Komunitas Belajar “Jangkrik!”

Oleh :

Odilia Tyas Sekar Galih MAT 143114007

B. Guruh Nugroho A. MAT 143114009

jangkrik

Pendahuluan

Dewasa ini, secara kasat mata Indonesia memang sudah merdeka. Namun, pada kenyataannya Indonesia masih dijajah oleh bangsa lain. Bentuk penjajahan yang terjadi saat ini tidak lagi secara langsung seperti pada zaman kolonial, melainkan penjajahan dalam bentuk baru dan secara ‘halus’. Penjajahan bentuk baru ini disebut neokolonialisme.

Penjajahan ini terjadi diberbagai bidang, misalnya dalam bidang sosial budaya, ekonomi, teknologi, dan pendidikan. Komunitas yang kami observasi adalah komunitas yang berfokus pada bidang pendidikan. Mereka mengkritisi sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Mereka menamai komunitas ini dengan nama Komunitas Jangkrik.

Jangkrik adalah komunitas yang terbentuk secara tidak sengaja oleh mahasiswa-mahasiswa non-formal atau sederajat S2 Ilmu Religi dan Budaya Pascasarjana Universitas Sanata Dharma. Jangkrik beranggotakan 7 orang yang tergabung dalam mata kuliah Pendidikan Kritis. Saat kuliah Pendidikan Kritis, mereka terkejut dengan pendidikan yang ada di Indonesia saat ini, karena tidak sesuai dengan apa yang seharusnya. Dari situ mereka ingin menunjukkan pada masyarakat bahwa sistem pendidikan yang berlangsung di Indonesia saat ini kurang sesuai.

Kami melakukan pertemuan sebanyak tiga kali. Pada pertemua pertama, kami ikut berkumpul dengan mereka di rumah salah satu anggota, yaitu Mas Noel di daerah Jalan Monjali. Dipertemuan itu mereka membicarakan tentang tesis salah satu anggota mereka, yaitu mengapa hanya masyarakat keturunan Tionghoa yang selalu mengalami diskriminasi, mengapa tidak dengan imigran lain seperti dari India dan Arab. Perbincangan mereka sangat kritis dan mendalam, bahkan dari topik tersebut pebincangan kami sampai di zaman romawi, zaman rasul-rasul dan bahkan sampai Yesus. Memang pada malam itu belum membicarakan tentang sistem pendidikan yang ada di Indonesia, namun dari situ kami bisa melihat betapa kritisnya pemikiran mereka. Saat mengobrol, mereka nampak serius, namun ada kalanya suasana serius itu cair oleh candaan-candaan mereka.

Pertemuan kedua dan ketiga, kami memulai wawancara kami. Wawancara kami lakukan dengan santai di ruangan Campus Ministry Kampus III Universitas Sanata Dharma.

Hasil Wawancara

Komunitas Belajar “Jangkrik”

Salah satu anggota Jangkrik yang menjadi narasumber kami adalah Mas Adit. Nama lengkap Mas Adit adalah Martinus Aditya Adi. Lahir 22 November 1982. Riwayat pendidikannya, S1 Fisika Murni Universitas Sanata Dharma tahun 2002-2009. Kemudian melanjutkan pendidikan non-formal Ilmu Religi dan Budaya Pascasarjana Universitas Sanata Dharma. Mas Adit merupakan salah satu penggagas berdirinya Jangkrik.

Mas Adit kemudian bercerita bagaimana awalnya Jangkrik dibentuk. Saat semester satu di Ilmu Religi dan Budaya, Mas Adit mengikuti mata kuliah Pendidikan Kritis. Pendidikan Kritis merupakan mata kuliah pilihan, jadi tidak banyak yang mengambil mata kuliah tersebut. Dalam mata kuliah tersebut, anggota Jangkrik mendapatkan berbagai macam wacana, teori-teori pendidikan, yang membuat para anggotanya merasa ‘aneh’ antara pemahaman yang didapat di perkuliahan dengan pegalaman pribadi dalam mengikuti perkembangan pendidikan yang dialami.

Mas Adit bercerita, “Kami mendapat wacana-wacana bahwa pendidikan di Indonesia itu intinya tidak netral. Jadi ada kepentingan dalam sebuah pendidikan yang diselenggarakan, baik itu tingkat sekolah sampai pemegang kebijakan di negara, misalnya Indonesia. Punya kepentingan tertentunya dalam bidang pendidikan. Kemudian kami tertarik akan hal itu. Kami sepakat mengakhiri perkuliahan Pendidikan Kritis itu dengan Studium General atau semacam seminar. Dari persiapan-persiapan yang kami lakukan untuk seminar, mengumpulkan data-data, melakukan penelitian-penelitian, kami mendapatkan hal-hal yang begitu berbeda dengan apa yang sebetulnya pendidikan harapkan.”

Contoh yang diberikan, pendidikan itu adalah hak setiap warga negara, tapi ternyata ada beberapa pendidikan yang hanya bisa dijangkau oleh orang-orang tertentu. Seperti orang kaya misalnya, karena ia mampu bayar maka ia mendapat fasilitas-fasilitas pendidikan yang lebih baik. Berbanding terbalik dengan anak-anak jalanan yang bingung dengan pendidikannya. Dimana mereka bersekolah? Tidak ada tempat dan sarana yang memadai untuk mereka. Jadi apa yang ditulis dalam Undang-Undang bahwa “pendidikan adalah hak setiap warga negara” belum tercapai.

Dari hal-hal itu, ada beberapa teman yang kemudian ‘histeris’ tentang pendidikan da sepakat untuk berkumpul dan belajar bersama tentang pendidikan itu.

Kenapa Jangkrik?

Nama kelompok belajar ini adalah “kelompok belajar pendidikan kritis JANGKRIK!”. Mereka memilih nama “Jangkrik!” dengan alasan bahwa jangkrik adalah binatang yang meskipun tubuhnya tersembunyi, namun tetap mengeluarkan suara dengan nyaring, terus-menerus, dan konstan. Jangkrik juga bisa hidup di mana saja dan tanpa pandang bulu. Selain itu, Jangkrik adalah serangga sahabat alam yang kian tersingkir ketika melawan perusakan alam, modernisasi, yang akarnya dapat dirunut sampai globalisasi dan konsumerisme. Demikian pula dengan nasib pendidikan.

Jangkrik juga mengisi malam-malam panjang saat para pelajar belajar dan para guru menyiapkan materi esok hari. Dengan semangat itulah, mereka ingin hadir bukan untuk menghakimi terlebih memvonis; melainkan hadir sebagai teman seperjalanan yang komunikatif dan saling memberdayakan bagi para pendidik dan pemerhati pendidikan.

Terakhir, “Jangkrik!” adalah umpatan khas dan lokal dan multiguna. Umpatan tersebut bisa digunakan saat kecewa dan marah, namun juga bisa digunakan sebagai ekspresi kekaguman. Dengan demikian, secara singkat ekspresi “Jangkrik!” mengajak untuk peka, tanggap, serta menyingsingkan lengan dalam berpartisipasi di dunia pendidikan.

Tujuan komunitas ini :

  1. Untuk mengajak para pendidik, calon pendidik, pemerhati pendidikan, dan orang tua/wali murid, serta pemangku kepentingan (stake holder) dunia pendidikan untuk mengkritisi dunia pendidikan di Indonesia hingga tahap histeris, dalam terminologi empat wacana. Dengan demikian, perubahan yang terjadi diharapkan merupakan perubahan yang didorong oleh hasrat dan niat tulus, bebas dari berbagai kepentingan yang “saling berebut” kesempatan di dunia pendidikan.
  2. Memudahkan para pendidik untuk mengakses teori dan materi mengenai pedagogi kritis, serta menyederhanakan serta “membumikan” konsep-konsep tersebut dalam bahasa yang mudah dipahami pendidik.
  3. Melakukan kajian dan penelitian mengenai topik-topik seputar pendidikan kritis, baik melalui program penelitian maupun kegiatan akademik seperti seminar, lokakarya, dan sebagainya.

Neokolonialisme di mata Jangkrik

Neokolonialisme adalah bentuk penjajahan, penjajahan bentuk baru. Sekarang ini bentuk penjajahan bermacam-macam. Bahkan budaya kita pun dijajah. Maksudnya perilaku kita sehari-hari pun ikut terjajah. Neokolonialisme yang terjadi di Indonesia sebetulnya banyak. Dalam bidang pendidikan, pendidikan Indonesia lebih bercondong ke belahan bumi utara, maksudnya dunia barat. Semua literatur dan teori kiblatnya ke arah barat (utara). Teori-teori yang kita gunakan selalu mengacu kesana. Itu merupakan salah satu bentuk penjajahan. Memang kemudian kita tidak bisa untuk merubahnya, karena kita sudah terkonsep seperti itu, untuk beralih ke paradigma yang lain akan susah. Harus diakui, pendidikan dari barat (Eropa atau Amerika) adalah model atau konsep pendidikan yang paling rasional dibandingkan dengan model-model pendidikan daerah timur. Karena model pendidikan daerah barat, mereka menggunakan konsep hal-hal yang serba terukur. Sedangkan di daerah timur, lebih memakai logika mistis, jadi memang kurang bisa terukur. Dari hal itu, kemudian kita bisa mengambil arti bahwa pendidikan kita pun sebenarnya terjajah.

Dari segi ekonomi, kita sangat tergantung. Contohnya, kurs Rupiah selalu dibandingkan dengan Dollar Amerika. Pertanyaannya, kenapa Indonesia tidak indipenden saja? Kenapa masih harus dibandingkan dengan mata uang negara lain?

Dari segi teknologi, otomotif misalnya. Kenyataannya, masyarakat Indonesia selalu menggunakan kendaraan yang dibuat oleh Jepang, seperti Toyota, Honda, Yamaha, dan beberapa dari Eropa, seperti BMW, Mercedes Benz, dan masih banyak lagi. Pabrik-pabrik dari kendaraan tersebut memang ada di Indonesia, tapi ternyata yang merakit dan membuatnya adalah orang Indonesia, meskipun dengan license negara Jepang atau Eropa. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa orang-orang Indonesia yang sudah bisa merakit atau membuat kendaraan tersebut, tidak merakit atau membuat sendiri kendaraan tidak dibawah negara asing? Pertanyaan itu yang sampai sekarang belum ada jabawannya.

Dalam bidang budaya, kebudayaan adalah apa yang kita lakukan dalam keseharian. Kebudayaan ini masuk melalui media massa, entah eleltronik ataupun media cetak. Misalnya gadget yang sudah sangat familiar untuk kita, sehingga kita dapat dengan mudah mengakses ke belahan bumi yang lain. Dengan itu pergeseran budaya bisa dengan mudah terjadi di Indonesia. Contohnya, budaya April Mop. April Mop bukanlah budaya orang Indonesia, tapi orang Indonesia sering merayakannya. Kita juga mengenal hari Valentine, ternyata itu juga bukan budaya Indonesia. Memang budaya tersebut tidak salah, tapi budaya itu masuk dan kita menerima lalu ikut merayakannya.

Perilaku orang Indonesia pun sekarang ini lebih “kebarat-baratan”. Misalnya, anak muda Indonesia sekarang senang menggunakan bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia. Dari hal-hal tersebut kita bisa tau kalau kita sudah terkena dampak dari budaya negara lain. Budaya-budaya tersebut kemudian masuk ke dalam budaya sehari-hari orang Indonesia, dan secara tidak sadar orang Indonesia menerima budaya tersebut.

Bentuk penolakan terhadap neokolonialisme

Menurut narasumber kami, Mas Adit, dia juga belum mengetahui apa bentuk penolakan terhadap penjajahan neokolonialisme ini. Hal ini dikarenakan butuh pengkajian lebih mendalam tentang siapa yang diuntungkan, siapa yang dikorbankan, dan untuk kepentingan apa. Tetapi untuk masalah ekonomi dan kebudayaan yang seperti tadi dijelaskan, Jangkrik tidak berfokus dalam bidang itu. Jangkrik lebih berfokus pada penolakan dalam bidang pendidikan.

Ketika pendidikan di Indonesia dilaksanakan, timbul pertanyaan apakah ada yang diuntungkan ataupun dirugikan? Pendidikan yang dilaksanakan ini untuk kepentingan apa? Jawaban dari pertanyaan itu yang harus dicari, sehingga diketahui apa yang tidak pas dari pendidikan Indonesia saat ini. Dengan begitu Komunitas Jangkrik dapat memberitahu kepada masyarakat bahwa ada sebuah pandangan yang berbeda tentang pendidikan di Indonesia.

Kenapa pendidikan di Indonesia harus dikritisi?

Menurut Jangkrik, semua aspek atau bidang di Indonesia harus dikritisi, karena itu merupakan jalan manusia untuk mendapatkan hal-hal yang lebih maju. Supaya pendidikan ini terus berdialetik sehingga menemukan sintesa-sintesa yang baru. Misalnya, orang mengatakan jika pendidikan di Indonesia itu ketinggalan zaman karena tidak menggunakan teknologi, padahal dunia-dunia yang lain sudah menggunakan teknologi (IT) sebagai media pembelajaran, maka Indonesia harus berbenah diri. Dari situ, uncul sintesa yang baru, Indonesia harus menerapkan IT dalam pendidikan sebagai media pembelajaran.

Hal-hal seperti itu memang harus terus dikritisi, supaya harapannya bukan untuk menjatuhkan aau meremukkan, tapi itu justru membangun suatu kazanah pendidikan yang baru. Tergantung nanti pendidikan yang dikritisi bagaimana menanggapinya. Jika tidak ada tanggapan, memang percuma. Tetapi harapannya dengan kritikan ini, pendidikan bisa semakin maju dan semakin terbuka sehingga tercipta pemikiran-pemikiran baru yang lebih efisien dan lebih “memanusiakan manusia”.

Menurut Jangkrik, pendidikan di Indonesia itu memang di design untuk orang-orang yang “pintar” dalam bidang akademis. Kenapa untuk orang-orang “pintar”? Pendidikan di Indonesia selalu berjenjang, jadi untuk mereka yang “tidak pintar” akan menjadi berat untuk menempuh pendidikan tersebut. Ketika di Sekolah Dasar, saat dia tidak lulus SD dan tidak melanjutkan SMP, lalu apa yang akan dia lakukan? Mau kerja apa? Tidak akan ada yang mau menerima. Punya keterampilan? Tidak. Sekolah Dasar di Indonesia tidak memberikan pembekalan keterampilan kepada siswanya. Keterampilan tangan mungkin diajarkan di Sekolah Dasar, tapi keterampilan untuk bertahan hidup tidak diberikan di Sekolah Dasar. Sama seperti di SMP, keterampilan untuk hidup belum diberikan.

Keterampilan hidup juga tidak diberikan di SMA, yang ada adalah di SMK. Di SMK, bekal untuk hidup diberikan karena memang kejuruan. Misalnya otomotif, bisa membuka bengkel. Selain itu ada tata boga, tata busana, dan lain-lain. Tapi untuk SMA, bekal untuk hidupnya tidak ada, mau tidak mau siswa harus melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Selanjutnya, di perguruan tinggi diarahkan kepada ilmu-ilmu yang lebih aplikatif, misalnya manajemen, teknik, keperawatan, dan masih banyak lagi. Tetapi perguruan tinggi di Indonesia ini jarang sekali tentang ilmu-ilmu dasar. Ilmu-ilmu humaniora sering diabaikan. Takutnya, semakin menjamurnya itu justru kemudian semakin mencetak orang-orang yang hanya menjadi buruh ahli, seperti teknisi, ekonom, dan lain-lain, yang sebenarnya hanya ‘tukang’ tetapi berpredikat sarjana.

Harapan Jangkrik

Harapan Jangkrik adalah menyadarkan masyarakat Indonesia tentang pendidikan yang ada saat ini. Langkah awal yang diambil adalah mereka yang berelasi langsung dengan pendidikan, misalnya guru dan orang tua. Oleh karena itu, Jangkrik mulai membuat projek diskusi yang nanti akan dimuat di web, jika bagus akan dibukukan.

Apakah Kurikulum 2013 lebih baik daripada KTSP?

Jika memang betul-betul dijalankan sesuai dengan aturannya, menurut Jangkrik KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) lebih baik daripada Kurikulum 2013. Karena KTSP membuat anak-anak/siswa betul-betul belajar dari lingkungan sekitar. Kurikulum 2013 memang mirip, tetapi yang jadi masalah tetap pendampingnya, gurunya. Dulu KTSP kurikulumnya dibuat oleh sekolah, jadi SDN 1 dengan SDN 2 kurikulumnya bisa berbeda. Karena harus sesuai dengan siswa dan lingkungan siswa tersebut.

Kadang kala, masalah pendidikan di Indonesia itu sangat kompleks. Tidak hanya dari kurikulumnya saja, tetapi keudian sampai pada ‘ujung tombak’-nya, yaitu para guru. Jika gurunya saja tidak mengerti tentang kurikulum, bagaimana dengan yang akan diajar, akan tambah tidak mengerti.

Pendidikan di Indonesia itu selalu berorientasi pada jawaban, walaupun dosen-dosen kita mendoktrin kita yang penting itu adalah prosesnya. Tetapi itu mitos, karena orientasinya selalu jawaban. Narasumber kami, Mas Adit, lebih suka memberikan soal “Bagaimana kamu bisa menambah 1 dengan 1?” bukan “1 ditambah 1 sama dengan berapa?”. Itu lebih berproses daripada “1 ditambah 1 sama dengan berapa”.

Lebih diperparah lagi dengan adanya Ujian Nasional. Ujian Nasional itu ujian yang sangat memudahkan korektor dan siswa. Jika tidak bisa menjawab, hanya tinggal memilih dari pilihan yang ada. Semuanya berorientasi pada jawaban, caramu salah tidak apa-apa, yang penting jawabanmu benar. Dari situ benar, berarti ada yang salah dengan paradigma pedidikan saat ini. Lebih baik kembali ke KTSP, dan kemudian silakan guru-guru membuat soalnya sendiri sampi pada kelulusan. Itu membuat guru-guru akan lebih tahu siswanya ada pada tingkat yang seberapa, maka soal yang dibuat akan lebih sesuai dengan anak-anak tersebut.


Demikian hasil wawancara kami dengan Mas Adit, perwakilan dari Kelompok Belajar Jangkrik.

Prestasi yang telah didapat oleh Jangkrik adalah Jangkrik dapat membuat buku yang berjudul “Memperbincangkan Kurikulum 2013” dan telah mengadakan sebuah seminar tentang pendidikan. Kendala yang dialami Jangkrik sendiri adalah kedala waktu untuk berkumpul karena kesibuka masing-masing anggotanya.

Dengan adanya kelompok belajar ini, para anggota Jangkrik berharap pendidikan di Indonesia bisa dibenahi dn lebih baik lagi. Mari kita sama-sama membenahi pendidikan di Indonesia dan memajukan pendidikan!

odiliatyas@yahoo.com'

About odiliatsg