CEMARA: Merajut Code Damai

Oleh :

Jessicca Jaquelyn Bilung (144214008) & Salwa Novira (144214018)

Rumah-rumah ibadah yang besar dan megah, rumah dengan arsitektur Belanda dengan halaman luas, sekolah, salon, rumah sakit, dan restoran papan atas. Itulah yang akan kita jumpai di Kota Baru. Tapi tahukah anda bahwa dibawah sana, ada sekelompok orang dengan penghasilan pas-pasan berusaha untuk bertahan hidup? Pemandangan menyedihkan dan kumuh adalah kesan pertama yang menyapa ketika penulis memasuki wilayah Kali Code RT 18.

Pemandangan yang sangat kontras mengingat Kota Baru adalah salah satu kawasan elit di Yogyakarta. Ketika penulis turun untuk mencari basecamp Komunitas Cemara, kami disapa oleh seorang nenek berdandan menor yang berjalan sambil ngerokok dan membawa karung. Kemudian kami diarahkan untuk turun ke bawah menemui Pak Miskam, namun beliau tidak sedang di tempat. Kami pun diajak untuk menemui Pak RT, dan lagi-lagi kami harus tercengang karena tidak hanya nenek itu yang merokok, tapi ada banyak nenek-nenek yang merokok di daerah itu. Saat mendongak kami daat melihat gedung-gedung tinggi yang menjulang. Sedangkan di tempat kami berdiri, pemandangan yang terlihat hanyalah perumahan kumuh yang padat, sempit dan mengenaskan. Pemandangan yang tidak pernah kami bayangkan akan kami temui di Jogja.

Kali Code mungkin sudah tak asing lagi bagi masyarakat Jogja. Alirannya yang begitu panjang dan bantarannya yang dipadati oleh pemukiman kumuh. Kondisi rumah yg kumuh, dulu jauh lebih kotor dan tidak tertata. Kamar mandi yang dipakai pun bersamaan. Mereka hidup di bantaran kali yang mereka manfaatkan sebagai drainase yang akhirnya menimbulkan bau tidak sedap.

Rumah-rumah berdempetan satu sama lain dan kebanyakan rumah warga yang hanya terdiri satu ruangan. Segala aktivitas mereka lakukan bersama-sama dalam ruang kecil tersebut. Makan, belajar, berbincang, dan beristirahat pun harus mereka lakukan bersama dalam ruangan kecil tersebut. Kurangnya privasi antar satu anggota dengan keluarga yang lain menjadikan mereka suka atau tidak suka melihat langsung kejadian yang mungkin tidak pantas dilihat oleh anggota keluarga yang lain, terutama anak mereka. Contohnya seperti pertengkaran antara suami dan istri.

Pertengkaran antar suami-istri adalah hal yang lumrah dan wajar saja jika mereka menyelesaikan masalahnya di rumah. Namun, permasalahannya adalah ketika mereka menggunakan kekerasan baik verbal maupun non-verbal dalam menyelesaikan masalah mereka. Dan yang memprihatinkan, karena keterbatasan ruang, anak-anak mereka berada di ruangan yang sama. Mereka menyaksikan bagaimana orang tua mereka saling mengumpat, memaki, dan memukul. Ditambah pula dengan lingkungan sekitar yang terdiri dari pemabuk, preman, bahkan banci. Anak-anak Code menjadi sangat akrab dengan budaya kekerasan. Mereka berbicara dengan kasar kepada teman-temannya. Saling pukul dan memaki menjadi hal biasa bagi anak-anak Code.

Hal ini kemudian menggugah kepedulian salah peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Levi yang berasal dari program studi Hubungan Internasional. Ia menyadari bahwa masalah sosial sepelik ini tidak akan bisa diselesaikan dalam waktu dua bulan. Ia kemudian mengajak serta kedua orang rekannya yang bernama Ayu Diasti Rahmawati dan Dody Wibowo untuk menerapkan materi yang telah mereka dapatkan saat kuliah, yaitu studi perdamaian. Dimana masyarakat tidak hanya damai secara negatif, tapi damai secara positif. Yang dimaksud dengan perdamaian negatif adalah ketika tidak adanya konflik dalam masyarakat. Namun, dalam perdamaian positif, tidak hanya sekedar damai tanpa ada konflik. Suatu masyarakat bisa dikatakan damai secara positif saat mereka mendapatkan apa yang layak mereka dapatkan.

Ketiga orang tersebut menilai bahwa masyarakat di Code pun berhak untuk menerima perdamaian, pendidikan, dan kehidupan yang layak tanpa ada kekerasan. Pada tahun 2010 silam, akhirnya mereka membentuk komunitas yang mereka beri nama sebagai Komunitas Cemara. Cemara sendiri merupakan singkatan dari CodE daMAi anak-anak ceRiA. Komunitas Cemara merasa mereka harus turun ke Kali Code sebab kalau dibiarkan anak-anak Code tidak akan berbeda dengan orang tua mereka, atau malah lebih parah. Tidak hanya dalam segi pendidikan namun juga dalam hal moral.

Selain itu, anak-anak juga dinilai menjadi entry point yang tepat bagi cemara untuk masuk ke dalam masyarakat. Dengan melakukan kegiatan belajar-mengajar secara intensif, otomatis akan terjadi kontak dengan para orang tua anak-anak. Bukan mengajar seperti di bimbel atau sekolah, tapi lewat permainan. Sebab, menurut Cemara, selain memperoleh pendidikan, anak-anak juga mempunyai hak untuk merasakan kebahagiaan mereka sebagai anak-anak yaitu dengan bermain.. Cemara membuat pelajaran dalam bentuk permainan agar anak-anak tidak bosan dan terbebani. Nilai-nilai perdamaian tidak lupa diselipkan oleh Cemara melalui hal-hal sederhana. Misalnya saat anak-anak diajari untuk melukis bersama di atas satu kanvas dan menggunakan satu set pensil warna saja. Aktivitas sederhana ini secara tidak langsung mengajarkan anak-anak untuk saling berbagi, tidak egois. Contoh lainnya adalah dengan bermain layang-layang, anak-anak diajarkan untuk saling bekerjasama.130921_Layangan Damai 1-vert.jpg

Saat pertama kali turun ke masyarakat, Cemara mendapati respon masyarakat yang kebanyakan resisten. Mereka tidak menerima kehadiran Cemara yang ternyata menerapkan proses belajar-mengajar dengan permainan edukatif yang sederhana. Orang tua berharap Cemara layaknya bimbingan belajar yang harus mampu menjamin niai anak-anaknya. Padahal Cemara ingin mengajarkan pendidikan moral dan karakter.

Tidak hanya respon yang tidak sesuai harapan, pada masa awal berdirinya, Cemara mengalami hambatan oleh salah seorang warga yang bernama Cak Abdul. Cak Abdul adalah seorang preman di wilayah pemukiman itu yang rumahnya berhadapan dengan Balai RT yang kala itu digunakan sebagai tempat belajar bagi anak-anak. Sesungguhnya, beliau tidak sepenuhnya menolak. Beliau sadar bahwa pendidikan akan membawa lingkungan tempat tinggalnya menjadi lebih baik, namun di sisi lain beliau tidak setuju dengan metode pembelajaran dengan permainan edukatif. Menurutnya, anak-anak harus belajar dengan tenang dan serius sebagaimana di sekolah. Bukan dengan permainan edukatif yang menimbulkan keributan. Beliau merasa terganggu dengan keributan itu dan marah. Jika beliau marah maka beliau akan mematikan saklar lampu, jadi anak-anak harus belajar dalam gelap atau mereka harus diam.

Bagi Cemara, semua itu bukanlah hambatan. Mereka menilainya sebagai sebuah proses yang memang sudah sewajarnya dilalui oleh sebuah komunitas saat terjun ke masyarakat. Mereka optimis bahwa masyarakat Code bisa berubah menjadi lebih baik.

Titik balik perubahan sikap warga terhadap Komunitas Cemara adalah ketika terjadi banjir lahar dingin yang menghancurkan pemukiman warga. Rumah-rumah warga hancur, begitu pula dengan Balai RT yang menjadi rumah belajar warga. Para volunteer Komunitas Cemara akhirnya turun ke masyarakat, gotong royong bersama warga RT 18 untuk mendirikan kembali rumah-rumah mereka. Di sinilah para warga merasa bahwa Cemara adalah bagian dari mereka.

Warga bahkan mulai terbuka kepada Cemara. Mereka menyampaikan keluh kesah mereka tentang pandangan-pandangan negatif yang dilontarkan warga sekitar terhadap RT 18 karena dinilai menjadi bagian paling kumuh. Warga RT 18 mengatakan mereka tidak ingin terus-terusan seperti itu. Untuk mendukung niat baik warga, Cemara bekerja sama dengan sejumlah mahasiswa program studi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan mahasiswa dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta untuk menata pemukiman mereka dan mendekorasinya dengan hiasan batik.

Berita mengenai Cemara kemudian mulai tersebar, terutama di kalangan cicvitas akademika. Banyak orang yang mulai tertarik untuk bergabung ke Cemara. Tidak hanya mahasiswa dari program studi Hubungan Internasional Gajah Mada ataupun mahasiswa Gajah Mada, namun juga dari perguruan tinggi lain seperti Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dan beberapa mahasiswa dari Universitas Sanata Dharma. Pada tahun 2012, Cemara mulai membuka Open Recruitment bagi siapa saja yang ingin bergabung dengan Cemara. Kendati demikian, Cemara tidak menutup kemungkinan dari soft recruitment. Jadi, komunitas ini bersifat cair. Bahkan Cemara tidak mengenal hierarki dalam kepengurusan. Semua anggota/volunteer mendapatkan porsi tugas yang sama.

Seiring berjalannya waktu, ketiga pendiri Cemara menyelesaikan studi di UGM dan memutuskan untuk bekerja di Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP). Gedung tempat mereka bekerja inilah yang menjadi secara tidak resmi menjadi basecamp bagi para volunteer. Namun, saat ini para volunteer lebih sering berkumpul langsung di Rumah Belajar karena dinilai lebih efektif.

Berbagai usaha mereka lakukan agar warga Code bisa mendapatkan hak mereka. Tenaga, waktu, bahkan uang mereka korbankan untuk warga Code. Inilah yang menjadi sumber dana bagi Cemara. Namun, Cemara juga mempunyai beberapa donatur tetap, baik dari alumni-alumni Cemara atau pihak lain.

FB_IMG_1428316769903.jpg

Hasil tidak akan mengkhianati usaha. Tiga tahun pertama. hasil kerja keras Cemara mulai kelihatan, pemuda dan ibu- ibu mulai mandiri. Para ibu yang awalnya hanya menjadi ibu rumah tangga dan tidak mempunyai kegiatan apa-apa, kini bisa melaksanakan senam bersama untuk mengisi waktu luang. Bahkan kini, ibu-ibu itu bisa mengkoordinir sendiri kegiatan senam bersama mereka tanpa harus meminta bantuan cemara. Para pemuda juga mulai berusaha untuk berwirausaha dan Cemara yang memfasilitasi. Sebagai contohnya ketika mereka mengatakan ingin membuka usaha sablon, Cemara mencarikan tukang sablon untuk mengajari mereka teknik menyablon. Disinilah tujuan Cemara, bukan menjadi komunitas yang membina warga, tetapi menjadi mitra warga. Cemara tidak mendikte warga, melainkan memfasilitasi warga.

FB_IMG_1428325204824.jpgCitra Cemara sebagai mitra warga pun terlihat dari bagaimana akhirnya cemara diterima dan dianggap sebagai salah satu bagian dari warga RT 18 Kali Code. Setiap kali masyarakat mengadakan acara, Cemara pun selalu diajak ikut berpartisipasi. Cemara tidak mau masyarakat code manja. Jadi, saat ada acara cemara tidak sepenuhnya membantu masyarakat tapi ikut ambil andil dalam beberapa hal. Sedangkan untuk dana, masyarakat mencari dana denganmengajukan proposal ke masyarakat kelas menengah ke atas di sekitar Kota Baru. Salah satu kegiatan yang diadakan dan cukup berhasil adalah pentas seni pada perayaan malam tahun baru 2014. Acara ini juga disponsori oleh warga dan restoran sekitar kota baru seperti Raminten, Flaurent Salon, serta warga lainnya. Hal ini menunjukan bahwa walaupun terdapat kesenjangan yang cukup mencolok dari sisi ekonomi, tapi mereka tetap bisa berhubungan dengan baik dan saling mendukung satu sama lain.

FB_IMG_1428320696317.jpg

Selain itu, di tahun 2013, Cemara juga di undang oleh Yayasan Komunitas Sahabat Anak untuk menjadi peserta dalam Jambore Sahabat Anak XVII di Jakarta. Di sana Cemara dan anak-anak Code yang ikut dalam acara tersebut bertemu dengan berbagai komunitas dan anak-anak lain dari berbagai suku dan kalangan. Mereka bertemu dengan anak-anak jalanan Jakarta yang di sisi lain membuat mereka bersyukur akan keadaan mereka yang jauh lebih baik dibandingkan anak-anak jalanan tersebut.

FB_IMG_1428316795331.jpg

Tidak hanya menjadi peserta di jambore, Cemara juga beberapa kali sempat mengadakan kerja sama dengan individu dan organisasi lain. Seperti ketika Cemara bekerja sama dengan seorang dalang untuk membuat wayang untuk meningkatkan kreatifitas dan pengetahuan anak-anak akan budaya lokal. Cemara juga sempat bekerja sama dengan HMD Sastra Perancis UGM untuk kegiatan belajar mengajar anak-anak, dan juga dengan mahasiswa ISI Yogyakarta jurusan musik dan seni rupa untuk melakukan workshop tentang musik dan menggambar sketsa. Kerjasama yang dilakukan Cemara dan pihak luar membantunya untuk berkembang.FB_IMG_1428316820085.jpg

Walaupun sudah berpartisipasi di kancah Nasional dan sempat diliput oleh beberapa media lokal, Cemara belum pernah mendapatkan penghargaan dari instansi pemerintah. Hal ini dikarenakan Cemara memang sudah berkomitmen sejak awal mereka tidak menginginkan penghargaan. Karena menurut mereka, saat ada penghargaan untuk komunitas sosial maka komunitas sosial akan menjamur dengan tujuan mendapat penghargaan, bukan untuk kemanusiaan.

Di tahun keempat volunteer Komunitas Cemara banyak yang sudah lulus dan meninggalkan Jogja. Para volunteer lain pun mulai meninggalkan tanggung jawabnya. Hal ini dikarenakan kebanyakan anggota menjadi bagian dari komunitas untuk mengisi waktu luang atau karena bergabung dengan komunitas menjadi trend. Sehingga ketika itu tidak lagi menjadi trend atau ketika anggota sudah mempunyai kegiatan, mereka mulai meninggalkan Cemara. Namun, Dody, sebagai salah satu pendiri komunitas ini menegaskan bahwa ia atau pendiri Cemara lainnya tidak memaksa para anggota untuk selamanya berada di Cemara. Mereka juga tidak menuntut alasan saat para anggota bergabung ke Cemara, tapi yang mereka tekankan adalah ketika para anggota mengambil manfaat dari turun ke code, para anggota juga harus memberikan manfaat ke anak-anak di sana. Menurut Cemara, banyak komunitas yang turun, tapi hanya sekedar turun untuk menyenangkan volunteernya dan asal volunteernya merasa sudah berjasa maka tugas mereka sudah selesai. Mereka tidak memperhatikan perkembangan anak dan itulah yang dihindari Cemara.

Tidak bisa dipungkiri, kekurangan volunteer dan padatnya jadwal volunteer yang tersisa menyebabkan jadwal Cemara untuk turun ke masyarakat menjadi tidak rutin. Komunikasi dengan warga menjadi agak renggang. Untungnya ada salah satu warga yang selalu siap menjadi penyambung antara Cemara dan warga. Beliau adalah Pak Miskam, seorang pedagang angkringan yang tinggal di RT 18. Beliau lah yang selalu memberi informasi kepada Cemara saat mereka mengurangi intensitas pertemuan dengan warga.

Cemara pernah sampai pada titik dimana mereka merasa sudah waktunya warga Kali Code berdiri mandiri pelan-pelan. Sebab bagi Cemara, ketika komunitas masuk, mereka juga harus memikirkan bagaimana mereka keluar pelan-pelan. Dan ketika para volunteer kembali untuk menengok keadaan Code, keadaan sudah sangat berubah. Masalah yang dihadapi juga sudah berubah. Bukan lagi kekerasan pada orang tua atau perdamaian yang anak tidak dapat melainkan gadget.

Anak yang notabene masih belum bisa membedakan mana yang bermanfaat untuk dirinya dan tidak bermanfaat pun kaget ketika gadget datang di kehidupan mereka. Pelajaran sekolah banyak yang tertinggal, waktu banyak terbuang sia-sia untuk gadget. Dan yang semakin parahnya, banyak dari mereka meilihat hal-hal yang yang sebenarnya tidak selayaknya dilihat oleh anak-anak seusia mereka.

Masalah ini muncul ke permukaan pada saat Cemara melakukan inspeksi mendadak, tidak secara formal tentunya. Terungkaplah bahwa banyak dari mereka yang masih di bawah umur, bahkan masih duduk di sekolah dasar menyimpan video porno. Hal ini sungguh mengecewakan Cemara. Karena hal inilah Cemara merasa perlu untuk lebih intensif untuk mendampingi anak-anak. Dari sini pula Cemara sadar bahwa warga Code belum bisa dilepas dan masih butuh didampingi. Tidak hanya pada anak-anak, tapi juga orang tua.

Cemara sadar, bahwa melarang gadget bukanlah langkah yang tepat dalam menangani masalah ini. Terutama di zaman yang serba modern dan canggih ini. Kesimpulan yang Cemara dapatkan sejauh ini adalah yang harus diberi pengertian mengenai gadget adalah orang tua. Perspektif yang dipahami orang tua selama ini adalah “yang penting kami sudah memfasilitasi, selanjutnya terserah”. Padahal seharusnya orang tua setelah membelikan, juga harus memantau dan bertanggung jawab atas apa yang anak lakukan pada gadget tersebut. Orang tua harus sadar bahwa anak bukanlah ayam peliharaan yang setelah diberi makan kemudian bisa dilepas seenaknya. Anak adalah anugrah tuhan yang setelah difasilitasi juga harus didampingi sehingga anak tidak merasa sepi dan sendiri. Juga ada yang meluruskan ketika mereka mulai menyimpang.

Inilah tantangan yang sedang dihadapi oleh Cemara saat ini. Tidak hanya bagi Cemara atau warga Code, hal ini menjadi tugas bagi seluruh elemen masyarakat untuk memperbaiki keadaan guna menyelamatkan generasi yang akan datang. Agar generasi kelak bisa hidup dengan damai dan memperoleh haknya.

Bagi para pembaca yang tertarik untuk berkunjung atau bahkan bergabung dengan Cemara bisa langsung mengunjungi Rumah Belajar Cemara yang terletak di bantaran Kali Code RT 18, tepat di belakang Masjid Syuhada, Kota Baru, Yogyakarta, setiap hari Kamis pukul 18.30-21.00 WIB.

Peta lokasi:

2015-04-07-13-47-18_deco.jpg

Sumber : Ganesh Cintika Putri (salah satu anggota Komunitas Cemara)

jessicca.j.bilung@gmail.com'

About Jessicca Bilung