Komunitas Onthel Yogyakarta

 Bagas Sabrang Sagara (145314088) & I Wayan Sazwidka Okta Mataram (145314103)

 

Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan suatu daerah Istimewa setingkat provinsi yang berada di jawa tengah. Selama ini Yogyakarta identik dengan kota budaya, karena masih has dengan bau bau Kerajaan (Keraton), selain itu juga sering disebut sebagai kota pariwisata, tempat berkumpulnya sebuah komunitas atau kolektor, dan juga dikenal sebagai kota pelajar. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Istimewa_Yogyakarta

 

Sejarah Sepeda Onthel:

Kalau dilihat dari sejarahnya, sepeda ini pertama kali mulai banyak digunakan pada zaman Hindia Belanda . Kemudian pada tahun 1970-an keberadaan sepeda onthel mulai digeser oleh sepeda jengki yang berukuran lebih kompak baik dari ukuran tinggi maupun panjangnya dan tidak dibedakan desainnya untuk pengendara pria atau wanita. Waktu itu sepeda jengki yang cukup populer adalah merek Phoenix dari China. Selanjutnya, Sepeda jengki pada tahun 1980-an juga mulai tergeser oleh sepeda MTB sampai sekarang.

Pada tahun 1970-an secara perlahan lebih banyak digunakan oleh masyarakat pedesaan dibanding diperkotaan. Namun pada akhirnya karena usia dan kelangkaan, sepeda onthel telah berubah menjadi barang antik dan unik. Mulailah situasi berbalik, sepeda onthel yang dulunya terbuang, sekarang pada tahun 2000-an justru diburu kembali oleh semua kalangan mulai dari pelajar, mahasiswa sampai pejabat. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Sepeda_onthel.

Sepeda onthel? Siapa sih yang tidak tahu atau tidak pernah mendengar sepeda onthel? Ya, dulu sepeda ini pernah eksis pada jamannya. Sepeda Onthel atau juga disebut sebagai sepeda unta, sepeda kebo, atau pit pancal. Sepeda ini adalah sepeda standar dengan ban ukuran 28 inchi yang biasa digunakan oleh masyarakat perkotaan dan masyarakat pedesaan sampai tahun 1970-an. Sepeda onthel mengacu pada sepeda desain Belanda yang bercirikan posisi duduk tegak dan memiliki reputasi yang sangat kuat dan berkualitas tinggi. Karakteristiknya adalah dengan rantai tertutup. Dan dengan gigi yang tidak bisa diubah dan biasanya terdapat dinamo di bagian roda depan untuk menyalakan lampu. Sepeda ini juga dilengkapi Rem drum untuk pengereman.

Onthel sebagai salah satu warisan budaya Yogyakarta secara turun-temurun mampu beradaptasi secara aktif dengan unsur budaya luar yang datang dari mancanegara, sehingga perkembangannya tetap kokoh dalam kehidupan masyarakat Jogja. Proses adaptasi seni budaya ini berlangsung secara damai, harmonis, dan menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Ini terlihat eksistensi onthel yang sampai saat ini masih di pakai oleh masyarakat Yogyakarta, baik dari dalam maupun masyarakat pendatang.
Walau pun keberadaan sepeda onthel tergerus perkembangan jaman, sehingga sepeda onthel semakin terpinggirkan. Memang, daya beli masyarakat (ekonomi) yang meningkat berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan mereka untuk membeli sepeda motor. Dulu, sepeda motor adalah barang mewah yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang tertentu, tetapi sekarang tidak. Bahkan mahasiswa dan anak-anak sekolahpun merasa lebih ’gaya’ jika bersepeda motor. Anak-anak muda merasa menjadi ’kampungan’ atau ’ndeso’ jika bepergian dengan sepeda onthel.

Globalisasi ekonomi dan gaya hidup konsumerisme telah mendorong masyarakat untuk lebih memilih sepeda motor daripada sepeda onthel. Tidak hanya sebagai alat transportasi yang lebih cepat tapi juga simbol ’modernisme’.

Ketidakpedulian pemerintah menyediakan jalur khusus bagi pengendara sepeda onthel juga menjadi faktor kurang berminatnya masyarakat mengayuh sepeda ketika bepergian. Pengendara sepeda onthel terus terpinggirkan karena merasa kurang aman (safe) harus berebut jalan dengan pengendara bis, mobil pribadi dan sepeda motor.

Dalam catatan pemerintah Yogya, banyaknya pendatang terutama mahasiswa dari kota lain juga berpengaruh terhadap meningkatnya pemakaian sepeda motor sebagai alat transportasi. Hampir lapan puluh peratus masyarakat Yogya sekarang memilih sepeda motor sebagai alat bepergian.

Tentunya hilangnya budaya bersepeda onthel yang digantikan dengan sepeda motor mempunyai dampak negatif bagi masyarakat Yogya. Sumber: https://alinur.wordpress.com/2009/12/29/yogya-kembali-bersepeda-demi-lingkungan/

Paguyuban onthel Yogyakarta atau dikenal atau sering dikenal dengan nama PODJOK merupakan salah satu komunitas sepeda onthel yang ada di Yogyakarta dan sudah memiliki 1000 anggota. Berikut adalah sejarah dari komunitas.

 

Sejarah Komunitas:

Sepeda merupakan sebuah alat transportasi seharian hari. Beliau berkata bahwa para pecinta/pengguna sepeda sangat gelisah dengan adanya percepatan waktu atau yang sangat signifikan dengan adanya banyak kendaran bermotor atau mobil yang kian memacetkan jalan raya, sebenarnya beliau ingin mengembalikan jogja sebagai kota sepeda dengan tanpa adanya kendaraan modern seperti motor dan mobil. Tetapi disini juga bukan maksud kami untuk menghentikan tapi itu memang cara kami untuk mengeremnya dengan bersepeda, pada akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan komunitas Towil ini, di hari Minggu kliwon 19 November 2006 di depan pagelaran Kraton Yogyakarta. Beliau menambahkan bahwa komunitas ini memang sengaja dia buat sebagai sebuah rumah untuk menjembatani para pecinta sepeda tua. Komunitas yang dia buat ini juga unik dalam hal penampilannya dan selalu memiliki konsep dalam tiap penampilannya. Entah itu bertema perjuangan, budaya, dan lainnya agar tidak monoton.

Sepeda onthel perlu dirawat dan dilestarikan untuk merespon tantangan zaman dan majunya perkembangan seperti persoalan pemanasan global yang memicu berbagai krisis di muka bumi seperti krisis energi dan krisis kesehatan bahkan krisis mental. Dengan merawat dan melestarikan sepeda onthel ini, kita mampu mencengah penyakit alam, dan lapisan ozon tidak semakin besar, karena panyakit paru-paru merupakan dampak dari tiada pemeliharaan terhadap sepeda onthel. Di samping tidak berpolusi juga membuat tubuh kita sehat. Itulah mengapa warisan budaya seperti sepeda onthel ini perlu dan sangat penting untuk dikembangkan bagi masyarakat. Menggunakan sepeda onthel sebenarnya dengan sendirinya kita menciptakan lingkungan yang sehat. Walau ada seseorang yang tidak peduli karena ambisi pribadi. Ada seseorang yang memelihara lingkungan karena pamrih.

Saya senang sampai saat ini sepeda onthel banyak dipakai dan dicari. Artinya pelan-pelan kita sudah menyadari bahwa warisan budaya tidak hanya onthel juga akan banyak di cari orang. Warisan budaya sekecil apa pun, pada saatnya akan banyak manfaatnya baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain apalagi untuk Negara. Jadi mulai saat ini, kita seharusnya mampu melirik sesuatu yang paling terekecil di dunia ini, siapa sangka kobaran yang sederhana dapat membanjiri semesta.

Kemampuan kita untuk melihat yang lebih besar, karena kita memiliki yang sederhana dan kecil, maka sesuatu yang kecil seperti sepeda onthel sangat baik untuk perkembangan kesehatan dan kebersihan lingkungan. Menjaga lingkungan bukan hanya dengan tepukan tangan saja tetapi dari sutu pengorbanan penghuninya terutama kita sebagai generasi penerus supaya bumi kita akan menjadi lebih baik dari sekarang.

Budaya yang selama ini hanya menjadi wacana, kini menjadi makanan tubuh kita untuk memperbaiki pikiran dan tubuh, karena ketika tubuh kita sehat, tentunya pemikiran-pemikiran kita akan menjadi sehat, mungkin koruptor juga penting untuk naik sepeda onthel ke kantor agar tubuhnya tidak gemuk dan menghasilkan kebijakan yang baik dan merakyat.

Uniknya komunitas ini selalu memakai pakaian adat atau pakaian model kuno saat berkendara dengan sepeda onthel. Hal   ini dilakukan agar mereka tidak lupa atas jasa para pejuang.

 

Komunitas ini juga memiliki beberapa visi, berikut ini visi dari Komunitas Podjok yaitu:

  1. Mengembangkan niai-nilai toleransi
  1. Menghemat energi sebagai upaya untuk mengatasi global warming
  2. Mengembalikan Kota Jogja sebagai kota sepeda
  3. Membangun persatuan dan kesatuan
  4. Sebagai sarana untuk belajar bersama
  5. Mengembalikan rasa nasionalisme
  6. Meningkatkan rasa kebangsaan serta lokalitas

 

Tokoh tokoh pendirinya juga ada, mulai dari:

  1. Towil
  2. Bagus Satrio, dan
  3. Ananta Oeda

 

Perkembangan:

Dan sekarang mereka berdua kecuali Towil sudah memiliki pekerjaan lain di kota yang berbeda. Jadi, pada akhirnya beliau dan teman temannya memberikan sentuhan tentang budaya budaya bersepeda yang ramah lingkungan, menciptakan rasa toleran terhadap orang lain, menciptakan suasana yang santai dan rileks, kita juga dapat sekaligus berolah raga dengan bersepeda serta historikalnya memiliki arti yang tinggi untuk perjalanan bangsa yang besar ini untuk ditahun-tahun yang akan datang, karena Yogyakarta adalah kota sepeda. Mereka juga berusaha untuk mengajak agar masyarakat secara umum bahwa berspeda adalah jalan hidup menjadi lebih sehat, ramah lingkungan, hemat energy, membuadaya dan tidak lupa bahwa fungsi utamanya adalah untuk berolah raga, untuk sarana rekreasi dan silaturahmi, serta untuk sarana transportasi tradisional. Penggunaan sepeda yang masih dirasakan belum efektif oleh sebagian masyarakat, alasan inilah yang membuat komunitas PODJOK ini terus menggencarkan “SEGO SEGAWE” dalam kehidupan sehari hari sebagai salah satu langkah mengurangi kemacetan di kota Yogyakarta. Beliau menuturkan bahwa anggota komunitas ini juga sangat heterogen, dari usia 6 sampai 80 tahun, dari mahasiswa sampai pegawai, yang penting siapa saja yang menyukai sepeda tua.

Kegiatan rutin PODJOK yakni berkumpul setiap malam Minggu di depan Kantor Pos pusat Yogyakarta. Biasanya mereka akan bersepeda dari depan Stasiun Tugu Yogyakarta. Namun, pada hari minggu pertama setiap bulannya, mereka akan bersepeda dengan rute yang berbeda, seperti mengunjungi sebuah museum. Selain itu, PODJOK juga sering mendapat undangan dari berbagai daerah untuk ikut serta dalam sebuah kegiatan atau karnaval sepeda. Tak lupa juga beliau bercerita bahwa dia dan para anggota sering mengikuti event-event sepeda tua di luar kota seperti Solo, Kebumen, Semarang, Surabaya, Jakarta, bahkan Bali.

 

Prestasi:

Dalam hal prestasi mereka juga tidak mementingkan target harus di akui oleh pemerintah, tetapi dari komunitas paguyuban, berguyup. Podjok lebih ingin dikenal sebagai sebuah paguyuban, karena mereka lebih menekankan rasa kekeluargaan dan keberadaan Podjok dimaksudkan sebagai rumah guyub para pecinta sepeda onthel di Yogyakarta. Dalam kepemimpinannya Podjok meraih banyak penghargaan. Prestasi bagi mereka adalah mereka mampu mengadakan acara sepeda secara nasional sebanyak 4 kali yang didatangai oleh seluruh masyarakat Indonesia yang jumlahnya tidak ratusan tapi ribuan. Itu merupakan suatu prestasi. Dari ribuan pesepeda yang dating ke Yogyakarta itu otomatis menegerti tentang Yogyakarta. Dari ribuan orang yang datang ke Yogyakarta pasti tidak hanya bersepeda tetapi karena mungkin ada tingkat emosional yang berbeda entah itu pernah kuliah di Yogyakarta, memiliki saudara di Yogyakarta sampai Yogyakarta merupakan kota wisata. Jadi semua bergerak di dalamnya. Seperti berjalannya sistem ekonomi di Yogyakarta akan berjalan, entah itu dari Hotelnya, jajan tradisionalnya semua itu tercover indahnya, ini juga merupakan sebuah prestasi yang tanpa disadari ikut menggerakan sebuah system perekononomian yang sangat nyata di Yogyakarta. Walau demikian, Towil tidak menganggap perjuangan sudah selesai. Ia tak mau bersepeda hanya sebatas menjadi tren yang suatu saat berakhir. Sepeda  kayuh atau sering disebut sepeda onthel bagi sebagian orang hanya dianggap sebagai sarana alat transportasi semata. Namun bagi Muntowil(38) atau Towil, sepeda memiliki arti filosofi yang luar biasa. Sepeda onthel dipilih karena sepeda onthel diinilai memiliki nilai historis yang tinggi, abadi, dan kepopulerannya tak lekang oleh waktu. Sepeda jika dikayuh pasti akan berjalan dan rodanya berputar seperti kehidupan manusia. Di kala jalan menanjak, pemiliknya harus turun dan mendorongnya secara berlahan sedangkan di kala melewati jalan menurun, pengendaranya harus mengerem untuk mengurangi kecepatan lajunya. Gambaran itu bagi Towil seperti kehidupan manusia di mana seseorang yang ingin berkembang harus mau berusaha, rela berkorban dan di saat sudah sukses tidak boleh terlena dengan kesuksesannya. Berpegang pada filosofi itu, Towil akhirnya yakin kalau dari sepeda ini dirinya bisa memperoleh kesuksesan. Berkat keyakinannya itu, akhirnya Towil kini bisa menikmati hasilnya. Kini, dari bisnis wisata keliling desa menggunakan sepeda onthel tua ia bisa menghidupi keluarga serta memberikan lapangan pekerjaan bagi warga di sekitarnya. Baru baru ini juga kemonutias ini mengikuti sebuah kegiatan di salah satu tempat di Yogyakarta yaitu bertempat di Benteng Vendeburg, dimana kegiatan tersebut mengelilingi malioboro dengan mengendarai sepeda onthel.

 

Hambatan:

Segala sesuatu pastinya tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Di dalam komunitas ini terdapat juga hambatan hambatan yang mereka alami. Kalau kita lihat dari apa yang ada, hambatan hambatan yang pasti adalah sebenarnya bukan lah suatu hambatan tetapi karena misalnya kerabat Podjok tidak hadir bukan suatu masalah atau tidak apa apa. Mungkin mereka ada alasan tersendiri kenapa tidak hadir, seperti ada acara keluarga atau acara yang lain. Kita tidak bisa memastikan atau mengharuskan datang, karena komunitas ini adalah komunitas paguyuban, bukan suatu perusahaan. Cara penanganannya pun pasti masih menggunakan hati, dengan kesenangan karena kami menganggap kalau kami setara atau dengan suatu tingkat kebersamaan yang tinggi.

 

Apakah komunitas ini termasuk perlawanan Globalisasi atau Peberdayaan korban?

            Beliau menjelaskan bahwa yang pasti komunitas ini dibentuk adalah bentuk atau wujud dari perlawanan Globalisasi. Tujuannya adalah untuk mengerem globalisasi yang mana notabenenya bersepeda adalah sesuatu yang ramah lingkungan jadi memang secara global akan menahan atau berselisih dengan alam dan yang pasti adalah suatu gerakan untuk mengerem globalisasi.

 

Kritik dan Saran terhadap Globalisasi ?

Beliau berkata agar kita menjaga lingkungan dengan cara menanam tanaman yang hijau untuk bumi dan generasi kita selanjutnya. Pelestarian ini memang perlu sekali, pelestarian ini bisa dilakukan oleh siapa saja baik dari pribadi atau kelompok atau masyarakat dan yang pasti seluruh masyarakat Indonesia.

 

Keprihatinan terhadap Globalisasi sekarang ?

Beliau berkata, modernisasi kita biarkan tetap berjalan, kita tidak bisa mengerem moderenisasi begitu saja. walaupun begitu kita masih dapat mengeremnya dengan cara yang ramah lingkungan yang tidak dapat merusak lingkungan tentunya, yaitu dengan bersepeda. Dengan bersepeda kita dapat memberikan suatu pandangan tentang hidup sehat kepada masyarakat, dan kita juga bisa mendapatkan banyak hal dari kayuhan kayuhan sepeda ini.

 

wayansazwidka@gmail.com'

About wayanokta