Komunitas Code Pintar

KOMUNITAS CODE PINTAR

Oleh:

Galang Riang Gempita 144214034

M.Y Christy                   144214045

C:\Documents and Settings\SAC User 1\My Documents\Downloads\252300_558256927557895_1633837537_n.jpg

gambar: Lambang Komunitas Code Pintar.

Education nowadays is not about learning, it is about passing. Kalimat tersebut adalah pepatah yang sangat tepat menggambarkan sistem pendidikan di Indonesia dan dunia yang bukan lagi tentang belajar, tetapi bagaimana cara terbaik dan tercepat untuk lulus. Standar nilai yang ditetapkan setiap tahun semakin tinggi dan mencekik siswa. Memaksa para siswa untuk bekerja lembur setiap harinya bukan untuk pintar, melainkan untuk lulus. Memang benar, siswa dituntut untuk mencapai standar yang diseragamkan dari Sabang hingga Merauke tanpa mempertimbangkan sistem pembelajaran pendidikan yang tentu saja berbeda-beda. Semakin ke pusat semakin intensif, sedangkan semakin ke pelosok pendidikan semakin kacau. Penyebabnya pun berbagai macam: ketidakmerataan persebaran informasi, ketidakseragaman daya serap siswa, sistem pendidikan yang mendominasi dan bahkan gedung yang tidak difasilitasi oleh Pemerintah. Sayangnya hasil dari pendidikan mengharuskan standar tinggi tanpa mempertimbangkan aspek sumber daya manusia itu sendiri. Di tengah sistem pendidikan yang kacau seperti ini, beberapa golongan masyarakat tentunya memiliki kepedulian. Mereka tergerak untuk mendirikan komunitas demi mendukung pendidikan di Yogyakarta. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “komunitas” merupakan “Kelompok organisme yang hidup dan saling berinteraksi di daerah tertentu, memiliki sejarah, visi misi, serta keinginan untuk berkembang yang sama dan pada umumnya bergerak pada bidang-bidang seperti kemanusiaan, sosial, budaya, dan bahkan pemberdayaan masyarakat.” Cukup banyak juga komunitas yang bergerak di bidang pendidikan, salah satunya adalah Komunitas Code Pintar yang aktif di daerah D. I. Yogyakarta.

SEJARAH KOMUNITAS

Komunitas Code Pintar ini dimulai dengan adanya sekumpulan mahasiswa yang berasal dari Unit Kegiatan Pers Mahasiswa salah satu universitas swasta di Yogyakarta, Natas bekerjasama dengan afinitas Alexis yang juga berdomisili di Yogyakarta. Afinitas Alexis adalah komunitas yang memiliki ideologi anarkis yang kuat walaupun saat ini sudah tidak eksis lagi. Sedangkan Natas adalah unit kegiatan mahasiswa, salah satu universitas swasta di Yogyakarta yang memiliki sifat kritis yang kuat. Dua ideologi ini bertemu dan merencanakan sebuah perubahan pada sistem pendidikan mewadahi kegiatan para anak-anak.

Mengejutkan ketika mengetahui bahwa afinitas Alexis ini merupakan komunitas dengan ideologi anarkis yang kuat. Namun menurut wawancara dengan Fafa pada 7 April 2015, sebagaisalah satu perintis Komunitas Code Pintar, bahwa di sinilah masyarakat terkadang salah menilai sesuatu. Anarkis yang selama ini dianggap sebagai komunitas yang hanya akan menyulut kekacauan dan berdemonstrasi turun ke jalan dan melakukan hal-hal merugikan lain, nyatanya memiliki komitmen yang kuat untuk memperbaiki lingkungan di sekitarnya. Komunitas Code Pintar ini adalah salah satu bukti bahwa anarkis tidak selamanya melulu tentang kekacauan dan hal-hal yang bersifat negatif namun juga memiliki kemauan yang kuat untuk berbenah.

Pada tahun 2012 didirikanlah sebuah komunitas yang diberi nama ‘Komunitas Code Pintar. “Kami ingin memberikan ruang yang nyaman untuk anak-anak bermain sekaligus belajar dan menurut kami, inilah yang terbaik.” ungkap Fafa. Komunitas ini bertujuan untuk memberikan pengajaran baik akademik maupun non-akademik kepada anak-anak sehingga mereka bisa mendapatkan tempat yang menyenangkan untuk belajar sambil bermain. Di awali dengan adanya sebuah kontrakan yang tidak dipergunakan, Raras, salah satu anggota UKPM Natas bekerja sama dengan anggota afinitas Alexis mengagas ide untuk mendirikan sebuah tempat belajar yang santai dan menarik untuk anak-anak sekitar bantaran Kali Code di RW 11 Jogoyudan.

PERKEMBANGAN AWAL

Raras, sang pegagas ide, pada saat itu manghabiskan waktu di ruang kontrakansebagai pengisi waktu luang. Menilik kekacauan sistem pendidikan ini dan bagaimana tertekannya para siswa di sekolah, mereka kemudian memutuskan untuk mendirikan komunitas yang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat yaitu pendidikan. Ruang kontrakan itu digunakan, dilapisi tikar sederhana. Kemudian ditambahkan beberapa alat penunjang belajar seperti rak-rak buku, alat tulis dan buku cerita. Hal ini dilakukan agar tercipta kelas yang akan mendukung suasana belajar-mengajar yang kondusif.

C:\Users\TOEFL\Downloads\969495_558266650890256_1855151507_n.jpg

gambar: Komunitas Code Pintar jalan-jalan ke Taman Pelangi.

Pada awal perkembangannya, para pendiri komunitas ini, mendatangi rumah ketua RT di mana lokasi komunitas itu direncanakan dan memohon izin untuk menjalankan Code Pintar. Gayung bersambut, dengan izin yang turun, mereka kemudian mengajak anak-anak untuk datang dan belajar bersama. Awal bukanlah sesuatu yang mudah, namun awal adalah tantangan. Ini pula yang dirasakan oleh Raras dan teman-temannya. Perkembangan Code Pintar ini pada awalnya tentu saja tidak mulus. Anak-anak jaman sekarang dengan ketertarikan yang berbeda dengan anak-anak jaman dahulu merupakan salah satu penghambat. Namun beberapa anak yang masih penasaran mau datang lagi. Beberapa masyarakat juga sempat menganggap kegiatan mereka tidak penting, namun mereka tetap bertahan. Anak-anak yang tertarik pada komunitas ini semakin banyak dan terus berkembang walaupun anggota yang datang hanyalah anak-anak dari seputaran bantaran Kali Code. Selain kegiatan belajar bersama, relawan pengajar Komunitas Code Pintar juga mengajak anak-anak code berjalan-jalan ke Taman Pelangi. Kegiatan ini selain menyenangkan dan dapat mendekatkan pengajar dengan anak-anak bantaran Code.

Komunitas non-profit yang berarti komunitas tidak mengambil untung sama sekali dari setiap siswa ini menyediakan tempat yang menyenangkan bagi para siswa untuk belajar dan bermain. Tidak perlu seragam, mereka cukup membawa buku mereka dan mengenakan pakaian apapun yang sedang digunakan. Wilayah beroperasi Komunitas Code Pintar yang berada di bantaran kali, kerap kali mendapat jatah kiriman banjir dari hulu. Namun banjir yang datang tidak lekas menyurutkan minat dan semangat para siswa atau “anak kali Code”—begitu mereka biasa disebut, untuk belajar di tempat yang mereka sebut “taman bermain”. Dalam menjalankan komunitas ini, para siswa sama sekali tidak mengeluarkan uang baik untuk pengajar maupun alat-alat pengajar. Para pengajar secara sukarela meluangkan waktu mereka di sela-sela kesibukan yang menumpuk sebagai mahasiswa untuk datang ke komunitas ini dan membagikan ilmu mereka kepada para anak Kali Code yang bersemangat.

Bukan tanpa alasan para siswa menyebut tempat ini sebagai “taman bermain” karena sistem pengajarannya yang dikombinasikan dengan permainan-permainan tradisional meminimalisir kejenuhan yang pasti singgah dalam diri anak-anak pada usia sekolah dasar yang masih memiliki keinginan yang besar untuk bermain dan berlarian ke sana kemari. Mengingat kekakuan sistem pembelajaran di sekolah resmi, para mahasiswa di balik kesuksesan komunitas ini mencoba menghadirkan suasana yang benar-benar berbeda untuk para siswanya sehingga para siswa akan terus datang dan datang kembali ke komunitas ini. Di sini mereka diajak untuk bermain dan melakukan apa pun yang mereka inginkan dan permainan apa pun yang menurut mereka sesuai dengan suasana hati mereka saat itu.

PERKEMBANGAN TENGAH

Komunitas kecil ini bergerak di bidang mendidik secara umum. Memberikan solusi pada setiap masalah anak-anak di dalam bidang pendidikan, membantu mengerjakan pekerjaan rumah, namun belakangan ini mulai bergeser menjadi komunitas yang lebih mementingkan perkembangan kesenian. Anak-anak diajak untuk bermain dan membuat prakarya-prakarya sederhana. Walaupun komunitas ini berlabel non-profit, sesekali donator yang pada umumnya berasal dari para pengajar memberikan sumbangsihnya untuk mendukung perkembangan komunitas ini. Sambutan yang diterima komunitas ini pun tidak besar, juga tidak kecil. Beberapa antusias dan beberapa skeptis namun hal ini tidak mengurangi semangat para pengajar dan mereka tetap memberikan yang terbaik pada komunitas yang mereka bangun.

Beberapa masalah yang pada umumnya dihadapi komunitas ini adalah kurangnya para pengajar untuk mendampingi para anak-anak. Terdapat masa-masa dimana pengajar sangat banyak dan dapat meramaikan kontrakan. Namun ada pula masa-masa hanya ada satu atau dua pengajar yang dapat menemani anak-anak code tersebut. Hal tersebut tentu saja menyedihkan. Namun kesibukan para pengajar sebagai mahasiswa mengharuskan mereka untuk membuat prioritas atas kegiatan mereka, dan mengajar di Komunitas Code Pintar seringkali dikorbankan. Komunitas ini berkembang secara tambal-sulam. Seiring perkembangan usianya, Komunitas Code Pintar ini juga terus menerus memperbaiki diri, sehingga nantinya bisa berkembang menjadi komunitas yang besar dan baik dalam mewadahi ketertarikan anak-anak pada kesenian tradisional yang saat ini mulai dipandang sebelah mata terkalahkan kilauan teknologi yang menyihir anak-anak untuk tidak bermain di luar ruangan dan mengabaikan lingkungan sosial mereka.

Seperti yang dijelaskan di atas, Komunitas Code Pintar ini dijalankan di sebuah kontrakan kecil yang dipenuhi buku-buku dan hasil karya anak-anak. Karya dan konsep yang diajarkan sangat tepat untuk mengisi waktu luang dan memanfaatkan ruang yang ada. Hal ini tentunya berkontribusi aktif dalam perkembangan anak-anak. Anak-anak code belum tentu beruntung seperti semua anak di Jogja yang memiliki permainan yang mahal. Rata-rata para orang tua mereka juga sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Oleh karena itu, dengan adanya Komunitas Code Pintar ini sangat membantu perkembangan anak-anak, baik dalam pendidikan maupun kepribadian.

C:\Documents and Settings\SAC User 1\My Documents\Downloads\1076970_589003557816565_1843916309_o.jpg

gambar: Membuat kartu pos bersama-sama.

C:\Users\TOEFL\Downloads\1074327_589015064482081_1227892919_o.jpg

gambar:Kartu pos buatan anak Komunitas Code Pintar.

Komunitas Code Pintar juga mencoba memberi ruang bagi anak-anak Kali Code untuk memiliki kesadaran kritis dan untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka lewat beragam media maupun karya. Dimana pengungkapan perasaan merupakan hal yang penting pada manusia, terlebih pada anak-anak. Media maupun karya yang dimaksud berkaitan dengan sastra (membuat puisi, menulis cerpen, menulis kisah sehari-hari, membaca buku), musik, maupun seni rupa (membuat buku harian, menggambar, membuat kartu pos, memotret). Meski mereka semua memiliki bakat-bakat yang khas, selain di sekolah, sebagian besar anak-anak Kali Code memang tak memiliki ruang untuk menyalurkan bakat-bakat yang mereka miliki.

PERKEMBANGAN AKHIR

Seiring perkembangannya, Komunitas Code Pintar mulai menemukan jiwa mereka di kesenian tradisional. Kegiatan belajar lebih didominasi dengan belajar menari dan bermain musik. Beberapa bulan lalu komunitas juga ini berpindah dari lokasi awalnya ke lokasi yang baru yang lebih lapang dan dapat menampung anak-anak baru yang partisipatif dan penuh antisipasi dalam menyambut komunitas ini. Anak-anak yang datang pun seringkali mengalami rotasi. Dua puluh anak yang datang pertama, akan digantikan oleh dua puluh orang anak baru di hari setelahnya dan seterusnya. Setiap hari selalu ada wajah-wajah polos baru yang muncul di ruang lapang ramah komunitas ini. Mereka disambut dengan suka cita dan bersama-sama mempelajari hal-hal baru tentang kesenian tradisional yang merupakan tugas mereka sebagai generasi muda untuk melestarikannya sehingga tidak tercuri maupun lenyap.

Dalam beberapa kesempatan pula, komunitas ini menampilkan beberapa pertunjukan seni kecil-kecilan untuk menghargai semangat anak-anak untuk belajar. Saat inilah dukungan masyarakat begitu terasa dengan kehadiran mereka untuk menonton, membantu, dan memberikan saran dan dukungan secara tulus. Mereka terus menerus mendukung komunitas ini baik saat kegiatan belajar maupun pementasan kecil. Mereka memberikan komunitas ini kepercayaan untuk terus berkembang dan bertahan walaupun di sekitar mereka, khususnya di Yogyakarta ini, bisa dibilang tidaklah sedikit komunitas yang bergerak di bidang yang sama. Komunitas ini percaya, dengan sistem kerja non-profit serta ketulusan para pengajar untuk meluangkan waktunya, komunitas ini akan terus bertumbuh dan berkembang untuk membagikan ilmu.

Sekali waktu, komunitas ini bekerja sama dengan Komunitas Satu Buku dalam penyediaan total 100 buku untuk para siswa dengan sistem rotasi. Seratus buku akan diberikan kepada komunitas ini dalam jangka waktu yang ditentukan lalu setelahnya akan ditukar dengan seratus buku baru sehingga para siswa dapat menikmati buku-buku baru secara berkala. Namun sistem kerjasama ini tidak bertahan lama, seratus buku pertama berhenti di tempat dan tidak berotasi dengan buku-buku baru seperti yang direncakanan. Hal ini tidak membuat para siswa kehilangan semangat mereka untuk belajar, mereka tetap datang dan belajar bersama para relawan yang membantu mereka menyelesaikan masalah-masalah pelajaran mereka. Seratus buku itu kini berada di ruangan bermain dan masih sering dibaca oleh anak-anak.

G:\PKN\1072039_589004927816428_1170356962_o.jpg

gambar: Mendapat bantuan 100 buku.

Masyarakat di sekitar lokasi komunitas ini pun akhirnya memberikan dukungan walaupun tidak secara fisik. Namun lebih ke dukungan secara non-fisik dengan memberikan saran atau menyaksikan saat kegiatan komunitas ini berlangsung serta mendukung perkembangan komunitas ini secara berkelangsungan. Meskipun belum mendapatkan pengakuan baik secara formal maupun non-formal, komunitas ini tetap bertahan karena mereka semata-mata melakukan ini hanya untuk anak-anak. Membagikan ilmu-ilmu yang mereka miliki sehingga dapat berguna untuk generasi muda yang haus akan ilmu pengetahuan.

Selama tiga tahun berdirinya komunitas ini, semangat yang ditunjukan para anak-anak yang belajar di sini tidak mengalami penurunan. Setiap hari Senin dan Jumat pukul lima sore, mereka akan muncul di depan lokasi komunitas ini dengan senyuman dan bersiap untuk menerima segala ilmu yang dibagikan oleh pengajar. Mereka tidak pernah berhenti bermimpi dan tertawa. Senyuman, canda, dan tawa selalu menghiasi ruangan tempat mereka bertemu dan belajar. Ilmu-ilmu yang dibagikan ditangkap dan berharap bisa berguna untuk kehidupan mereka kedepannya menjadi seorang manusia yang mampu memanusiakan manusia.

C:\Documents and Settings\SAC User 1\My Documents\Downloads\1469785_658926030824317_1210183015_n.jpg

gambar: Komunitas Code Pintar menampilkan tarian tradisional.

Anak-anak yang ingin belajar di sini bisa datang dan langsung bergabung dengan kegembiraan yang ditawarkan para pengajar di Komunitas Code Pintar. “Kami mendirikan komunitas ini tidak untuk mendapatkan penghargaan atau pengakuan publik, kami hanya ingin membagikan pengetahuan yang telah kami dapatkan kepada anak-anak,” kata Fafa. Fafa yang merupakan salah satu pengajar saat ini tengah menempuh pendidikan program magister di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Fafa merupakan salah satu pengajar tetap di komunitas ini yang tetap secara berkelanjutan di sela-sela kesibukannya, meluangkan waktunya untuk mengajar di komunitas ini. Memberikan setiap ilmu yang didapatkannya kepada anak-anak.

Menilik sejarahnya “Komunitas Code Pintar ini berdiri bukannya tanpa kekuatan; semangat gotong-royong dan keinginan untuk berbagilah yang membuat kami kuat untuk membangunnya,” tambahnya. Dengan dasar semangat gotong-royong dan keinginan untuk berbagi, para mahasiswa yang berdedikasi ini turun tangan membantu para anak-anak yang kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Tidak perlu bayaran, tidak perlu apa pun, senyuman dan tawa ceria dari anak-anak yang mereka didik di komunitas ini, mata mereka yang mencerminkan kebahagiaan dan kepuasan merupakan bayaran yang jauh lebih mahal dari materi apa pun di dunia ini. Keikhlasanlah yang menjadi dasar di dalam hati mereka untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anak.

Sumber:

  1. Wawancara dengan Fafa(narasumber), pengajar di Komunitas Code Pintar pada 7 April 2014
  2. kbbi.web.id
  3. Foto diunduh dari halaman facebook Code Pintar
achrizty@yahoo.com'

About my christy