Komunitas “KERANG”

Menolak Kebodohan

Nama Mahasiswa :

  1. Joni Rourensius (145314016)
  2. Vivi Siska (145314061)

Komunitas yang menjadi tujuan penulis untuk memenuhi penelitian mata kuliah pendidikan kewarganegaraan adalah KERANG. KERANG merupakan kependekan dari komunitas belajar dusun Nglarang. KERANG adalah komunitas yang bergerak dalam bidang pengabdian masyarakat yang mempunyai tujuan untuk mencerdaskan para siswa-siswi yang mempunyai minat belajar tinggi dan ingin mengembangkan lebih jauh lagi materi yang telah di terima oleh siswa-siswi sendiri di sekolah agar mereka dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang berkembang pesat serta memperkuat kepribadian siswa itu sendiri.

Komunitas KERANG merupakan sebuah komunitas yang didirikan oleh bapak Heri dan ibu Titik. Bagian unik dari KERANG ini yang berhasil menarik perhatian penulis adalah karena komunitas ini merupakan komunitas belajar yang independen, serta memiliki visi yang baik yakni meningkatkan pengetahuan siswa-siswi agar berkembang kepada tahapan yang lebih baik sehingga mampu bersaing dengan perkembangan yang seharusnya terjadi di zaman modern saat ini. Untuk Pengajarnya (mentornya) di dalam KERANG merupakan mahasiswa atau mahasiswi Sanata Dharma serta beberapa mahasiswa atau mahasiswi dari Universitas lain seperti : Universitas Atmajaya, YKPN, dan UNY pada awal berdirinya. Keunikan lainnya yang dapat kita peroleh yakni komunitas ini tidak melakukan pemungutan biaya sepeserpun dari siswa-siswi yang menjadi peserta didiknya. Bahkan untuk pengajar (mentor) pada komunitas ini juga bersifat sukarela bagi mahasiswa atau mahasiswi yang bersedia untuk terlibat dalam memajukan dan mencerdaskan siswa-siswi di lingkungan dusun nglarang yang tentunya akan sangat membantu untuk masa depan siswa-siswi tersebut.

  1. Sejarah

Latar belakang komunitas KERANG ini berawal dari kondisi siswa-siswi sekolah dasar kelas 6 yang akan menghadapi ujian nasional dalam beberapa waktu dekat. Pada saat itu, ujian nasional masih menjadi salah satu hal yang sangat penting dan bersifat wajib di dalam dunia pendidikan negara kita, khususnya bagi anak-anak sekolah dasar. Hal tersebut menjadi pemicu utama siswa-siswi kelas 6 sekolah dasar setempat mencari dan mendatangi ibu Titik dan bapak Heri untuk meminta bantuan beliau dalam membimbing siswa-siswi ini untuk belajar, padahal sebenarnya ibu Titik dan bapak Heri hanyalah pendatang baru (bukan penduduk asli setempat) di Yogyakarta namun tidak disangka akan mendapat kepercayaan seperti itu.

Ibu Titik dan bapak Heri berprofesi sebagai seorang Dosen di salah satu fakultas di Universitas Sanata Dharma. Di karenakan profesi tersebut, ibu Titik dan bapak Heri sendiri di percaya dapat membantu siswa-siswi sekolah dasar setempat untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional yang sudah terjadwalkan secara nasional. Namun, karena banyaknya permintaan dari siswa-siswi setempat dari waktu ke waktu serta kepercayaan yang terus diberikan kepada beliau, akhirnya ibu Titik dan bapak Heri berkeputusan untuk setuju dalam membantu siswa-siswi sekolah dasar setempat mempersiapkan diri mereka dalam menghadapi ujian nasional saat itu. Seiring dengan berjalannya kegiatan belajar mengajar tersebut, ternyata kegiatan tersebut berhasil menarik perhatian siswa-siswi setempat yang tidak dalam masa ujian nasional, dalam arti siswa-siswi yang dimaksudkan tidak dalam masa ujian atau ujian harian sekalipun.

Pada akhirnya bapak dan ibu merasa kewalahan karena jumlah siswa-siswi yang terus bertambah banyak. Karena permasalahan ini, lalu ditambah lagi dengan padatnya jadwal kegiatan sehari-harinya ibu dan bapak pendiri komunitas ini, kemudian setelahnya ibu pendiri memutuskan untuk menawarkan kegiatan ini kepada sebagian mahasiswa di beberapa Universitas. Pada saat itu kebetulan Universitas yang terlibat dalam penawaran itu bukan hanya dari Universitas Sanata Dharma dimana ibu Titik selaku pendiri mengajar sebagai dosen, melainkan juga dari Universitas lain seperti Universitas Atmajaya, YKPN, UNY dengan mahasiswa yang berasal dari berbagai macam program studi yang berbeda. Pada saat itu , sistem rekruitmennya masih bersifat terbuka bagi siapapun yang bersedia terlibat.

  1. Perkembangan Komunitas

Berdirinya komunitas ini bisa dikatakan bermula dari beberapa alasan serta tuntutan pendidikan yang minim dari penduduk setempat, seperti siswa sekolah dasar itu sendiri, di karenakan masih minimnya pendidikan yang seharusnya di peroleh anak sekolah dasar tersebut untuk menghadapi dan mempersiapkan ujian nasional mendatang. Alasan lain ada pada orang tua siswa, di karenakan kurangnya pendidikan yang di peroleh orang tua siswa di masa lampau, hal tersebut menyebabkan orang tua siswa sekolah dasar setempat menjadi kurang mampu membimbing anak-anaknya sendiri untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional pada saat itu.

Ketika bapak Heri dan ibu Titik kewalahan dan terdapat sekumpulan mahasiswa yang bersedia menjadi suka relawan, hal tersebut memicu komunitas ini untuk terbentuk sehingga akan lebih efektif dalam proses pengajaran untuk siswa-siswi setempat. Setelah membuat keputusan untuk membentuk komunitas ini bapak Heri dan ibu Titik pun mempercayakan kegiatan yang sudah berlangsung cukup lama ini kepada mahasiswa-mahasiswa yang bersedia menjadi pengajar sekaligus pembimbing untuk siswa-siswi setempat dan mengizinkan mahasiswa-mahasiswi tersebut untuk mengembangkannya sesuai dengan keperluan yang ada sehingga lambat laun, mulailah terbentuk keorganisasian dalam komunitas ini seperti salah satu contoh nyata yang terlihat pada saat itu adalah pemilihan ketua dan wakil ketua yang akan bertanggung jawab untuk komunitas ini, kemudian di ikuti dengan pembentukan divisi-divisi lainnya oleh ketua dan wakil ketua terpilih untuk komunitas ini. Kemudian komunitas ini di beri nama KERANG.

Demi kelancaran dan efektivitas dalam komunitas ini, pada setiap tahunnya akan diadakan proses rekrutmen baru untuk pergantian pegurus yang sudah tidak dapat aktif ataupun pengurus yang telah menyelesaikan masa kuliahnya sehingga tidak dapat membantu proses dan kegiatan di dalam komunitas KERANG ini. Proses rekrutmen pengurus baru untuk komunitas ini masih bersifat suka relawan karena sejak awal terbentuknya komunitas KERANG ini hingga saat ini, komunitas KERANG yang di dirikan oleh ibu Titik dan bapak Heri tidak pernah memungut biaya sepeserpun dari siswa-siswi didik mereka , semuanya bersifat gratis.

Dalam prosesnya, KERANG telah beberapa kali mengalami pergantian pengurus. Seperti yang terjadi beberapa Minggu yang lalu. Kerang mengalami pergantian pengurus. Ketua dan wakil ketua dipilih secara close recruitment, pemilihan ketua dikomunikasikan bersama seluruh anggota komunitas Kerang lainnya. Setelah terpilih ketua akan memilih jajarannya untuk membantu dalam proses berdinamika bersama untuk melanjutkan pengabdian di Kerang. Setelah semua terbentuk barulah dibuka open recruitment bagi mahasiswa-mahasiswi yang mau dan berminat di bidang sosial terutama dalam bidang pengajaran. Setelah selesai terbentuklah kepengurusan KERANG yang baru.

Setiap tahunnya jumlah mentor atau pengajar dalam Kerang bervariasi. Semua tergantung pada minat dan pendaftar saat open recruitment. Disisi lain untuk jumlah siswa yang terlibat setiap tahunnya bervariasi tergantung dengan kebutuhan mereka siswa-siswi sekolah dasar masing-masing, misalnya siswa kelas 6 sekolah dasar yang akan segera menghadapi ujian nasional akan lebih rutin terlibat kegiatan belajar mengajar di bandingkan dengan siswa-siswi sekolah dasar yang sedang tidak mempersiapkan ujian nasional ( kelas 1 sekolah dasar sampai dengan kelas 5 sekolah dasar).

Beberapa tahun terakhir ini, secara struktural KERANG telah dinaungi oleh fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Salah satu faktor pendukungnya adalah karena ibu Titik sebagai pendiri adalah dosen Psikologi Universitas Sanata Dharma sehingga akan lebih memudahkan proses koordinasi antara pendiri dengan pengelola yakni mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma serta mempermudah proses perizinan dana dan lain-lain. Karena perkembangan sistem pengajaran di KERANG yang terus di kembangkan dari waktu ke waktu, ibu Titik percaya dengan pengajar yang di isi dari mahasiswa-mahasiswi dari fakultas psikologi dapat lebih efektif sesuai bidangnya mahasiswa-mahasiswi sendiri. Karena proses belajar mengajar di KERANG telah berkembang hingga tahap dimana proses belajar mengajarnya tidak hanya kursus tambahan biasa untuk siswa-siswi, akan tetapi ada pendidikan karakter untuk siswa-siswi tersebut, siswa-siswi yang bergabung dengan KERANG cenderung merupakan siswa-siswi yang memiliki berperilaku yang menyimpang. Perilaku yang di maksud di antaranya seperti agresivitas yang tinggi, dan itu mencakup agresivitas secara verbal maupun non verbal. Agresivitas yang non verbal misalnya siswa yang di dampingi memiliki perilaku bersikap kasar dengan orang sekitarnya bahkan dengan fasilitator, untuk agresivitas yang verbal siswa cenderung berkata kasar dan mengumpat. perilaku tersebut bahkan tidak jarang dilakukan siswa didik kepada pengajarnya (fasilitator). Beberapa siswa juga memiliki sifat hiperaktif yakni kesulitan dalam memusatkan perhatiannya serta slow leaner dimana terdapat siswa yang memiliki keterbelakangan kemampuan untuk memahami sesuatu hal yang baru, sehingga dibutuhkan perhatian ekstra. Maka dari beberapa hal tersebut, di harapkan dengan kehadiran mahasiswa-mahasiswi psikologi yang menjadi tim fasilitator dapat membantu siswa-siswi ini untuk mengurangi perilaku menyimpang mereka, karena perilaku yang baik juga sangat menentukan kondisi seorang anak di masa depan. Tentunya ketika anak-anak mendapatkan pendidikan yang tepat serta kepribadian yang matang, mereka akan menjadi bibit unggul yang dapat bersaing dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat serta zaman modern saat ini. Tujuan dikembangkan program baru ini adalah supaya generasi bangsa kita tidak kalah saing dengan perkembangan zaman.

  1. Prestasi Komunitas

Prestasi yang di capai oleh KERANG tidaklah berbentuk piala maupun piagam. Namun prestasi yang di capai oleh KERANG terlihat dalam proses belajar dan mengajarnya serta perubahan signifikan dari siswa didiknya sendiri baik dari segi akademik maupun tingkah lakunya. Setiap tahunnya proses belajar mengajar di dalam komunitas ini berkembang cukup stabil dan mengalami peningkatan yang signifikan dari fasilitator maupun siswa didik. Dengan dukungan dari sistem serta program baru yang kini telah diterapkan dalam visi serta misi KERANG yang telah di evaluasi setiap tahunnya, hal tersebut membantu KERANG dalam meningkatkan mutu setiap individu yang di didik di sana.

Kegiatan komunitas KERANG tidak sampai disitu saja, untuk tim fasilitator dan semua pengurus juga mempunyai kegiatan lain seperti kegiatan malam keakraban untuk mendekatkan dan memperkuat hubungan antar fasilitator dan pengurus agar dapat membawa efek baik bagi komunitas KERANG sendiri. Efek baik yang dapat di rasakan dari kegiatan itu seperti koordinasi serta kerja sama yang berlangsung selama proses pengajaran berlangsung akan jauh lebih efektif, bahkan sesama pegurus dan tim pengajar lebih saling mengenal dan tidak saling merasa canggung selama proses belajar mengajar berlangsung. Adapula hal lain seperti rekreasi bersama dengan siswa-siswi didik untuk mendekatkan relasi antara fasilitator dengan siswa didiknya. Hal tersebut sangat membantu fasilitator untuk menyampaikan materi dan mengendalikan tindakan berlebih dari siswa-siswi didik. Rekreasi ini tidaklah berlangsung sampai tempat yang jauh, cukup mengajak siswa-siswi mengelilingi area sekitar Maguwoharjo. Yang terpenting dari tindakan ini adalah fasilitator dapat berinteraksi lebih dengan anak didik dan anak didik sendiri merasa nyaman untuk menerima materi setelah itu.

Jangkauan masyarakat yang dilayani oleh komunitas KERANG pada setiap tahunnya mengalami peningkatan namun masih di kembangkan di dalam lingkup Maguwoharjo dan sekitarnya, dikarenakan komunitas ini lebih memfokuskan diri untuk mengembangkan secara spesifik untuk siswa-siswi didik yang sudah terlibat sebelumnua. Bagi KERANG, memfokuskan diri untuk mencerdaskan siswa-siswi dari lingkungan kecil lebih berguna dalam mengembangkan daerah setempat tersebut sehingga daerah seperti Maguwoharjo kelak dapat mampu bersaing hingga ke skala yang lebih tinggi lagi, bahkan dapat menciptakan bibit unggul yang dapat di andalkan dalam perkembangan daerah Maguwoharjo hingga ke daerah lainnya.

  1. Tantangan

Tantangan terbesar untuk KERANG adalah peserta didiknya sendiri. Seperti yang telah di ketahui sebelumnya, siswa-siswi yang menjadi peserta didik di dalam komunitas ini memiliki kecenderungan dalam berperilaku menyimpang seperti agresivitas verbal maupun non verbal yang tinggi, hiperaktif, maupun slow leaner. Perilaku-perilaku tersebut mayoritas merupakan perilaku yang sulit di tangani dan di bimbing. Fasilitator cukup mengalami kesulitan dalam membimbing mereka, terkhusus dalam mengontrol diri secara emosional, karena tentu perilaku siswa-siswi tersebut cukup menguras emosi, dan tentunya fasilitator tetap harus mempertahankan kestabilan emosi mereka selama proses belajar mengajar berlangsung. Walaupun setelah di terapkan sistem baru untuk fasilitator yang berasal dari mahasiswa-mahasiswi program studi psikologi, tentu saja fasilitator tetap dapat merasa emosi dengan berbagai perilaku tidak baik dari siswa-sisiwi didiknya, di sisi lain mereka tetap harus berusaha membimbing dengan baik siswa-siswi didik mereka kepada perilaku yang benar. Apalagi ketika mahasiswa-mahasiswi yang berperan sebagai fasilitator untuk siswa-siswi didik di KERANG sedang tidak bersuasana hati yang baik dan di hadapkan dengan banyak tugas tetap harus memfasilitasi siswa-siswi didik dan siswa-siswi didiknya sulit di atur serta berperilaku dengan buruk.

Untuk tantangan besar lainnya, yakni kecemasan akan terjadinya kristenisasi kepada siswa-siswi didik oleh masyarakat sekitar. Prasangka buruk tersebut sulit untuk dihindari karena mayoritas dari pengurus dan tim fasilitator di dalam KERANG merupakan mahasiswa yang berkepercayaan non-Islam. Prasangka buruk tersebut mengekang komunitas ini sulit untuk berkembang secara merata di masyarakat wilayah Maguwoharjo. Padahal semakin merata KERANG dapat menjangkau masyarakat di Maguwoharjo, hal tersebut akan sangat membantu siswa-siswi yang menjadi peserta didik komunitas ini juga menciptakan bibit-bibit unggul yang sangat berguna untuk perkembangan generasi muda bangsa Indonesia yang lebih baik lagi.

Untuk mengatasi masalah tersebut ibu Titik , bapak Heri serta semua pengurus komunitas KERANG ini sepakat agar tempat yang digunakan untuk proses mengajar tidak berada pada rumah ibu Titik dan bapak Heri lagi melainkan proses belajar mengajar dilangsungkan atau diadakan pada salah satu rumah warga. Rumah warga yang digunakan tidak terlalu jauh dari kediaman bapak Heri dan ibu Titik, sehingga mereka masih terus bisa mengawasi segala kegiatan atau dinamika yang terjadi di KERANG. Tidak berhenti disitu saja komunitas ini selalu berusaha agar prasangka buruk para orang tua yang mempercayakan anaknya untuk belajar di KERANG ini merasa lebih tenang dan nyaman dengan cara-cara kecil seperti setiap proses belajar berlangsung semua siswa dibebaskan untuk berdoa sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. Bahkan para fasilitator belajar berdoa dengan ajaran Islam agar dapat mengikuti ketika siswa-siswi ketika berdoa. Hal tersebut dikarenakan mayoritas mereka beragama Islam. Adapula kegiatan belajar mengajar berhenti 15 menit sebelum kegiatan mengaji siswa-siswi dimulai, sebagai bentuk perhatian fasilitator dalam menghargai kegiatan siswa-siswi didik.

Pada komunitas ini , siswa diterima tanpa pandang bulu ataupun memandang kelas sosial mereka bahkan. Dan juga tidak dilakukan pemungutan biaya sepeserpun sehingga masyarakat yang berasal dari kalangan paling bawah sekalipun dapat memperoleh kesempatan untuk membiarkan anak mereka memperoleh pendidikan yang lebih baik lagi di dalam komunitas KERANG ini karena komunitas KERANG berkomitmen bahwa komunitas ini dapat menjadi wadah untuk para siswa-siswi yang tidak mampu dan bahkan mampu sekalipun untuk dapat semakin berkembang menjadi pribadi yang baik dan berpendidikan setinggi mungkin.

Sekilas gambaran dari proses wawancara

Ibu Titik selaku pendiri Komunitas KERANG

Ketua Komunitas KERANG – Paskal Tri

 

Sekilas proses pembelajaran

 

salah satu dari fasilitator Komunitas KERANG

 

Peserta didik dan tim fasilitator serta pengurus Komunitas KERANGC:\Users\Joni R\Desktop\Foto KWN\DSC_0325.JPG

xave96@gmail.com'

About jonirou