Bank Sampah Minomartani

Dari hasil wawancara kami terhadap ketua bank sampah. Bank sampah ini dibentuk pada tahun 2013 tetapi sebelum ada bank sampah itu pada tahun 2006 dilakukan sodakoh sampah dulu dari warga sekitar. Lalu untuk peminatnya sendri dari warga sekitar sanggat bagus dan sangat antusias sekali terhadap bank sampah  ini, latar belakang terbentuknya bank sampah ini adalah menjaga lingkungan tetap bersih dari sampah yang menumpuk,ini adalah program pemerintah juga untuk penanganan tempat pembungan sampah akhir didaerah bantul, mengurangi sampah yang dibuang oleh masyarakat, lingkungan menjadi lebih bersih dari sampah dan tidak ada penumpukan sampah lagi disekitar perumahan warga, mengurangi pencari sampah keliling. Dari kendala sendiri untuk menjalankan bank sampah ini tidak ada karena setiap minggu pun kegiatan selalu berjalan, tetapi permasalahannya hanya dari petugas bank sampah itu sendiri, petugas itu sendiri bisa merasa bosan mengurusi bank sampah karena petugasnya sendiri tidak mendapat upah atau gaji sama sekali, mereka disana hanya sukarela untuk mengelola bank sampah tersebut tetapi tetap harus dijaga pengurus bank sampah ini supaya tidak bosan dan selalu meluangkan waktu untuk bisa mengelola bank sampah tersebut, Cuma sekali mengalami tidak ada petugas pengurus bank sampah dan ujung-ujungan tutup, dan ada saat dimana petugasnya yang datang Cuma sedikit sehingga hanya dilakukan pencatatan penyetoran ke bank sampah tersebut tetapi belum masuk ke bank sampahnya. Dari pembangunan bank sampah tersebut dana didapat dari perlombaan itu merupakan modal utama untuk mencari dana, mengajukan proposal ke pemerintahan untuk meminta dana dan dari lembaga-lembaga yang datang kesana, lalu untuk perawatan bank sampah sendiri didapat dari bank sampah itu sendiri, pemerintah juga memberikan dana bantuan untuk mendirikan bangunan yang digunakan bank sampah ini. Dari pengumpulan sampah tersebut banyak dijadikan bahan kerajinan seperti tas, dompet, dll. Lalu barang-barang kerajinan tersebut dijual di galeri mereka sendiri dan kepameran yang sering mereka ikuti, dan jika ada pesanan saja.lalu setiap produk kerajinan dijual Rp 5000-Rp 100.000. dari pemerintah sendiri menanggapi masalah bank sampah ini secara positif, dan pemerintah juga sering mengunjungi bank sampah tersebut untuk melakukan studi banding disana. Dari bank sampah ini terdapat perubahan dilingkungan dari perubahan lingkungan sendiri sangat baik dan mengurangi volume sampah yang dibuang oleh warga dan dari perubahan ekonomi sendiri masih belum bisa dilihat. Pegawai dan pengurus bank sampah ini tidak lebih dari 15 orang jumlahnya sehingga kadang-kadang mengalami kesulitan dalam pelayanan kepada masyarakat, karena disana banyak penduduknya sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak banyak yang mau jadi pegawai dan pengurus bank sampah ini. Hampir disetiap rumah terdapat terdapat tempat sampah yang dibutuhkan untuk menampung sampah-sampahnya dan tempat sampah tersebut sudah dipilah juga menjadi sampah organik dan non-organik sehingga memudahkan memilah sampah-sampahnya. Dana yang didapat dari penjualan sampah akan masuk ke tabungan masyarakat yang memiliki buku tabungan disana ya walau pendapatan uangnya tidak terlalu besar tetapi dilihat dari effeknya dilingkungan itu sudah sangat membantu warga sendiri, sehingga lingkungan menjadi lebih bersih dan tidak berbau sampah. Bank sampah ini juga membantu mengurangi jumlah sampah di tempat pembuangan sampah akhir di bantul, karena disana sudah mulai kehabisan tempat, inilah cuplikan tentang tempat pembungan sampah akhir dibantul. Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Piyungan terletak di Kabupaten Bantul, ± 16 km sebelah tenggara pusat Kota Yogyakarta. Tepatnya di Dusun Ngablak, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Pembangunan TPA ini dilakukan pada tahun 1992 dan mulai dioperasikan tahun 1995 di atas tanah seluas 13 hektar dengan kapasitas 2,7 juta meter kubik sampah. Masa penggunaannya diperkirakan mencapai 10 tahun, dengan asumsi prosentase daur ulang 20%. Apabila prosentase daur ulangnya dapat ditingkatkan menjadi 50 % maka masa penggunaannya bisa mencapai 13 tahun. TPA Piyungan di bangun dalam tiga tahapan, tahap I dengan kapasitas sampah sebesar 200.000 meter kubik yang berakhir pada tahun 2000. Tahap II dengan kapasitas sampah sebesar 400.000 meter kubik yang berakhir pada tahun 2006 dan tahap III dengan kapasitas sampah sebesar 700.000 meter kubik pada tahun 2014. TPA Piyungan merupakan titik akhir pembuangan sampah yang dihasilkan warga tiga wilayah di Yogyakarta yaitu Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul, yang dalam seharinya bisa mencapai 200-300 ton sampah. TPA ini dikelola melalaui SEKBER KARTAMANTUL yang memfasilitasi Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul dalam berkoordinasi dan menentukan kebijakan yang akan diambil dalam pengelolaan sampah di TPA Piyungan. Dasar hukum dari kerjasama antar pemerintah daerah tersebut dituangkan dalam perjanjian Nomor: 07/Perj/Bt/2001, 05/PK.KDH/2001, dan 02/PK/2001 tentang Pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah di Piyungan Kabupaten Bantul. Perjanjian kerjasama ini dibuat atas dasar saling membantu dan menguntungkan dalam pengelolaan operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana TPA dengan tujuan agar pemanfaatan, pengelolaan dan pengembangan TPA dapat dilakukan secara efektif dan efisien serta memenuhi standar teknis lingkungan.

Pengelolaan sampah di TPA Piyungan menggunakan metode pengolahan sanitary landfill, yaitu dengan membuang dan menumpuk sampah ke suatu lokasi yang cekung, memadatkan sampah tersebut dan kemudian menutupnya dengan tanah. Idealnya sampah yang masuk ke dalam sanitary landfill adalah sampah orgaik yaitu sampah yang dapat terurai, sehingga dapat mempercepat proses komposisi. Namun dalam pengelolaan sampah ini, di TPA Piyungan tidak dilakukan pemisahan antara sampah organik dan anorganik. Pemilahan sampah-sampah tersebut hanya dilakukan para pemulung di sekitar TPA, itu pun sampah yang memiliki nilai ekonomi atau bisa dijual kembali. Jika sudah tidak memiliki nilai ekonomis, sampah-sampah tersebut menjadi makanan untuk ratusan ekor sapi dan domba milik penduduk setempat yang digembala di sekitar lokasi TPA Piyungan. Selain itu di TPA Piyungan juga terdapat kolam pengelolaan leacheate atau lindi, pipa pengendali gas buang, sistem drainase dan lapisan kedap air. Dengan penutupan sampah yang dilakukan secara periodik bisa untuk meminimalisasi potensi gangguan lingkungan.

adrianchrisna@gmail.com'

About adrianchrisna