Belajar Dari Bangsa-Bangsa Sahabat

Pelayaran bangsa nusantara mencapai berbagai belahan dunia, seperti India dan Cina di Asia, Madagaskar di Afrika dan Australia beserta pulau-pulau di sekitarnya. Sungguh sangat menarik, dari kunjungan ke berbagai wilayah itu, tak satupun catatan dari bangsa-bangsa lain yang menggambarkan secara negatif. Sebaliknya, bangsa nusantara selalu digambarkan sebagai bangsa yang istimewa.

Pelayaran ke berbagai negara menjadikan bangsa nusantara memiliki pengalaman yang semakin luas. Banyaknya tantangan di tengah lautan menjadikan bangsa nusantara tumbuh menjadi ahli perkapalan yang terampil sekaligus pelaut yang tangguh. Keahlian membuat kapal dimiliki semua suku di nusantara yang mengembangkan budaya maritim. Salah satu hal yang menarik adalah bahwa teknik pembuatan kapal yang dikembangkan memiliki sistem yang sama. Kesamaan itu menunjukkan bahwa dalam masyarakat nusantara sendiri terjadi jalinan interaksi yang intensif, sehingga penemuan ilmu dan teknologi yang dilakukan oleh salah satu suku dapat dinikmati, dipelajari dan dikembangkan oleh suku-suku lainnya.

Proses mempelajari dan mengembangkan berbagai pengetahuan baru juga terjadi saat bangsa nusantara tinggal untuk beberapa waktu di suatu negara yang dikunjungi. Bangsa nusantara memiliki prinsip untuk menghormati semua orang. Salah satu wujudnya adalah dengan sedapat mungkin mempelajari adat istiadat dari masyarakat yang dikunjungi. Sikap itu sesuai dengan pepatah “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung tinggi”. Mempelajari dan menyesuaikan diri dengan adat istiadat setempat juga penting bagi perdagangan. Agar transaksi berjalan lancar dan tidak terjadi kesalahpahaman dengan pedagang setempat, bangsa nusantara mempelajari bahasa dan adat istiadat mereka.

Coromandel

Salah satu bangsa yang sering dikunjungi para pedagang nusantara adalah India. Bahkan di negara itu bangsa nusantara memiliki pemukiman khusus (semacam koloni) di pelabuhan yang dikenal sebagai sebagai Kurumanggala atau Kurumandala (Coromandel). Keakraban itu dapat terjalin diantaranya karena para pedagang nusantara bersedia mempelajari bahasa dan adat istiadat setempat. Mereka mempelajari bahasa lisan yang digunakan oleh penduduk di sekitar pelabuhan, yaitu bahasa Sanskerta. Bahkan bangsa nusanatara juga berhasil mempelajari sistem penulisan yang digunakan oleh masyarakat setempat, yaitu huruf Pallawa.

Brahmi

Dengan kepandaian membaca dan menulis huruf India, baik Brahmi maupun Pre Nagari, bangsa nusantara menjadi mampu mempelajari berbagai aspek kebudayaan yang berkembang di India saat itu, seperti teknologi bangunan pada bangunan suci dan seni pembuatan patung. Mereka juga dengan tekun mempelajari kitab-kitab yang ditulis oleh para pujangga, terutama bidang sastra.

Interpretasi Sejarawan/Arkheolog

Dalam sejarah Indonesia, periode ini disebut sebagai masa kerajaan Hindu. Dijelaskan bahwa pada periode ini terjadi penyebaran agama Hindu ke berbagai wilayah nusantara. Bahkan kemudian dimunculkan teori-teori tentang siapa tokoh yang menyebarkannya, yaitu kasta Brahmana, Ksatria dan Sudra. Ketiga teori itu berusaha menjelaskan bahwa bangsa India aktif menyebarkan agama Hindu di nusantara. Bukti yang digunakan adalah luasnya penggunaan bahasa Sanskerta dan huruf Brahmi di nusantara, juga banyaknya candi.

Ada beberapa kelemahan yang terdapat pada penjelasan dalam sejarah Indonesia selama ini. Pertama, agama Hindu adalah bukan agama dakwah yang berusaha menghindukan seluruh dunia. Hal itu berbeda dengan agama Islam, Katolik dan Protestan. Ketiga agama yang disebut terakhir adalah agama dakwah, yang berusaha menjadikan seluruh umat manusia menjadi pemeluknya. Dari sudut pandang ini, kemungkinan besar sejarawan/arkheolog Indonesia adalah penganut salah satu agama dakwah itu dan memperlakukan Hindu sebagai agama dakwah.

Dakwahisasi Hindu sangat bertentangan dengan kodrat agama Hindu sebagai bagian tak terpisahkan dari tradisi dan identitas kultural bangsa India. Maksudnya, agama Hindu adalah hanya untuk orang India, seperti dewasa ini kita kenal agama Sunda Wiwitan untuk orang Sunda, Kejawen untuk orang Jawa, Yahudi untuk orang Israel. Tidak sedikitpun ruang dan tenaga untuk mengembangkannya menjadi agama dakwah, karena agama-agama tradisi itu melekat pada etnisitas.

Kelemahan ke dua, seperti disampaikan oleh Heidegger dan para pengikutnya bahwa tindak membaca tidak hanya memahami isi bacaan, tetapi yang paling penting adalah adanya ruang pengembangan potensi pembaca yang disediakan oleh bacaan. Maksudnya, tujuan utama orang melakukan tindakan membaca adalah untuk mengembangkan potensi diri. Dari sudut pandang ini, bangsa nusantara mempelajari tradisi India adalah bukan untuk mengubah dirinya menjadi seperti bangsa India, tetapi untuk mengembangkan diri bangsa nusantara. Oleh karena itu, seandainya terjadi kesamaan benda yang digunakan antara bangsa nusantara dan bangsa India, maknanya sangat mungkin berbeda jauh. Sangat banyak kasus dapat dijadikan bukti adanya perbedaan makna tersebut, misalnya kasus makna Durga yang ditempatkan sebagai tokoh jahat pada Indonesia, tetapi di India sebagai tokoh baik. Dengan sudut pandang ini, penamaan periode Kerajaan Hindu, selain kurang tepat juga menggunakan logika aneh, yaitu gunting putus terhadap masa lampau.

Pengembangan Kebudayaan Nusantara

Sungguh tepat apa yang disampaikan Heidegger untuk menggambarkan hasil berbagai petualangan laut yang dilakukan bangsa nusantara. Perkenalan dengan kebudayaan berbagai bangsa, khususnya India dan Cina, menjadikan wawasan semakin luas. Bangsa nusantara memanfaatkan pengalaman dan berbagai pengetahuan itu untuk semakin mendewasakan diri dan mengembangkan berbagai potensi yang terdapat pada kebudayaan asli.

Pengembangan kebudayaan nusantara paling jelas adalah dalam aspek kebahasaan. Pengenalan bahasa dan tulisan India, tidak mengubah bangsa-bangsa nusantara menjadi berbahasa India. Sebaliknya, huruf yang dikenal di India, sesampainya di nusantara kemudian diolah untuk digunakan menuliskan bahasa sendiri. Penggunaan bahasa nusantara antara lain dapat disimak dari Prasasti Kedukan Bukit.

 PRASASTI KEDUKAN BUKIT

Svasti çrî çakavarsâtita 605 ekadaçi çuklapakşa vulan vaiçakha dapunta hyang nayik di samvau mangalap siddhâyatra di saptami çuklapakşa vulan jyestha dapunta hyang marlapas dari minaŋa Taŋvan mamava yang vala dua pakşa ko dua ratus carâ di samvau dangan jalan sarivu telu ratus sapuluh dua vanakņa datang di mukaupaŋ sukhacitta di paňcami çuklapakşa vulan asadha laghu mudita datang marvuat vanua … Çrîvijaya jayâ siddhayatra subhika

Sengaja beberapa kata diberi garis bawah untuk menunjukkan digunakannya bahasa nusantara yang kosa katanya masih dipakai sampai sekarang. Dari sini, sesuai dengan ungkapan “bahasa sebagai jendela hati“, maka  dapat dilihat bahwa pengembangan potensi budaya asli itu terjadi dan bangsa nusantara sama sekali tidak berubah kepribadiannya menjadi bangsa asing.

 

sastrosukamiskin@yahoo.com'

About Mbah Sastro