Batik Tulis Giriloyo “SRI KUNCORO”

Batik Tulis Giriloyo

“SRI KUNCORO”

 

Di susun oleh :

  1. Birgitta Lucy Christabella (Matematika/ 143114003)
  2. Efrem Guardi Santoso ( Matematika/ 143114008)

 

1. Pendahuluan

a. Latar Belakang

            Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Indonesia adalah negara yang menyimpan banyak sekali budaya dan kebudayaan yang beragam.

            Di tengah jaman yang semakin modern ini terdapat berbagai hal yang telah berkembang dan merambat ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Seperti dalam bidang sandang yang telah melahirkan produk-produk yang berbau westernisasi. Hal ini kontras dengan budaya Indonesia yang mengedepankan kesopanan dan sangat menghargai kazanah kebudayaan. Karena itu, Indonesia memiliki kebudayaan yang patut dikembangkan dan dijaga. Salah satunya batik. Tahun 2009, batik diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia. Rakyat Indonesia boleh bangga. Ancaman klaim dari negara tetangga pada batik pun dapat ditanggulangi.

            Batik adalah salah satu kebudayaan Indonesia yang menjadi kebanggaan Indonesia. Batik merupakan salah satu kebudayaan khas Indonesia yang diwariskan dan sampai sekarang masih terjaga kelestariannya dan merupakan salah satu ciri kepribadian bangsa Indonesia. Tujuan membatik ini adalah selain untuk meneruskan warisan nenek moyang, juga sebagai produk asli yang dapat mengimbangi perkembangan produk modern.

            Pada kesempatan kali ini kami ingin memperlihatkan kepada masyarakat bahwa produk lokal khususnya batik tidak kalah saing dengan produk asing. Kali ini sasaran kita adalah salah satu komunitas membatik di daerah Imogiri, Jogjakarta. Melihat Jogjakarta adalah daerah di mana batik berkembang begitu pesat. Dan juga Jogja adalah daerah keraton dimana membantik adalah salah satu kebudayaan turun-temurun. Sehingga kami tertarik untuk meliput segala seuatu tentang membatik di daerah Jogja, khususnya Giriloyo, Imogiri. Batik Giriloyo adalah batik yang mengambil nama kampung di selatan Yogyakarta yang terkenal sebagai sentra pengrajin batik tulis asli, khas kraton Mataram (Yogyakarta & sekitarnya). Kerajinan batik sudah menancap di dusun ini lama sekali, berabad-abad tahun yang lalu. Alasan utama kami memilih daerah Imogiri karena di sana hampir seluruh masyarakatnya dari anak-anak sampai dewasa terampil dalam membatik. Selain itu mereka memproduksi batik klasik yang merupakan peninggalan nenek moyang. Daerah Giriloyo telah lama dikenal sebagai sentra batik Yogyakarta. Batik Giriloyo terkenal sebagai batik tangan motif keraton yang halus, dengan ciri khas warna soga atau cokelat.

b. Manfaat penelitian Batik Tulis Giriloyo

Melestarikan budaya Indonesia dan mengenalkan batik kepada masyarakat.

            Kebudayaan lokal Indonesia yang sangat beraneka ragam menjadi suatu kebanggaan sekaligus tantangan untuk mempertahankan serta mewarisi kepada generasi selanjutnya. Budaya Indonesia sangat membanggakan karena memiliki keanekaragaman yang sangat bervariasi serta memiliki keunikan tersendiri dan kekhasan tersendiri. Dengan demikian kita sebagai anak bangsa khususnya orang muda yang menjadi generasi bangsa, kita patut melestarikan dan mengenalkan budaya kita kepada masyarakat salah satunya adalah batik. Batik merupakan pakaian yang menjadikan ciri khas bangsa Indonesia dan merupakan budaya yang kita miliki, dimana batik dibuat oleh anak bangsa yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Sehingga di zaman yang semakin modern ini kita harus mampu menjaga kelestarian batik dan jangan sampai batik kalah dengan produk-produk asing yang pada saat ini marak dibicarakan dan banyak diminati oleh masyarakat Indonesia.

  1. Hasil Penelitian

 

Sejarah Batik Sri Kuncoro

            Mungkin masih terngiang dalam ingatan kita tentang kejadian gempa tahun 2006 silam. Itu merupakan salah satu bencana besar bagi masyarakat Jogja dan sekitarnya. Dan seorang ibu yang bernama Imaroh merasakan bencana tersebut. Waktu itu para pengrajin batik di Imogiri terhambat. Oleh karena itu ibu Imaroh yang juga merupakan warga Imogiri mencetuskan idenya untuk membangun komunitas membatik, dengan tujuan agar budaya membatik tidak hilang dan harus kita jaga, kita sebagai pewarisnya agar batik khususnya batik tulis tetep ada dan berkembang. Batik Sri kuncoro resmi didirikan tepatnya pada tanggal 5 April 2006, yaitu batik tulis klasik. Ide itu juga dicetus karena membatik merupakan warisan turun-temurun sejak jaman nenek moyang. Sejak dia lahir, masyarakat di Giriloyo sudah membatik. Imaroh sendiri membatik sejak umur delapan tahun.Giriloyo merupakan kampung batik jogja. Menurut Ibu Imaroh, rata-rata perempuan di daerah Giriloyo mahir membatik. “Bagi kami perempuan di sini, membatik merupakan pekerjaan yang rutin kami jalani,” kata dia. Dengan sendirinya, generasi dia sekarang terus mengikuti jejak para pendahulu. Ibu Imaroh menilai penting usaha mewarisi tradisi batik tulis. Selain warisan turun temurun, ia juga merasakan kebanggaan karena melestarikan warisan budaya bangsa.

            Dari situ, kemudian setelah Gempa 2006, ibu imaroh mendirikan usaha membatik yang dinamakan SRI KUNCORO. Sri kuncoro merupakan usaha membatik yang para pengrajinnya adalah msayarakat giriloyo sendiri. Awalnya ibu Imaroh mencetuskan idenya sendiri dan menjalankan usaha sendiri. Karena keinginananya yang begitu besar, ibu imaroh dengan semngat mengembangkan usahanya itu. Lalu kemudian dia dibantu oleh suaminya yang sudah mulai menyadari pentingnya usaha membatik untuk kepentingan masyarakat dan negara. Dampak dari usaha tersebut disambut baik oleh warga sekitarnya yang kemudian ikut berpartisipasi dalam membatik. Sehingga membatik merupakan sebuah bentuk gotong royong antara sesama warga, akibatnya jalinan silaturahmi mereka juga terjalin baik dan erat. Sangatlah kental nilai persaudaraan yang mereka miliki tanpa memandang dari segi apapun mereka tanpa pamrih saling tolong menolong.

           Para pengrajin batik di Sri Kuncoro belajar batik itu secara otodidak, tidak ada pelatihan khusus untuk membatik. Mereka mengandalkan pengetahuan membatik yang sudah turun-temurun dari generasi sebelumnya. Boleh dibilang naluri membatik sudah mengakar dalam jiwa mereka. Hal ini berdampak pada anak-anak yang sejak kecil sudah tahu cara membatik.

            Karena membatik merupakan keseharian warga di sana, warga tidak terlalu memikirkan hambatan untuk membatik di Sri Kuncoro. Para pengrajin batik di Sri Kuncoro bukanlah pengrajin tetap. Mereka adalah warga yang saling membantu untuk mengembangkan usaha batik tulis.

            Yang dapat di tonjolkan dari Batik tulis Keunggulan nilai seni dan sejarahnya. Sekaligus menghargai pekerjaan pembatik. Untuk membuat batik tulis harus pelan-pelan. Jika dibandingkan dengan batik  printing tentu beda. Hasilnya pun berbeda, lebih berkesan batik tulis. Batik tulis semakin dipandang semakin anggun, bagus dan tidak akan bosan. Untuk motif klasik di Sri Kuncoro ada ratusan. Yang sering kita kerjakan sekitar 30 motif, terutama, sido asih, sido mukti, sekar jagad, wahyu tumurun, sri kuncoro, dan lainnya.

            Dikampung ini sering juga digunakan untuk pembuatan film yang berlatar kampung tradisional dan bernuansa penduduk dengan kehidupan sederhana sebagai pengrajin batik.

Perkembangan dan Prestasi Batik Sri Kuncoro

            Dalam perkembangannya Sri Kuncoro telah menjadi salah satu usah membatik yang patut diperhitungkan di masa kini. Karena dapat kita lihat di jaman modern ini pengrajin batik klasik itu sudah berkurang. Batik sudah menjelma menjadi produk yang lebih modern yang membuat nilai klasiknya semakin memudar. Sementara Sri Kuncoro memproduksi batik klasik yang nilai warisannya masih sangat bernilai. Hal inilah yang membuat Sri Kuncoro patut dihargai karyanya, karena nilai klasiknya itu tidak hilang. Dampaknya adalah banyak masyarakat dari daerah lain yang menaruh perhatiannya kepada batik Sri Kuncoro. Seperti sekolah dasar di Bantul yang memesan seragam batik sekolah di Sri Kuncoro. Hingga saat ini, yang sering datang belajar adalah pelajar SMP dan SMA. Sekali datang ada yang bisa mencapai 150 orang. Kebanyakan yang datang rombongan dari luar kota seperti Bogor, Semarang, Surabaya. Rombongan seperti ini biasanya ramai saat liburan sekolah.

            Selain itu juga beberapa warga dari negara asing memesan batik di sana. Seperti dari Jerman, Jepang, dan Malaysia. Khusus Jepang hampir setiap tahun memesan batik di sana. Alasan utama mereka memilih Sri Kuncoro adalah karena nilai klasiknya yang tetap terjaga. Dari sini dapat dilihat pengaruh batik yang begitu besar baik di negara kita maupun negara lain. Bahkan batik adalah salah satu kebutuhan sandang yang mampu bersaing di jaman sekarang. Karena kalau kita lihat, produk-produk dari luar negeri yang memiliki nilai modern lebih tinggi memiliki pengaruh besar bagi masayarakat indonesia khususnya orang muda. Sehingga orang muda kurang tertarik dan kurang berperan besar dalam kebuyaan batik. Tetapi Batik Sri Kuncoro mampu membuktikan bahwa kebudayaan batik tepatnya batik klasik tidak kalah hebatnya dengan produk-produk asing. Batik digunakan oleh para pejabat tinggi untuk suatu kegiatan penting, seperti para pejabat negara yang memakai batik pada saat pertemuan kenegaraan. Selain itu, batik juga dijadikan sebagai salah satu ajang dalam sebuah karnaval kebudayaan. Mungkin kita mengetahui berita mengenai kunjungan Ratu Denmark ke Indonesia yang menyatakan ketertarikannya terhadap batik. Setidaknya itu menunjukkan bahwa batik memiliki daya tarik tersendiri bagi orang yang berasal dari luar negeri.

            Sri Batik Kuncoro dalam perjalanannya sejauh ini bisa dibilang perkembangannya cukup pesat. Karena kekhasannya yang menampilkan karya klasik itu memikat perhatian banyak orang tidak hanya di Jogja. Sejauh ini ada beberapa sekolah dan perguruan tinggi yang terjun langsung untuk menyaksikan proses pembuatan batik klasik. Tidak hanya itu mereka juga ikut terlibat langsung mempelajari cara membatik. Hal ini menunjukkan bahwa Batik Sri Kuncoro memiliki tempat tersendiri dalam hati orang-orang. Walaupun belum ada penghargaan resmi utnuk menghargai usaha batik Sri Kuncoro tetapi bagi masyarakat batik Sri Kuncoro telah menghasilkan karya terbaik dan dipandang baik oleh masyarakat. Selain itu para pembantik di sana walaupun tidak menempuh jalur pendidikan resmi tentang membantik, namun mampu menunjukkan kinerja yang mumpuni dan sangat profesional. Tak jarang kelompok Paguyuban Batik Giriloyo mengikuti pameran-pameran batik. Setiap tahun dibantu pemerintah desa Wukirsari juga digelar Expo Batik di Giriloyo. Semua ini dilakukan sebagai langkah untuk tetap melestarikan batik. Di tengah geloranya semangat berkarya membatik, Batik Sri Kuncoro terdapat secercah harapan utnuk perkembangan kebudayaan membantik yang lebih baik dan semakin dicintai masyarakat Indonesia.        

            Ibu Imaroh menjelaskan tidak ada hari khusus untuk sesi belajar membatik. Setiap hari pintu Sri Kuncoro terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar membatik. Kata Ibu Imaroh penting untuk mengenalkan proses membatik.

Proses dasar batik adalah sebagai berikut :

Molani (membuat pola) – Menulis Tangan – Mbabar(pewarnaan)

Akan tetapi dari tiga proses tadi apabila dijabarkan akan menjadi proses yang panjang lebar dan umumnya dilakukan satu demi satu.

  1. Membuat pola mungkin adalah proses yang paling cepat diselesaikan, perajin akan menulis pola menggunaka pensil atupun arang kayu, sesuai dengan yang diinginkan. Ini kalau cepat bisa diselesaikan 3-4 jam.
  2. Setelah itu pada pada proses selanjutnya adalah proses penulisan tangan, inilah proses yang mungkin membutuhkan waktu paling lama karena dalam batik tradisional semua  penulisannya adalah manual dengan tangan. Selain menulis tangan dengancanting mengikuti pola yang ditentukan, dalam proses ini dikenal tahapan dalam istilah jawa Ngengrengi-Nyeceki-Nembok. Nah proses-demi proses tersebut biasanya dikerjakan oleh orang yang berbeda. Dan rata-rata memakan waktu satu minggu.
  1. Berikutnya adalah proses Mbabar  (Pewarnaan) Prosesmbabar biasanya dikerjakan dalam sehari selesai. Akan tetapi apabila batik yang dikehendaki hanya mengandung satu  warna. Apabila menginginkan motif batik dengan beberapa unsur dan tingkatan  warna,  maka proses ini harus dikerjakan berulang dan itu bisa membutuhkan waktu 2-3 hari.

Dalam proses mbabar (pewarnaan) dikenal juga proses ngerok dan nglorot.

 

Ngerok adalah mengupas malam/lilin yang menempel pada kain mori (primis) untuk kemudian diwarnai ataupun tidak.

Nglorot : mengambil kain batik yang sudah direndam dalam air pewarnaan kemudian diangin-anginkan ditempat teduh.

Dalam proses mbabar ini batik motif tradisional bisa di warnai dengan bahan sintetik (warna sintetis) maupun dengan bahan-bahan alam (warna alam).

            Demikianlah lamanya proses membatik, akan tetapi proses yang lama tersebut sengaja kami pertahankan demi menjaga nilai-nilai tradisionalitas, keaslian dan nilai historis-nya.Dalam membatik memerlukan kesabaran dan perasaan yang tenang dan nyaman agar hasil batik dapat menghasilkan karya yang bagus dan baik.

3.PENUTUP

            Batik tulis klasik Sri Kuncoro merupakan produk yang mengutamakan nilai-nilai klasik yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang dari sejak jaman kesultanan. Ibu Imaroh mengembangkan karya batik tulis klasik ini untuk melestarikan budaya yang merupakan ciri khas sebuah suku/bangsa. Batik tulis klasik Sri Kuncoro hadir untuk membawa kembali nilai kebudayaan yang telah membentuk kepribadian bangsa ini. Sehingga tidak heran apabila di sekolah-sekolah dasar menjadikan batik sebagai salah satu seragam sekolah yang dipakaikan setiap hari tertentu. Selain itu, para pejabat tinggi negara juga memakai batik untuk menghadiri rapat atau acara resmi atau semacamnya. Kita menunjukkan bahwa kita sangat menghargai batik. Batik melambangkan salah satu khas bangsa Indonesia. Batik tulis klasik Sri Kuncoro mendapatkan kepercayaan sebagai salah satu destinasi beberapa lembaga untuk memesan seragam batik. Selain itu, beberapa negara tetangga juga memesan batik tulis klasik Sri Kuncoro. Batik sangat dikenal oleh warga asing dan kita sebagai warga Indonesia dimana yang memproduksi batik harus lah bangga dengan produk dan kebudayaan kita. Dengan demikian kita harus mampu untuk menjaga kelestarian budaya khususnya batik dan mengembangkan batik agar lebih berkembang lagi agar tidak kalah dengan produk-produk asing. Usaha ibu Imaroh dan warga Giriloyo yang melestarikan kebudayaannya patut kita contoh dan kembangkan.

            Jadi janganlah malu untuk memakai dan mengembangkan kelestarian budaya kita sendiri. Cintailah dan jagalah kebudayaan Indonesia agar anak bangsa yang akan datang dapt mengetahui bahwa begitu banyak kebudayaan yang kita punya.

birgitta.bella@gmail.com'

About birgittabella