Setumpuk Buku untuk Gunung

D:Kuliah sem 2PKNBFMBFM Project BromoDSC_5028.JPG

Oleh:
Ni Luh Putu Rista Y.R (144214076) & Dewi Valentina (144214079)

Semangat kaum muda Indonesia! Itulah yang dapat melukiskan gejolak membara yang ada di benak kakak-kakak dari UGM yang mendirikan komunitas Book For Mountain ini. Semangat mereka tidak berhenti selepas masa KKN yang diadakan di Lombok Timur tahun 2010 silam. Mereka terus menebar jendela dunia ke pelosok negeri. Dari hanya segelintir orang, komunitas ini menjadi semakin berkembang.

Seiring perkembangannya komunitas ini menorehkan banyak jasa lewat kegiatan yang sudah berlangsung selama ini. Mengapa jasa? Karena kakak-kakak BFM ini tidak hanya menyumbang buku-buku saja, tetapi juga mengajar dan membangun perpustakaan di daerah pelosok Indonesia secara sukarela. Apa yang telah mereka lakukan ini murni untuk membantu para calon penerus bangsa yang jarang terjamah oleh ilmu pengetahuan agar kelak dapat hidup lebih baik.

Jika ditilik ke belakang, kegiatan KKN tahun 2010 yang diikuti oleh mahasiswa UGM tidak berhenti begitu saja. Dari situlah BFM sebenarnya lahir. Awalnya mereka hanya mendirikan enam perpustakaan di sekolah yang berbeda. Tetapi, kelompok KKN yang ditempatkan di Lombok Timur ini akhirnya melanjutkan program mereka sesuai dengan misi Indonesia. Mereka ingin mengambil peran dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.

Maka lahirlah suatu kesepakatan atau persetujuan antara sebagian besar anggota kelompok KKN itu untuk mendirikan sebuah komunitas yang kegiatannya fokus untuk membangun perpustakaan di daerah pelosok Indonesia. Ada rasa ingin berbagi dan berperan secara aktif guna menyelesaikan permasalahan pendidikan di Indonesia yang tertanam di hati mereka. Keadaannya, banyak sekolah dasar di pelosok yang tidak memiliki perpustakaan. Kalau pun ada, perpustakaan tersebut memiliki jumlah buku yang sangat terbatas dan bahkan buku-buku yang ada di dalamnya dapat diperkirakan rapuh dan nyaris rusak. Di samping alasan mulia itu mereka juga mempunyai hobi yang sama yaitu jalan-jalan. Faktor-faktor inilah yang menjadi penyemangat dan pemersatu mereka dalam menjalankan misi bersama.

Mulai dari situlah Book For Mountain mulai terjadi. Siapa yang menamai komunitas ini seperti itu pun kurang jelas diketahui. Tetapi secara gamblang, salah jika mountain atau gunung di sini diartikan sebagai pembangunan perpustakaan yang dilakukan hanya untuk sekolah-sekolah yang berada di gunung. Bukan seperti itu halnya seperti yang sudah disinggung sebelum-sebelumnya. Gunung di sini memiliki arti lebih, yaitu sebuah simbol atau ilustrasi yang mewakili sekolah-sekolah di daerah pelosok Indonesia.

Masuk ke masalah relawan, awalnya memang relawan komunitas Book For mountain hanyalah mahasiswa UGM. Maklum karena para pendirinya pun semua adalah mahasiswa jebolan UGM. Tetapi seiring berjalannya waktu, relawan yang berdatangan terus menjalar dan berkembang ke universitas-universitas lain di seluruh Yogjakarta seperti UNY, UII, UMY, UAD, dan sebagainya. Sampai ada pula relawan-relawan yang berada di luar kota Yogjakarta bersedia turut serta berkontribusi besar dalam langkah kaki Book For Mountain.

Pada dasarnya, setiap kegiatan Book For Mountain terbuka bagi siapa saja yang ingin menjadi relawan. Berbagi buku untuk gunung tidak tertutup hanya untuk para mahasiswa. Siapa saja yang memiliki keprihatinan pada pendidikan dan anak-anak dibolehkan mengikuti setiap kegiatan yang dilakukan komunitas ini. Berkontribusi dan berperan secara kolektif terhadap permasalahan pendidikan di Indonesia ialah hak dan tanggung jawab kita bersama, bukan? Kita semua harus merasa ikut bertanggungjawab dalam keterpurukan bangsa ini.

Alhasil, dari hanya sedikit sekali orang, dari hanya anggota KKN yang berjumlah sekitar 20 orang, BFM lahir berkembang. Sepanjang tahun 2010 sampai 2012 para pendiri hanya mengadakan close recruitment. Bisa dibayangkan close recruitment tidak akan memunculkan banyak peminat yang tertarik untuk bergabung. Mereka hanya mengajak dan mempublikasikan komunitas ini kepada teman atau kenalan mereka. Maka dari itu, tahun-tahun ini hanya mendatangkan rata-rata 10 sampai 15 orang anggota tetap BFM.

Barulah pada tahun 2013, anggota BFM mengadakan open recruitment secara formal. Dengan serius mereka menyebarkan informasi lewat media sosial seperti twitter. Lalu mereka juga memelihara blog tumblr dan mengisinya dengan berbagai informasi mengenai komunitas secara lengkap. Blog ini sangat membantu kami dan orang-orang yang haus akan informasi untuk mendapatkannya. Jadi pada dasarnya BFM bersifat terbuka untuk siapa saja yang ingin ikut dan berminat. Baik mahasiswa, pelajar, maupun bekas-bekas pelajar yang sudah lulus. Yang terpenting mereka memiliki keinginan dan satu pandangan dalam misi BFM untuk memperbaiki keadaan pendidikan Indonesia.

Setelah mendaftar atau mengatakan bahwa dirinya tertarik untuk menjadi anggota BFM maka si peminat akan langsung ditindaklanjuti. Anggota BFM akan menanyai mereka satu-persatu. Daftar pertanyaannya cukup sederhana, hanya berisi tentang motivasi dan ketertarikan si peminat. Sekali lagi, BFM lebih menekankan pada minat dan keinginan. Jadi jika ada yang tertarik tetap bisa masuk menjadi anggota walaupun tidak ada open recruitment sekalipun. Yang penting niat. Biasanya jika ada yang berminat orang ini akan diarahkan untuk mengikuti kegiatan BFM selama beberapa waktu. Sekalian mengakrabkan diri dengan anggota tetap BFM yang terlah lebih lama aktif. Setelah itu, tergantung keputusan si peminat apakah tetap ingin masuk menjadi anggota atau tidak.

Untuk organisasi BFM sendiri pasti ada perubahan dari awal berdiri sampai sekarang. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Anggota BFM juga bertambah menjadi 20 sampai 30 anggota aktif. Tentunya organisasi yang lebih terstruktur dan rapi dibutuhkan dalam menjalankan operasinya. Prima Dini Indriya, orang yang kami wawancara untuk mendapatkan informasi tentang komunitas ini, menjabat sebagai ketua sekarang. Tanpa ada wakil ketua, struktur organisasinya langsung turun ke sekretaris dan bendahara yang dijabat oleh satu orang. Lalu ada 4 divisi di bawah mereka. Ketua bersifat fleksibel sesuai dengan kebutuhan BFM pada saat itu. Sifat satu ketua baru dan ketua sebelumnya bisa sama sekali berbeda jadi struktur organisasi BFM pun dapat berubah seiring dengan perubahan ketua.

Untuk pemilihan ketua BFM biasanya melakukannya melalui musyawarah. Yang penting anggota bisa menerima. BFM lebih memilih untuk mengandalkan kekeluargaan. Jadi, tidak terlalu penting siapa ketuanya, asalkan si ketua itu bisa menjaga agar kegiatan BFM itu tetap bisa berjalan dengan lancar. Selama ini, ketua BFM sudah berganti tiga kali. BFM akan melihat kondisi apakah si ketua masih bisa menjabat atau tidak karena akan nada masanya dimana sang ketua sudah menyelesaikan pendidikan di Yogja dan memang harus meninggalkan kota ini.

Terkait dengan struktur organisasi dan kegiatan BFM, untuk kegiatan besar biasanya akan dibentuk struktur kepanitiaan baru diluar struktur organisasi inti komunitas. Hal ini cukup mudah dilakukan karena kepanitiaan baru pun hanya akan berisi anak-anak anggota BFM sendiri. Sedangkan untuk kegiatan kecil akan ditunjuk orang-orang yang akan berlaku sebagai penanggung jawab kegiatan.

Ada beberapa kegiatan yang dilakukan Komunitas BFM selama ini. Kegiatannya bersifat rutinitas dan incidental. Kegiatan tersebut memiliki tujuan yang berbeda tetapi tetap berupaya memberikan perubahan yang lebih baik untuk Indonesia. Bentuknya boleh berbeda teta[pi tujuan tetap sama. Langsung saja akan kita bahas kegiatan rutinitas dan incidental BFM.

Hari Kumpul Buku, itulah salah satu kegiatan rutinitas Komunitas BFM yang dilakukan sebulan sekali dan ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat mendonasikan bukunya sekaligus berkumpul dengan donatur lainnya dan relawan BFM. Sebelum dilakukan kegiatan kumpul buku ini biasanya BFM menentukan tempat dan waktunya lalu dilakukan kampanye berupa menyebarkan poster. Orang-orang yang tertarik untuk datang tetapi tidak membawa buku, tetap bisa mengikuti kegiatan ini. Kegiatan ini juga termasuk sesi saling cerita baik anggota BFM maupun yang bukan anggota BFM.

D:hari kumpul bukuDSC_0166.JPG

Kegiatan kumpul buku di bunderan Universitas Gajah Mada.

Walau hanya segelintir anggota BFM saat kumpul buku di bunderan UGM, tetapi mereka tetap optimis bahwa setumpuk buku ini sangat membantu bagi adik-adik yang ada di pelosok negeri ini. Terlihat pada kotak yang bertuliskan “Drop Your Book Here!” di tengah kakak-kakak yang sedang melihat dan menyeleksi buku-buku yang akan disumbangkan. Kegiatan kumpul buku ini tidak selalu di gelar di bunderan UGM. Anggota BFM biasanya menyepakati tempat yang letaknya mudah terjangkau oleh anggota BFM yang lain.

Terlihat wajah-wajah ceria di saat kakak-kakak BFM sedang mengajak bermain adik-adik SekBer Magelang. Tawa, canda tak lepas sampai pelajaran berakhir. Belajar sambil bermain, itulah salah satu cara yang dilakukan anggota BFM untuk lebih dekat dengan adik-adik agar mereka punya semangat dan percaya bahwa belajar itu menyenangkan. Tak pernah terlihat wajah lelah dari para anggota BFM. Keceriaan yang ada pada anak-anak itulah yang menjadi nyawa mereka. Seperti itulah suasana yang ada pada setiap kegiatan Sekolah Berjalan BFM ini.

Kegiatan ini dilakukan di berbagai tempat pelosok di wilayah Daerah Istimewa Yoyakarta dan sekitarnya. Sekolah berjalan ini biasanya diadakan di Mushola setempat. Pernah pada masa-masa awal BFM, pasca Merapi merapi memuntahkan laharnya, BFM mendirikan sekolah darurat yang berada di shelter Merapi. Sekolah Berjalan atau sering disebut SekBer merupakan agenda kegiatan Komunitas BFM yang dilakukan rutin dua minggu sekali. Hingga kini sudah diadakan 20 kali SekBer yang dilakukan diantaranya di daerah Sleman, Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, Magelang, dan lainnya.

D:BFM Ep Sekber MagelangDSC_0193.JPG

Hasil menggambar adik-adik SekBer Magelang

Awal keprihatinan yang melandasi dibuatnya SekBer karena melihat saat ini perkembangan teknologi berupa game maupun televisi sangatlah pesat dan banyak berpengaruh pada perkembangan anak-anak. Bertujuan untuk berbagi ilmu kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan. Mereka bisa tetap bermain namun tetap memperoleh ilmu yang bisa jadi belum mereka peroleh di sekolah, misalnya mengenalkan anak-anak bagaimana terjadinya letusan gunung berapi dengan menggunakan air soda dan permen, menjelaskan cara kerja roket menggunakan balon, mengajak anak-anak membuat celengan menggunakan botol bekas minuman, menggambar pada benda-benda di sekitarnya, dan lainnya.

Selain itu, SekBer ini juga merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan microteaching yang dimiliki para anggota BFM dan tujuan utamanya sekali lagi ditekankan oleh pria yang akrab disapa Prima itu adalah tidak lain untuk menyebar virus baca. SekBer juga sebagai salah satu cara untuk memfasilitasi para relawan yang ingin berpartisipasi namun tidak dapat mengikuti kegiatan project pembangunan perpustakaan karena terkendala waktu dan biaya.

D:BFM Ep Sekber 1DSC_0055.JPG

Sekolah berjalan 1

Sebelum dilakukan kegiatan sekolah berjalan, biasanya para anggota BFM melakukan observasi terlebih dahulu ke daerah-daerah pelosok DIY. Biasanya yang akan dituju sebagai lokasi kegiatan sekolah berjalan oleh BFM ini adalah sekolah yang jarang terjamah oleh masyarakat luar dan memiliki fasilitas perpustakaan yang tidak memadai. Beberapa lokasi atau daerah, ada yang masyarakatnya antusias untuk diajak belajar dan membaca, seperti di shelter Bromo, tetapi ada juga yang kurang tertarik seperti di Semeru. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh dari faktor budaya yang pada masyarakat yang belum sadar akan pentingnya pendidikan dan budaya membaca, seperti di SDN Senoyo, jelas pria yang selalu memakai kacamata itu.

4 Maret 2011, Desa Ngadirejo, Bromo menjadi awal project Pembangunan Perpustakaan yang diadakan Komunitas BFM. Project ini merupakan kegiatan utama Komunitas BFM dan merupakan salah satu kegiatan insidental. Tak ada rasa takut terlihat di wajah adik-adik SDN Ngadirejo walaupun mereka tinggal dekat dengan mulut Bromo yang mungkin dapat sewaktu-waktu merenggut nyawa mereka. Impian mereka untuk memiliki perpustakaan akhirnya terwujud berkat kedatangan Komunitas BFM. Hingga kini sudah 20 perpustakaan yang dibangun di berbagai pelosok di Indonesia.

Project Pembangunan Perpustakaan di Bromo

Selain project pembangunan perpustakaan ada juga Bedah Perpustakaan. Sebuah kegiatan yang dilakukan ketika memang ada tempat-tempat yang memang membutuhkan bantuan dalam pengaturan perpustakaan atau rumah baca yang dimiliki. Mengapa kegiatan-kegiatan ini bersifat incidental? Karena dibutuhkan biaya yang banyak untuk melaksanakannnya. Selain itu, kegiatan ini juga diadakan setahun hanya beberapa kali.

Nah, ini bagian yang paling menarik dari semua kegiatan BFM, Voluntourism. Lamanya perjalanan tak menghentikan langkah kaki mereka untuk sampai di lokasi tempat dimana mereka akan menyebarkan kebaikan. Meski harus menempuh perjalanan dengan kereta api menuju Merak, Banten kemudian perjalanan dilanjutkan dengan menyebrangi Selat Sunda menggunakan kapal untuk sampai di Pulau Sebesi, Krakatau. Senyum mereka terus mengembang saat mulai mendekati bibir pantai meski matahari sudah mulai tenggelam. “Paradise” Itulah yang mungkin dapat menggambarkan suasana yang ada di pulau Sebesi, salah satu lokasi program Voluntourism yang akan dilaksanakan saat itu.

F:IMG_7349.JPG

Kegiatan bermain sambil belajar untuk anak-anak Pulau Sebesi

D:BFM Volunturisme 3 KrakatauIMG_7666.JPG

Snorkeling oleh para traveller BFM

Sebenarnya apa sih yang dimaksud Voluntourism itu? Voluntourism merupakan kegiatan yang menggabungkan tourism dan menjadi volunteer untuk mengajar anak-anak. Voluntourism ini ditujukan untuk para traveller. Voluntourism bisa dibilang paket lengkap karena kita menjadi relawan, berbagi, dan berekreasi. Relawan mengajar anak-anak, berbagi ilmu serta sekaligus melakukan wisata. Pada Voluntourism ini para peserta juga turut memberikan donasi untuk kegiatan BFM selanjutnya.

Awalnya kegiatan Voluntourism ini dilakukan untuk membantu perekonomian masyarakat desa Ngadirejo yang saat itu terkena bencana erupsi Bromo. Adanya erupsi di Gunung Bromo membuat pertanian yang menjadi mata pencaharian mereka mengalami kerusakan, akibatnya perekonomian mereka pun terganggu.

Hal inilah yang kemudian mendorong Komunitas BFM untuk membantu dengan mengadakan sebuah kegiatan bernama Voluntourirsm. Hingga saat ini sudah terdapat 3 kali pelaksanaan Voluntourism, yaitu 2 kali di Desa Ngadirejo, Bromo, dan 1 kali di Pulau Sebesi, Krakatau.

Setelah mengetahui lengkap apa-apa saja yang menjadi aktifitas BFM wajar jika terpikir tentang biaya. Seperti yang bisa dibayangkan seluruh kegiatan yang diselenggarakan komunitas BFM ini memakan biaya yang tidak sedikit. Programnya tidak sedikit maka biayanya pun tidak sedikit. Tetapi komunitas BFM sebagian besar masih mengandalkan donasi. Donasi didapat dari anggota BFM dan teman anggota di sekitar BFM. Selain mengandalkan donasi, belakangan ini BFM mulai berjualan secara kecil-kecilan. Dalam menjalankan aktifitasnya, anggota BFM tidak mengambil keuntungan apapun dari donasi. Bahkan, tidak jarang mereka harus mengeluarkan biaya sendiri untuk transport menuju ke lokasi aktifitas BFM.

Untuk urusan kerjasama ke luar, BFM biasanya bekerja sama dengan komunitas yang dekat dan berkecimpung dalam bidang yang sama, seperti pendidikan. Kerja sama yang sudah pernah dijalin oleh BFM antara lain dengan Komunitas Jogja Menyala dalam bentuk bertukar buku dan Komunitas Jendela. BFM pun sering diundang untuk mengisi acara komunitas lain, seperti mengisi pameran atau acara sharing. Mahasiswa-mahasiswa pun banyak yang menjadikan BFM sebagai bahan thesis, tugas, atau skripsi mereka.

Manusia selalu memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik seperti halnya dengan BFM. Keinginan BFM untuk terus meningkat tentunya ada. Di setiap tahunnya, BFM akan mengevaluasi diri sehingga keinginan tersebut tidak mustahil untuk dicapai. Tetapi untuk saat ini anggota BFM sudah cukup puas dengan pencapaian komunitasnya. Belum ada keinginan untuk memperluas diri ke kota-kota lain di luar Jogja seperti Komunitas Jendela. Kak Prima pun mengatakan bahwa sudah banyak kegiatan BFM yang beroperasi di luar Yogja. Tidak perlu melebarkan sayapnya pun mereka sudah cukup bersosialisasi ke luar Yogja.

Pengaruh masyarakat yang ditunjukkan kepada BFM bermacam-macam dan ada dalam berbagai bidang. Pada setiap daerah yang telah dikunjungi komunitas BFM, tentunya mengalami perubahan positif baik secara signifikan maupun tidak, meskipun setiap daerah tidak sama. Perubahan dalam bidang sosial ini, seperti masyarakatnya menjadi lebih mudah berbaur dengan orang baru. Mudah berbaur ini ditunjukkan dengan kebersediaannya masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan perpustakaan yang memakan waktu lumayan lama. Setiap komunitas di Jogja mempunyai peran untuk menjaga kerukunan. Orang-orang yang dulunya apatis dengan adanya komunitas ini menjadi dapat lebih berbaur dan menemukan keluarga baru dari mahasiswa fakultas dan universitas lain.

Pada bidang ekonomi, dampaknya kemungkinan tidak langsung. Namun, dampak dari berkembangnya bidang sosial, seperti masyarakatnya lebih mudah berbaur dan menerima informasi baru dan dalam bidang budaya, seperti masyarakatnya menjadi lebih memiliki pengetahuan akan berdampak pada berkembangnya ekonomi di daerah itu menjadi semakin baik dan maju.

Dalam bidang budaya, Komunitas BFM mampu membuka wawasan atau pikiran masyarakat terhadap pendidikan. Mereka lebih mengerti bahwa pendidikan itu penting. Hal yang paling diutamakan sebagai tujuan BFM ini adalah menyebarkan virus baca kepada masyarakat di daerah-daerah pelosok yang umumnya tidak begitu peduli akan membaca. Oleh sebab itu, komunitas BFM ini mendirikan perpustakaan yang diisi dengan buku-buku hasil sumbangan.

Bagi anda yang ingin tahu lebih jauh atau mungkin ingin mampir karena penasaran, Sekreatariat Book For Mountain Jl Titi Bumi Barat 44, Patran, Gamping, Sleman, Yogjakarta. Lebih tepatnya, setelah menyusuri Jalan Gejayan belok ke kiri menyusuri Jalan Ring Road Utara lalu belok sedikit ke kiri menuju Jl. Kabupaten, masih di jalan yang sama lalu belok sedikit ke kanan menyusuri Jl. Kabupaten. Melewati Apotek Kronggahan dan Rumah Sakit UGM. Pada pertigaan kedua belok ke kiri, lurus melewati Warung Momon. Setelah melewati perempatan, belok ke kiri menuju Jl. Ring Road Barat. Lurus meyusuri jalan ini, anda akan menemukan SDN Jambon 2 di sebelah kiri. Melewati SD itu lurus terus sampai bertemu dengan perempatan. Di sana, sebaiknya mengambil belokan ke kiri kemudian anda akan menemukan Sekretariat Book For Mountain.

Sumber: About Us. http://bookformountain.tumblr.com/about%20us . (3 April 2015).

Wawancara dengan Prima Dini Indriya sebagai ketua Komunitas Book for Mountain pada tanggal 20 Maret 2015 pukul 14.30 WIB di Tugu Bunderan UGM Yogyakarta.

ristayolisa25@gmail.com'

About PutuRista