Sejarah Indonesia Tahun 1950an: Dekade yang Menghilang

Oleh: Suriani

soek4

Istilah yang sering digunakan untuk periode 1950-an adalah sebagai dekade yang menghilang[1]. Hal itu karena periode sejarah tahun 1950-an itu dianggap sebagai periode yang sedikit membingungkan dalam historiografi Indonesia, karena tidak dapat dimasukkan ke dalam periodesasi sejarah Indonesia yang manapun. Periode ini menjadi sebuah periode yang sedikit di“anti”kan oleh sejarawan. Padahal banyak sekali “rahasia” dan fakta yang tersembunyi dalam periode ini.

Hakikatnya, periode tahun 1950-an merupakan periode “kunci” dalam sejarah bangsa Indonesia, karena pada periode ini terdapat banyak persoalan-persoalan yang sangat sensitive dan menarik. McVey mengemukakan bahwa membicarakan periode ini berarti membicarakan mengenai “Indonesia seharusnya seperti apa”, di dalamnya termasuk sistem politik dan juga demokrasi macam apa yang seharusnya dimiliki Indonesia, juga masalah apa itu sebenarnya bangsa Indonesia, dan bagaimana bangsa Indonesia itu lahir.

Tidak hanya masalah tersebut, masalah yang juga terkait dengan periode ini adalah defenisi kapan sebenarnya “tahun 1950-an” itu berlangsung. Feith menjelaskan bahwa periode 1950-1957 sebagai sebuah periode Demokrasi Konstitusi, tidak termasuk dalam periode Demokrasi Terpimpin pada tahun 1960-an. Jika begitu, maka periode 1950-an adalah periode sangat pendek. Adrian Vickers sendiri menganggap bahwa periode itu tidak sependek itu, ia beranggapan bahwa periode itu harus dilihat jauh sebelumnya, mulai dari tahun 1940-an sampai tahun 1960-an dan juga bisa saja sampai tahun 1968 dan 1974. Jika periode itu sepanjang seperti anggapan Vickers maka semangat membebaskan diri dari cengkraman kolonial, keinginan menyerap yang dianggap modern dan keinginan mengabdi pada pembangunan bangsa baru akan sangat mungkin tercakup dalam pembahasan periode ini.

Masih juga berkaitan dengan masalah-masalah dalam periode ini, tentang kelahiran bangsa Indonesia dan juga masalah “nasionalisme”. O’Malley mengatakan bahwa Indonesia baru lahir pada tahun 1945 atau bahkan 1949. Jika begitu maka pernyataan Geertz benar bahwa “nasionalisme” Indonesia lahir lebih dulu dibandingkan dengan negara Indonesia. Namun hal itu tentu tidak sesuai dengan pernyataan Yamin yang menganggap bahwa Indonesia sudah ada sejak masa Majapahit dan Sriwijaya, Indonesia yang terbentuk belakangan hanyalah kebangkitan kembali dari Indonesia sebelumnya itu. Selain itu, Benedict Anderson dan Kahin mengatakan bahwa asal usul bangsa Indonesia terletak pada periode kolonial, karena pada periode tersebut menghasilkan kepemimpinan nasional, dan juga kaum intelektual. Perbincangan masalah lahirnya Indonesia sebagai negara dan Indonesia sebagai sebutan atau istilah juga dibahas oleh RE. Elson dalam bukunya The Idea of Indonesia: a History.

Masalah identitas kebangsaan dan nasionalisme juga sangat menarik dalam periode ini, periode yang dimulai tahun 1940-an maksudnya, karena masa itu adalah masa-masa dimana Indonesia sebagai negara baru terbentuk. Selain itu, pada masa itu juga masyarakat pemegang kekuasaan dan perekonomian pada masa itu juga belum secara lengkap terbentuk. Sehingga kembali memunculkan persoalan siapa orang-orang yang mendirikan Indonesia? Jika membahas masalah tersebut akan memunculkan masalah elite birokrasi dan aristokrasi. Didalamnya terdapat peranan priyayi/bangsawan dalam pembentukan patron-klien yang berperan besar setelah proses revolusi Indonesia dan juga elite militer yang medominasi pada periode tersebut.

Pada periode ini, seperti yang disebutkan sebelumnya sebagai “rahasia” dan fakta yang tersembunyi, hal tersebut adalah dalam istilah saya, (maaf), sebuah borok, yaitu kegagalan proses institusionalisasi demokrasi menjadi dasar bagi ketegangan dan kekecewaan yang melahirkan penentangan. Masa Ini juga digambarkan sebagai tahun-tahun usaha yang gagal untuk menegakkan demokrasi parlementer dan tahun-tahun tegarnya dan gelisahnya daerah menghadapi usaha mempersatukan Indonesia[2]. Melalui padangan Elson dalam bukunya, kita memperoleh gambaran kelabu tentang segala perkembangan politik yang ada, dan kemudian menjadikan “ketergantungan pada pemimpin” dan “sifat para pemimpin” sebagai sumber masalah. Dengan kata lain, proyek politik Sukarno menjadi sebuah proyek gagal yang “buahnya berakhir pada banjir darah” dan juga “politik otoriter” Orde Baru[3].

Pada awal periode ini, banyak sekali pencapaian yang dihasilkan, seperti penciptaan negara modern dari bahan-bahan yang ditinggalkan oleh Belanda dan Jepang, peanggulangan utang atas penjajahan, pembentukan undang-undang dan pembentukan dan perluasan pendidikan. Namun ketika penentangan feodalisme, pelaksanaan mobilitas sosial dan penciptaan semangat kebangsaan tidak tercapai, yang muncul adalah kekecewaan akan pemimpin dan pemerintahan pada masa itu. Keadaan tersebut dimanfaatkan secara optimal oleh pihak yang mengerti, dan memunculkan sebuah bentuk kekuasaan baru seanjutnya dengan nama Orde Baru. Dan kekuasaan baru ini menutup dan mengaburkan semua pencapaian baik yang dihasilkan pada periode 1950-an tersebut.

Sampai pada kesimpulan, kesulitan pengungkapan periode 1950-an ini dalam sejarah Indonesia awalnya adalah akibat dari visi pemerintahan Soeharto mengenai sejarah yang menekankan stabilitas. Namun setelah pemerintahan Soeharto berakhir, periode ini juga tidak banyak diungkap. Padahal periode 1950-an adalah periode yang patut dilihat menurut hakikatnya sendiri sebagai periode dengan harapan-harapan yang masih belum terwujud.

SUMBER: http://clio1673.blogspot.com/2013/01/mengapa-tahun-1950-penting-bagi-kajian_10.html

________________________________________
[1] Sebutan Ruth McVey untuk era 1950-an dalam sejarah Indonesia
[2] Remco Raben. Bangsa, Daerah, dan Ambiguitas Modernitas di Indonesia tahun 1950-an dalam Antara Daerah dan Negara: Indonesia Tahun 1950-an. YOI dan KITLV : Jakarta. 2011
[3] R.E. Elson. The Idea of Indonesia : A History. New York: Cambridge University Press, 2008. hal 238

About Sastro Sukamiskin