910, Fax. (0274) 562383, HP: 081328167456, atau Email: sastra@staff.usd.ac.id dan sdr. Yunita Ndoi HP: 0812213061056. Demikian surat undangan kami sampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih

Acara ini diselenggarakan oleh Pusat Sudi Dokumentasi Sejarah Indonesia dengan Program Studi Sejarah Universitas Sanata Dharma. Turut didukung oleh Dinas Kebudayaan DIY, Citralekha Institut, Sanggit Citra Production dan Pussaka Institute.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

SINOPSIS FILM SEBELUM SERANGAN FADJAR

Agresi Militer Belanda ke 2 yang terjadi pada tanggal 19 Desember 1948 di Yogyakarta mengakibatkan kondisi ekonomi dan sosial masyarakat menurun. Banyak warga masyarakat perkotaan yang hidup dalam kekurangan dan akhirnya harus menjual barang-barang berharganya untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sementara itu tentara Indonesia yang berada di Kota Yogya harus bergeser ke luar kota dan mengatur strategi perang gerilya seperti yang diamanatkan oleh Panglima Besar Angkatan Perang Letjen Soedirman. Letkol Soeharto saat itu menjadi komandan pasukan Wehrkreise III yang berkonsentrasi di Kota Yogyapun juga harus bergeser ke luar kota bersama pasukannya. Kondisi pemerintahan Kota Yogya juga lemah, Belanda memaksa para pegawai untuk tetap bekerja, tapi mereka menolaknya, dengan alasan menunggu Dhawuh (perintah) dari Sri Sultan HB IX.

Situasi yang tidak kondusif ini, ditambah lagi dengan propaganda Belanda di dunia luar yang mengatakan bahwa Tentara Indonesia sudah tidak ada, dan ditangkapnya para pemimpin Indonesia semakin memperparah kondisi Yogyakarta, satu-satunya daerah yang masih berada di bawah pemerintahan Negara Indonesia. Hal ini kemudian direspon oleh Sri Sultan HB IX dengan ide mengadakan serangan besar-besaran ke Kota Yogya secara serentak dan terkoordinir.

Untuk merealisasikan hal tersebut Sri Sultan HB IX mengirim surat kepada Letjend Soedirman untuk meminta ijin diadakannya serangan. Panglima Besar menyetujui hal ini dan meminta Sri Sultan HB IX untuk berkoordinasi dengan Letkol Soeharto yang menjadi komandan Wehrkreise III.

Persiapan serangan tak hanya dilakukan oleh kalangan militer, tapi juga oleh warga sipil, dengan cara membuat dapur umum guna mensuplai kebutuhan logistik para tentara. Bersatunya sipil dan militer demi menegakkan kedaulatan Negara Republik Indonesia.

atau silahkan lihat di https://www.youtube.com/watch?v=iG7yrplVIKA

sajaratunjawa@gmail.com'

About syajaratun